CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM

Atis Dee Jay
Chapter #26

26. MENJADI MUALAF?

Senja menjelang. Ensia menutup pintu mobilnya dan berjalan menyusuri jalur agak sempit itu. Riuh suara anak-anak bermain dan obrolan para penghuni rumah dengan tamunya menyapa telinganya. Sinar lampu yang kontras dengan gelapnya langit menerangi bidang pandangnya. Beberapa pasang mata memandang tubuhnya lekat. Namun ia berjalan seperti seorang selebriti tak mengacuhkan barisan penggemarnya.

Ia sampai di sebuah rumah. Beberapa belas pasang sandal berserakan di halamannya yang sempit. "Mbak, selamat malam. Kina ada?" ia bertanya ke salah satu wanita yang dilihatnya di beranda.

Wanita itu tidak perlu menjawab karena saat itu juga Kina muncul dari dalam rumah.

"Ens?!" sapanya, matanya sedikit terbelalak.

Ensia menarik tangan temannya ke sebuah pojok. Dengan suara rendah ia menceritakan apa yang sedang dialaminya. Kina kelihatan tegang dan sejenak terdiam.

"Boleh ya aku ikut acara pengajian ini, Kin?" pertanyaan Ensia mencuatkan nada memelas. "Aku sudah tak tahu harus gimana....."

Kina menggenggam tangan temannya. Terasa dingin dan lemas.

"Tentu boleh, Ens . . . cumak . . . gimana ya? Lah kamu kan Kristen, Ens."

"Katolik, Kin, . . . KTP . . . lah terus, ga boleh ya?"

"Kamu yakin kamu betah dengar doa-doa bahasa Arab?"

"Kina . . . aku hanya ingin bebas dari bayangan itu . . . ya ampuuun."

Kina memberikan satu pelukan erat untuk temannya. "Yuk, masuk. Kamu duduk di ujung aja ya."

Ensia mengikuti langkah Kina masuk ke dalam. Menundukkan badannya dan mengucap kata permisi dengan santun, ia melewati beberapa belas ibu yang sudah duduk bersimpuh di atas karpet merah dan hijau tua. Beberapa tangan yang sejak tadi mengipas-ngipas membelah udara terhenti sejenak. Omongan agak riuh itu berhenti sejenak. Sekian pasang mata menghunjam mencermati Ensia.

"Teman saya, bu," Kina menjelaskan. "Ingin ikut acara kita. Semoga berkenan."

Acara dimulai. Setelah salam pembuka, pembacaan surat Yasin menyusul. Lalu mereka masuk ke sesi tahlil. Ensia menyimak lantunan ritmis berulang-ulang itu. Laa ilaaha illallah; Laa ilaaha illallah. Walau tak satupun kata ia pahami, ia merasakan satu tenaga kolektif yang entah bagaimana meredam bayangan mengerikan di kepalanya.

Lihat selengkapnya