CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM

Atis Dee Jay
Chapter #27

27. MENCARI TUHAN

Pagi beranjak siang. Kesibukan sedang makin meningkat di gudang tempat Ensia bekerja membantu ayahnya. Seorang pegawai seperti agak mengeluh melihat pesanan datang bertubi-tubi dan membuat mereka sibuk. Rekannya menimpali "yah, disyukuri aja. Jaman ekonomi sulit kayak gini masih banyak orderan datang!"

Ensia terduduk diam di kursinya. Topik pembicaraan lain dari kerumunan pegawai di sisi satunya merangsang indera pendengarannya. Mereka sedang berbicara tentang program Makan Bergizi Gratis. "Anakku lebih baik aku bawakan bekal dari rumah," kata seseorang. "Ngeri, program MBG ini; kapan hari anak temanku meninggal di sekolahnya setelah keracunan makan siang gratis."

"Sudah dikasih gratis, lho," balas rekannya "Mestinya ya dimakan. Terima kasih sama pemerintah!"

"Lha lapa makan lek ujung-ujungnya mati? Emoh!"

Ensia tersenyum dalam hati. Hmm, ia membatin. Seru juga menguping apa yang mereka bincangkan.

Ujung matanya melihat sang kakak melangkah masuk dari pintu luar.

"Eh, Ce!" sapanya. "Aku kalau mau menemui seorang Suster, enaknya di gereja atau di biaranya ya?"

Melly memandang adiknya sesaat. "Napa? Ya, lebih nyaman di biaranya. Gereja kan biasanya banyak aktivitas. Eh, kamu mau kesana?"

Ensia diam. Tangannya bergulir di ponselnya mencoba menemukan lokasi biara itu di Google Maps.

Melly memandang perut adiknya. "Kamu–"

"Buset dah, Ce!" kali ini Ensia setengah berteriak. "Aku tidak hamil! Ya ampuun!"

"Kirain . . ." sang kakak melenggang pergi.

Dua hari kemudian Ensia sudah muncul di pintu masuk sebuah biara, beberapa kilometer dari gereja yang pernah dikunjunginya. Seorang Suster muda menyambutnya. Ensia mengutarakan keperluannya dengan singkat. Sang Suster muda kembali ke dalam.

Ensia duduk di kursi kayu itu. Sayup-sayup didengarnya suara paduan suara dari dalam. Jendela kayu yang terbuka sedikit berderak tertiup angin. Dinding kuning pucat itu tanpa hiasan. Hanya sebuah salib besar tergantung di atas. Selarik angin sejuk tipis mau berbaik hati berhembus dari luar lalu singgah sebentar di ruang itu.

Langkah kaki mendekat. Pintu terkuak, dan seorang Suster muncul. Mereka beradu pandang. Sang Suster berwajah teduh, berkulit sawo matang bersih, mata lebarnya seolah sudah tahu apa yang bergolak di dalam benak Ensia. Tenang, terkendali, penuh pengertian.

"Selamat pagi. Saya Suster Faustina. Anda?"

Ensia menyebutkan namanya. "Dari Laurensiana," lanjutnya. Sang Suster mempersilakannya duduk. Ensia menceritakan masalah mentalnya dan akhirnya bayangan yang masih sering menghantuinya.

"Anda punya hubungan apa dengan pria ini?"

"Saya . . . melukainya . . . parah . . "

Suster Faustina memandangnya tajam. "Maksud Anda . . .?"

"Dia tewas, Suster."

Ensia bisa membayangkan dada Suster itu pasti seolah meledak. Namun tidak. Suster itu tetap tenang.

"Suster, saya datang kesini sebenarnya sudah setengah putus asa. Saya kemana-mana, ke gereja, bahkan ke pengajian teman saya, ke bar minum-minum, ngebut di jalan. Semata-mata supaya saya bisa . . . tak lagi merasakan kehampaan itu. Sekarang saya ada disini. Suster tahu kenapa. Bahkan sejak masuk tadi saya bisa merasakan bahwa Suster bisa langsung merasa ada yang memang sedang hancur parah dalam diri saya. Saya perlu bantuan, Suster."

Suster Faustina memperbaiki posisi duduknya. Entah bagaimana bahasa tubuhnya lebih santai. Namun ucapannya menohok.

"Anda ini Ensia yang . . . beberapa waktu yang lalu sempat dibimbing Frater Markel ya?"

Lihat selengkapnya