Ensia duduk termenung di meja kerjanya. Pegawainya berseliweran kesana kemari di sekitarnya. Satu dua sapaan mereka lontarkan kepada Ensia. Ensia bergeming, mematung di kursinya. Sampai akhirnya seorang karyawannya memandangnya dengan raut muka khawatir.
Ensia tersadar dan mengibaskan tangannya. Matanya menunduk berpura-pura membaca lembar di hadapannya.
"Nonik kok sudah ndak kuliah?"
"Skripsi," jawabnya, tak perduli si penanya bingung apa arti kata itu.
"Oh, sudah mau lulus ya?"
Ensia membuka ponselnya.
"Kin," ucapnya kepada Kina lewat Whatsapp. "Gawat! Makin aku ndak sibuk kuliah, makin sering kumat. Kamu gimana kabar?"
Beberapa lama pesan itu tak terbalas. Ensia kini merengut. Ketika kesibukan mulai meningkat dan pegawainya sibuk menjalankan tugas mereka masing-masing, Ensia baru terhenyak. Mereka bergerak tanpa komandonya. Cepat ia bangkit menuju ke Bu Ida, asistennya yang paling senior. "Ini lagi ngerjakan yang mana, bu? Kok tahu-tahu anak-anak sudah gerak sendiri?"
Bu Ida menatapnya.
"Lah tadi kami tanya beberapa kali, Nonik kayak . . . kayak diam terus gitu. Ya akhirnya kami kerjakan sendiri yang pesanan kemarin."
Ensia berusaha sekuatnya menenggelamkan dirinya ke pekerjaannya. Beberapa kali ia memeriksa persiapan pengangkutan barang di armada truknya. Tak terasa hampir dua jam berlalu. Beberapa angka nominal masuk ke rekening bank nya. Dia memandang angka-angka itu dengan tatapan datar. Tangannya membuka chat Whatsappnya. Wajahnya kontan runtuh ditelan murka dan kecewa.
"Kin!" tulisnya lagi. "Kamu ngapain aja sih? Sibuk amat!"
Beberapa saat ia menunggu. Tak ada balasan. Ia berdecak keras. Baru juga ia letakkan ponselnya ke mejanya, balasan datang dari Kina.
"Hai, Ens! Sori, lagi sibuk ngurus anak-anak ini. Kenapa?"
"Ya gak papa. Pingin ngobrol aja. Lama amat sih?"
"Hayoo, kamu kangen aku kaan??"
"Ndak juga. Kan cuma tanya kabar?"
"Iyaa, tapi kamu kok marah hayo waktu aku njawabnya lama. Pasti kamu kangen aku kaan?"
Ensia mendecakkan lidahnya. Jarinya cepat membalas. "Iya, kangeeen! Dah, puas??!"
Akhir minggu datang. Ensia sudah duduk di belakang kemudi Honda Jazznya. Kina di sampingnya. Berdua mereka menyusuri jalan ke luar kota, ke daerah Selatan kota. Ensia memainkan musik favoritnya. Lagu fusion jazz memenuhi kabin. Kina mengerutkan kening. "Lagu apa ini, Ens? Selera musikmu berubah? Biasanya kamu suka pop dan slow rock?"
"Ganti dah sesuka kamu."
Kina mematikan musik, lalu sibuk mencari stasiun radio FM. Beberapa saat jarinya bergerak-gerak memilih saluran. Lalu sampailah ia pada satu alunan musik campur sari. Ia mengangguk-anggukan kepalanya seiring alunan lagu. Wajahnya mulai berbinar.
"Ini lagu apaa, Kiin?!" kali ini Ensia tak tahan berkomentar. "Lagu khas orang miskin inii! Ganti ah!"