CADAS KARANG DI BAWAH TEBING CURAM

Atis Dee Jay
Chapter #29

29. BOLEH KAMI FOTO ANDA?

Ensia masih menjalankan mobilnya dengan cepat. Pandangannya lurus ke depan, raut mukanya tegang namun Kina bahkan masih bisa melihat seulas senyum tipis di bibirnya.

"Aku tidak mau mati kecelakaan, Ens!! Ayo pelankan!"

Truk lambat di depan. Kaki kanan Ensia menjejak rem. Gerahamnya terkatup erat dan suara geram dari mulutnya tak teredam.

"Kin," Ensia berucap. "Mati adalah mati. Mau mati kecelakaan atau mati gantung diri sama aja. Mati!"

"Ndak mau!!" sahut Kina berteriak. "Gila kamu, Ens! Iya kalau langsung mati, kalau luka parah? Kalau koma sampai berbulan-bulan, gimana??"

"Katanya kamu pernah ingin mati, Kin? Ayo kita mati ber–"

"Iyaa, tapi tidak begini caranyaaa!! Ayo, Ens, lambatkan!!"

Kina mulai menangis, menutup mukanya dengan tangan dan terisak-isak. Ensia seketika melambatkan laju Hondanya dan perlahan menepi ke pinggir jalan yang agak lebar. Mobil berhenti.

"Kamu kenapa, Ens?" tanya Kina. "Kamu membuat aku shock! Di awalnya kayak ceria dan asik, tau-tau ngajak bunuh diri bersama! Aku ngeri–"

Kina tak sempat melanjutkan ucapannya karena Ensia sudah keburu memeluknya erat sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Maaf, maaf, Kin," ujarnya terbata-bata. "Iya, emang salahku. Ndak seharusnya kayak gini walau aku sedang kumat. Maaf ya...." Ia memeluk Kina makin erat dan mengecup wajahnya sekilas.

Ensia kehabisan kata. Ia hanya memandang wajah Kina dengan pilu. Air mata berleleran di pipinya. Ensia menatap butir-butir air itu bergulir menuruni pipi Kina.

"Kamu tahu, Kin?" katanya dengan suara tercekat. "Aku juga sangat sedih dan galau. Perasaanku hancur lebur, tapi . . . tapi aku bahkan tak bisa menangis lagi!"

Kali ini Kina berkerut kening. Tangannya terangkat dan meraba wajah temannya. Ensia menggeleng. "Tuh kan?" bisiknya. "Aku gak bisa nangis, Kin!"

Mereka beranjak dari bangkunya masing-masing dan berdiri sejenak di luar melemaskan badan dan meluruskan kaki. Ensia menawarkan sebotol minuman dingin dan Kina menyambutnya. Mereka menghirup minumannya dalam hening. Beberapa kendaraan melaju cepat melewati mereka, menyemburkan deru, debu, dan asap.

Beberapa saat kemudian, keduanya sudah melaju kembali dengan mobil Ensia. Ensia mengemudikan mobilnya dengan tenang. Garis pantai mulai kelihatan di kejauhan. Kina beberapa kali berdecak kagum melihat keindahan pantai selatan makin terkuak di matanya.

Mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah restoran baru dengan halaman latarnya menghadap ke alam pantai. Cukup banyak orang sedang mengunjungi tempat yang memang nyaman dan elok itu.

Ensia dan Kina memesan menu spesial restoran itu dan segelas juice jeruk. Mereka mengunyah sajian itu dengan lahap.

"Konon orang kayak kita nafsu makannya besar," ucap Kina. "Gak salah juga sih."

"Lha kalau makan pagi cuma buah sama susu ya pasti lahap nya," balas Ensia, tersenyum. "Eh, tapi itu bener. Aku juga suka makan. Tapi untung ndak gemuk yah? Kamu juga cenderung kurus."

"Dagingnya habis dimakan . . ." Kina menyahut lalu membiarkan ujarannya tergantung di udara.

"Kerupuknya enak," celoteh Ensia, suara giginya menggilas panganan itu terdengar nyaring. "Tambah yuk!"

Sejurus kemudian, mereka sudah duduk termenung di kursinya masing-masing. Kina mengambil ponselnya, menenggelamkan diri ke lautan pameran di media sosial. Ensia duduk tenang, diam-diam melakukan kebiasaan yang ia suka: mengamati suasana sekitar tanpa ketahuan bahwa ia sedang mengamati suasana sekitar.

"Kin," ujarnya beberapa saat kemudian. "Kita jualan yok? Jualan jasa foto. Tuh lihat, banyak yang mulai berpose di beberapa spot, tapi susah payah ngatur posenya."

Kina memandang heran. "Gimana caranya?"

Ensia membisikkan gagasannya. Kina manggut-manggut walau masih agak ragu.

Lihat selengkapnya