“Ji Ah-ya, ingatlah kata-kataku. Kamu bukan alasan kehancuran siapa pun. Kamu adalah alasan kenapa eonniku mempertahankanmu hingga kamu lahir ke dunia. Eonni selalu bilang dia ingin memperkenalkanmu kepada dunia yang indah, tetapi eonni pergi terlebih dahulu dan kamu harus merasakan hal seperti ini. Jika kamu ingin, kamu bisa tinggal bersama kami. Walau bagaimanapun, kamu adalah keponakanku. Bagi kami, kamu adalah satu-satunya peninggalan eonniku di dunia ini yang sangat bernilai karena eonni mempertahankanmu dan lebih memilihmu untuk hidup. Samchon tahu seberat apa kehidupanmu, samchon ingin meminta maaf karena kamu merasakan penderitaan yang seharusnya tidak pernah kamu rasakan” kata Tae Hwan.
Ji Ah menunduk, jemarinya mencengkram sudut album foto itu kuat-kuat, suaranya bergetar saat ia mulai berbicara “Samchon…” kata Ji Ah. Ia menarik napas dalam-dalam dan berbicara “Aku bahkan tidak pernah benar-benar mengenal eomma” kata Ji Ah sambil menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak ingat suaranya, aku tidak ingat wanginya dan aku tidak ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh eommaku sendiri. Semua orang bilang eomma sangat hangat, tapi aku hanya bisa membayangkannya” kata Ji Ah. Tangan Ji Ah bergerak menyentuh foto ibu nya, dia mengangkat wajahnya perlahan menatap Tae Hwan “Eomma meninggal saat melahirkanku, kan? Berarti bahkan sebelum aku membuka mata untuk pertama kali, eomma sudah pergi?” tanya Ji Ah.
“Aku sering berpikir, saat eomma menggendongku untuk pertama kalinya apakah eomma sempat memelukku? Atau eomma sudah terlalu lelah dan pergi?” tanya Ji Ah. Ji Ah menarik napas panjang, dadanya naik turun tak beraturan “Samchon tahu tidak? Satu-satunya hal yang benar-benar aku inginkan di dunia ini…” Ji Ah berhenti, suara nya hampir tidak terdengar “Aku hanya ingin memeluk eomma, sekali saja. Kalau aku diberi satu kesempatan, satu detik pun tidak apa-apa. Aku ingin mengatakan terimakasih, terimakasih karena sudah memilihku dan mempertahankanku sampai aku lahir. Aku juga ingin meminta maaf, maaf karena aku hidup tapi eomma tidak dan aku tumbuh tanpa bisa memanggil eomma dengan suara yang keras” ucap Ji Ah. Ji Ah mengusap air mata nya “Kalau aku bisa bertemu eomma sekali saja, aku ingin memeluknya sekuat tenaga. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh orang yang melahirkanku” kata Ji Ah sambil menutup mata. “Aku ingin eomma tahu, walaupun aku tidak pernah mengenalnya tapi aku sangat merindukannya setiap hari” kata Ji Ah.
Tae Hwan terdiam lama, pandangannya tidak langsung tertuju kepada Ji Ah melainkan kepada album foto di tangan Ji Ah. Matanya mulai memerah, napasnya berat seolah kenangan lama kembali menekan dadanya. “Ji Ah-ya” ucap Tae Hwan, suara nya rendah dan nyaris bergetar. “Kamu tahu…” Tae Hwan menghela napas panjang berusaha mengumpulkan kekuatan. “Eonniku adalah orang yang paling keras kepala yang pernah aku kenal. Dokter bilang kondisinya berbahaya, mereka bilang dia harus memilih. Dia bisa selamat atau memilih kamu. Tanpa ragu dan tanpa berkonsultasi dengan Appamu, eonni langsung memilih dan mengatakan tolong selamatkan anakku” kata Tae Hwan sambil menoleh ke Ji Ah. “Eonni tidak pernah bertanya apakah hidupnya masih panjang, dia tidak pernah bilang takut dan yang dia pikirkan hanya satu hal yaitu bagaimana caranya supaya kamu bisa membuka mata di dunia ini dan melihat dunia ini” kata Tae Hwan sambil mengusap wajahnya perlahan. “Ketika kamu lahir, kondisi eonni sudah sangat lemah. Tapi ketika mendengar suara tangisanmu, eonni tersenyum. Ji Ah-ya, itu adalah senyum paling indah yang pernah kulihat selama aku hidup. Eonni tidak sempat menggendongmu lama tapi aku ingat dia sempat menyentuh pipimu dan eonni mengatakan anakku yang cantik” kata Tae Hwan, air mata nya akhirnya jatuh. “Jadi jangan pernah berpikir eonni tidak memelukmu. Pelukan itu singkat, tapi itu adalah pelukan yang mempertaruhkan seluruh hidupnya. Kamu bukan alasan kepergiannya, kamu adalah alasan terakhir dia bertahan” kata Tae Hwan. Tae Hwan mendekat lalu menarik Ji Ah ke dalam pelukannya “Kalau suatu hari kamu bisa bertemu eonni lagi, aku yakin eonni akan memelukmu lebih erat” kata Tae Hwan.
Tae Hwan mengusap kepala Ji Ah dan menyuruhnya tidur “Ji Ah-ya, sekarang sudah malam. Kamu capek karena habis nangis” kata Tae Hwan. Ji Ah menatap Tae Hwan, matanya masih sembab “Baik, samchon. Selamat malam” kata Ji Ah. Tae Hwan mengantar Ji Ah segera berjalan masuk ke dalam kamar membawa album foto yang masih berada dalam genggamannya. Ji Ah menarik selimut dan mulai tidur, Tae Hwan mematikan lampu dan menutup pintu kamar. Di lorong yang remang, So Min berdiri terpaku. Tangan kanannya menutup mulutnya, matanya basah dan dadanya naik turun menahan tangis. So Min masuk ke dalam kamarnya bersandar di pintu. “Ji Ah-ya, ternyata kamu sangat merindukan Gyeo Wool” kata So Min. “Gyeo Wool-ah, anakmu tumbuh dengan rindu yang tidak bisa dia ungkapkan. Eomma terlalu sibuk sampai lupa bahwa dia juga butuh tempat untuk menangis” kata So Min.
Cahaya matahari masuk melewati jendela ruang makan memantul di meja kayu yang tertata rapi. Aroma sup hangat dan nasi yang baru matang memenuhi ruangan. Ji Ah duduk di kursinya mengenakan seragam sekolah dengan rambut yang diikat rapi, tangannya memegang sendok tapi gerakannya agak lambat. Matanya masih sedikit sembab karena tangisan semalam. So Min berdiri sambil menuangkan sup ke mangkuk Ji Ah “Habiskan ya, kamu butuh tenaga untuk belajar” kata So Min. “Iya, halmeoni” jawab Ji Ah. So Min berhenti sejenak menatap cucunya lebih lama dari biasanya. “Ji Ah-ya, nanti sore halmeoni menjemputmu ke sekolah ya” kata So Min. “Kenapa?” tanya Ji Ah, matanya berbinar dan penasaran. So Min meraih tangan Ji Ah dan menggenggamnya erat “Karena halmeoni ingin mengajakmu ke tempat yang sangat special” jawab So Min. “Oke” jawab Ji Ah sambil tersenyum.
Ryu Jung berdiri di balik counter, rambutnya diikat rapi, dia memakai apron coklat tua. Tangannya bergerak cekatan tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak terlihat. “Pagi, noona” sapa Jin Woo yang sedang berdiri di dekat mesin kopi. Senyumnya cerah seperti biasa, ia sedang menggiling biji kopi dengan hati-hati seolah setiap cangkir adalah karya seni. “Pagi, Jin Woo-ya” kata Ryu Jung. Di dekat jendela, Min Ji sedang menata meja. Gerakannya perlahan dan penuh perhatian memastikan setiap sendok sejajar. “Eonni, hari ini keliatannya bakal cerah” kata Min Ji pada Ryu Jung. “Iya, semoga aja” jawab Ryu Jung.
Di sudut cafe, Tae Young duduk di depan kanvas. Kuasnya bergerak perlahan, warna-warna lembut mulai membentuk sesuatu yang abstrak yaitu sebuah sosok kecil yang sedang berdiri di antara cahaya dan bayangan. Tangannya gemetar sedikit tetapi matanya fokus seperti sedang menuangkan sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Ji Eun duduk sambil menyeruput teh hangat “Hari ini bau teh nya sangat enak, membuatku ingin bersantai lebih lama” kata Ji Eun. Ha Neul berdiri diam dan tiba-tiba bergumam “Kerinduan itu sudah terlalu berat” gumamnya pelan.
Ruang kerja Kang Joo Hyuk terasa dingin. Dinding kaca tinggi, meja kerja besar berwarna gelap, layar monitor menyala dengan grafik dan laporan yang terus bergerak. Joo Hyuk duduk tegak di kursinya, tangannya bergerak depat di atas tablet sambil menandatangi beberapa berkas. “Tunda proyek busan, anggarannya alihkan ke divisi pemasaran dan tidak ada diskusi” kata Joo Hyuk. “Baik” jawab Ha Joon sambil mencatat. Ketukan pintu terdengar, “Masuk” jawab Joo Hyuk tanpa menoleh. Pintu terbuka, Joo Hyuk terdiam. Di ambang pintu berdiri ayahnya Kang Joo Hyun, disampingnya ada ibunya Yoon Eun Hee melangkah masuk dengan senyum hangat yang kontras dengan atmosfer ruangan itu. “Appa? Eomma? Kenapa kesini tanpa janji?” tanya Joo Hyuk berdiri. “Kami hanya ingin bicara, kamu sulit ditemui” jawab Joo Hyun. Ha Joon menunduk sopan “Kalau begitu saya keluar” kata Ha Joon. “Tidak, kamu tetap disini” kata Joo Hyuk. “Ada apa?” tanya Joo Hyuk.
Eun Hee duduk terlebih dulu menatap Joo Hyuk dengan mata penuh kekhawatiran “Joo Hyuk-ah, sudah berapa tahun kamu hidup seperti ini?” tanya Eun Hee. Joo Hyuk mengela napas “Aku tidak ingin membahasnya” jawab Joo Hyuk. “Kami sudah memikirkan sesuatu, appa dan eomma ingin kamu bertemu seseorang dan kencan buta. Perempuannya baik dan latar belakangnya jelas” kata Joo Hyun. “Apa? Kencan? HAHAHAHAHA” jawab Joo Hyuk sambil tertawa. “Ini sudah cukup lama, Joo Hyuk-ah. Kamu sendirian, begitu juga Ji Ah” kata Eun Hee. “Jangan bawa nama anakku!” bentak Joo Hyuk. Joo Hyun mengerutkan kening “Ini demi masa depanmu” kata Joo Hyun. “Masa depan? Appa datang ke kantor ini, ke ruang kerjaku dan bicara soal masa depan seolah-olah masa lalu tidak pernah terjadi?” tangan Joo Hyuk mengepal. Eun Hee berdiri “Joo Hyuk-ah, kami hanya khawatir” kata Eun Hee.
“Khawatir? Sekarang kalian khawatir?” kata Joo Hyuk. “Kalau hari itu appa tidak menahan aku di ruang rapat yang tidak penting” kata Joo Hyuk, suaranya meninggi. “Joo Hyuk!” potong Joo Hyun. “Kalau appa tidak bilang CEO tidak boleh meninggalkan tanggung jawab, aku akan pulang lebih cepat. Aku ada di sana. Seharusnya, aku bisa pulang dan jika itu terjadi maka aku bisa menyelamatkannya” kata Joo Hyuk. “Kalian tahu apa yang menyakitkan?” Ia menatap Joo Hyuk. “Bukan kematiannya, yang paling menyakitkan adalah mengetahui dalam kondisi itu dia lebih memilih anak kami, bukan aku! Biasanya, suami yang harus memilih kan? Tapi aku bahkan tidak diberi kesempatan itu, karena aku terjebak disini. Karena aku lebih mendengarkan appa” kata Joo Hyuk dengan suaranya yang mulai bergetar. “Itu bukan salah appa, Joo Hyuk-ah. Itu tanggung jawabmu” kata Joo Hyun. “Kalau bukan salah appa, jangan datang dan bilang aku harus menggantikan istriku dengan perempuan lain. Aku tidak butuh kencan, aku juga tidak butuh pengganti. Dan aku tidak butuh dikasihani, aku hanya butuh satu hal. Aku hanya butuh waktu untuk kembali dan menyelamatkan istriku” kata Joo Hyuk. “Joo Hyuk-ah” kata Eun Hee sambil terisak pelan. “Tolong, keluar dari ruanganku sekarang” kata Joo Hyuk. Joo Hyun menatap anaknya lama, tanpa berkata apa-apa ia berbalik. Eun Hee menatap Joo Hyuk “Maafkan eomma” kata Eun Hee, mereka berdua segera keluar dari ruangan. Pintu tertutup, Joo Hyuk terdiam dan kembali duduk sambil mengusap air mata nya.
Sore itu, halaman depan sekolah mulai lengang. Siswa-siswi satu persatu dijemput, Ji Ah berdiri di dekat gerbang matanya sibuk mencari mobil neneknya. Lalu sebuah mobil berhenti tak jauh darinya “Ji Ah-ya!” kata So Min. Ji Ah menoleh cepat “Halmeoni” kata Ji Ah. Ia berlari kecil menghampiri So Min yang sudah turun dari mobil, So Min membuka pintu mobil sambil tersenyum lembut “Capek?” tanyanya. “Enggak” jawab Ji Ah. Ji Ah masuk ke mobil, di sepanjang perjalanan ia terus bertanya kemana mereka akan pergi. “Halmeoni, kita mau pergi kemana?” tanya Ji Ah. So Min tersenyum sesekali menjawab “Nanti kamu lihat sendiri” jawab So Min. Mobil pun berhenti di sebuah kawasan yang tenang, tidak ramai dan banyak pepohonan. “Kita sampai” kata So Min. Ji Ah turun dan menatap sekeliling “Ini bukan rumah” kata Ji Ah. So Min mengangguk dan menjawab “Bukan”. Mereka berjalan melewati jalan setapak kecil hingga sampai di sebuah ruangan yang hangat. Jendela-jendela nya lebar, dengan tirai putih yang menggantung. So Min membuka pintu, “Apa ini?” tanya Ji Ah. So Min menarik napas lalu berkata dengan suara yang sangat lembut “Ini tempat eommamu menulis” jawab So Min, Ji Ah terdiam. Ia masuk perlahan ke dalam.