Di ruang tengah, suasana sudah jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. So Min berdiri perlahan dari kursinya. Joo Hyuk masih duduk di tempatnya, gelas soju di tangannya kini hanya tersisa sedikit. Wajahnya lebih tenang, tapi matanya masih menyimpan sesuatu yang belum selesai. “Joo Hyuk-ah,” panggil So Min lembut. Joo Hyuk mengangkat wajahnya. “Aku akan pulang malam ini,” lanjut So Min. Joo Hyuk terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.“Iya.” Jawabnya. So Min menatapnya lebih lama “Jaga dirimu dan Ji Ah.” Kata So Min. Joo Hyuk tidak langsung menjawab, tangannya menggenggam gelas itu sedikit lebih erat “Aku akan berusaha” jawab nya.
So Min tersenyum tipis, ia melangkah mendekat, lalu mengusap pelan bahu menantunya. “Tidak perlu sempurna, Joo Hyuk-ah. Aku yakin kamu pasti bisa, cobalah perlahan-lahan menerima kehadiran Ji Ah” kata So Min. Joo Hyuk menunduk, untuk pertama kalinya ia tidak membantah. So Min berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Tatapannya lembut tapi penuh harapan. Lalu pintu tertutup pelan, rumah itu kembali sunyi.
Di sudut cafe, Tae Young masih duduk di depan kanvasnya. Lukisan hari ini hampir selesai, tapi kuasnya terhenti di udara. Tatapan matanya kosong tapi dalam. “Bukan lelah fisik,” katanya pelan tanpa menoleh. “Ini seperti membawa perasaan orang lain terlalu lama.” Semua terdiam mendengarnya, karena mereka tahu itu adalah perkataan yang benar. Ji Eun berjalan pelan sambil membawa teko teh, ia menuangkan ke beberapa cangkir. “Minum dulu,” katanya. “Walaupun tidak benar-benar menghilangkan lelah setidaknya bisa membuat hati lebih ringan.”. Min Ji mengambil cangkir itu dengan dua tangan, “Terima kasih, eonni” kata Min Ji sambil tersenyum. Jin Woo duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke counter. “Lucu ya, waktu masih hidup aku pikir capek itu cuma karena kerja keras. Ternyata, memahami orang lain juga melelahkan” katanya sambil menatap langit-langit sambil tertawa kecil.
Ruang itu kembali hening, tetapi dari pintu belakang terdengar langkah pelan. Ryu Jung masuk, ia sudah melepas apron-nya. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya terlihat tenang seperti biasa tapi matanya terlihat lelah. “Kerja bagus hari ini,” katanya pelan. “Unnie…” Min Ji menatapnya. “Kamu pasti paling capek.”. Ryu Jung tersenyum “Aku baik-baik saja” Jawaban yang terlalu cepat. Jin Woo mengangkat alis sedikit. “Kamu selalu bilang begitu.” Ryu Jung tidak menjawab, Ia berjalan ke tengah cafe, melihat sekeliling. Kursi-kursi yang tadi penuh sekarang kosong. Cangkir-cangkir yang tadi hangat, sekarang dingin. “Tapi hari ini sangat menyenangkan. Sudah lama kita tidak melihat manusia datang sebanyak ini, bukan untuk menangis dan bukan juga untuk berpamitan” katanya pelan. Min Ji tersenyum tipis. “Iya, aku setuju” kata Min Ji. Tae Young akhirnya menurunkan kuasnya. “Kadang aku lupa bagaimana rasanya tempat ini saat penuh kehidupan,” katanya pelan.
Ji Eun duduk di kursi, menyeruput tehnya. “Dan kalian mengira itu tidak melelahkan? Menjadi tempat di mana orang-orang merasa nyaman itu tanggung jawab yang berat ” katanya dengan nada sedikit bercanda. Ryu Jung menatap ke arah jendela, langit malam terlihat tenang. “Aku hanya ingin tempat ini tetap jadi tempat yang hangat untuk siapa pun.” Kata Ryu Jung. Jin Woo tersenyum. “Dan kamu selalu berhasil” kata Jin Woo. Ryu Jung menggeleng pelan. “Tidak selalu.” Jawab Ryu Jung. Min Ji menatapnya penuh perhatian “Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, unnie.” Kata Min Ji. Ryu Jung terdiam, kalimat itu terlalu sering ia dengar tapi tetap sulit diterima. “Aku hanya tidak ingin ada yang merasa sendirian saat mereka datang ke sini” kata Ryu Jung.
Tae Young akhirnya bicara lagi. “Kalau begitu, siapa yang memastikan noona tidak sendirian?” tanya Tae Young. Ryu Jung langsung terdiam, tidak ada jawaban. Jin Woo menatapnya, kali ini lebih serius. “Kamu selalu mendengarkan semua orang, selalu memahami semua orang dan selalu ada untuk semua orang. Tapi kamu tidak pernah benar-benar bilang apa yang kamu rasakan” kata Jin Woo. Min Ji mengangguk pelan. “Iya” kata Min Ji, Ji Eun tersenyum tipis, “Bahkan orang yang paling kuat pun butuh tempat untuk bersandar. Ryu Jung-ah, sekarang kamu punya kami semua. Berbagilah beban yang kamu rasakan, kami akan membantumu dan mendengarkan apa yang kamu rasakan” pinta Ji Eun. Ryu Jung menunduk sedikit, untuk pertama kalinya ia tidak langsung membela dirinya.
Di dalam Cafe Cheongbaram, lampu hanya menyisakan cahaya hangat yang redup. Mereka semua masih duduk, sampai terdengar suara tok… tok… tok… Suara ketukan terdengar dari pintu depan, semua langsung terdiam. Jin Woo mengangkat kepalanya perlahan dan bertanya “Kalian dengar itu?” tanya nya. Min Ji menegang sedikit, “Tapi kita kan sudah tutup” jawab Min Ji. Tok… tok…tok… Ketukan itu terdengar lagi.
Ryu Jung langsung berdiri, ekspresinya berubah terlihat lebih serius seperti seseorang yang tahu bahwa ini bukan ketukan biasa. Ia berjalan menuju pintu, tangannya menyentuh gagang lalu berhenti sejenak. Dan pintu dibuka, di sana berdiri seorang wanita. Wajahnya pucat tapi cantik, matanya merah bukan karena marah tapi karena terlalu lama menahan sesuatu. Wanita itu menatap Ryu Jung, matanya langsung berkaca-kaca. “Aku…” suaranya bergetar. “Aku tidak tahu harus ke mana lagi.” katanya. Ryu Jung tidak bertanya banyak, ia hanya membuka pintu lebih lebar “Masuklah.” Kata Ryu Jung. Wanita ini melangkah masuk, Min Ji langsung berdiri “Silakan duduk” kata Min Ji. Wanita ini segera duduk, tangannya di genggam erat di pangkuannya. Jin Woo memperhatikan dari jauh. “Energinya berat banget” gumam Jin Woo pelan. Tae Young menatap tanpa bicara, seolah bisa melihat luka yang tidak terlihat.
Ryu Jung duduk di depan Sang Hee, tatapannya melembut. “Apakah kamu mengingat siapa namamu?” tanya Ryu Jung. “Namaku Heo Sang Hee.” jawab Wanita itu. “Kenapa kamu belum bisa pergi?” tanya Ryu Jung. Sang Hee menggigit bibirnya, air matanya langsung jatuh “Aku tidak bisa pergi dalam keadaan seperti ini” jawabnya. Min Ji mendekat sedikit, “Seperti apa?” tanyanya lembut. Sang Hee menunduk. “Perasaan bersalah” jawabnya. “Aku meninggal karena sakit” ia menarik napas berat, tangannya mulai gemetar. “Tapi itu bukan yang membuatku bertahan di sini” katanya. Ryu Jung menatapnya dalam, “Lalu?” tanya nya. Sang Hee mengangkat wajahnya “Aku meninggalkan sahabatku, dia Jang Yeon Ha. Dia selalu kuat, selalu rasional dan selalu menjadi tempatku bersandar” jawab Sang Hee, suaranya bergetar saat menjawab pertanyaan Ryu Jung.
“Dan saat aku sakit”, Ia berhenti menjelaskan dan menutup mata. “Kami bertengkar. Aku bilang dia tidak mengerti aku, aku bilang dia terlalu dingin dan terlalu logis. Padahal dia hanya takut kehilangan aku, karena hanya aku sahabat nya. Aku pergi dari rumah sakit hari itu dengan marah. Dan itu adalah terakhir kali aku melihatnya. Aku tidak sempat minta maaf dan aku juga tidak sempat bilang kalau aku sebenarnya takut. Aku tidak bisa pergi selama dia masih berpikir kalau aku membencinya” ucap Sang Hee.
Ryu Jung perlahan mengangguk seolah mengerti. “Dan sekarang?” tanyanya pelan. Sang Hee menatapnya penuh harap “Aku ingin dia tahu kalau aku tidak pernah marah. Aku ingin berpisah dengannya dalam keadaan berbaikan, aku tahu dia pasti sedih karena aku sudah tidak ada di dunia ini. Selama ini, kami adalah sahabat yang sudah bersama sejak kami duduk di Sekolah Dasar. Aku tahu Yeon Ha pasti sangat kehilangan” jawabnya. Ryu Jung sedikit mencondongkan tubuhnya “Di mana keberadaan Jang Yeon Ha-ssi?” tanya Ryu Jung. Sang Hee mengusap air matanya, “Dia masih hidup dan bekerja di firma hukum Han & Associates Law Firm” jawab Sang Hee.
Ryu Jung mengangguk pelan, “Kalau begitu, kita bantu kamu menyampaikan pesan itu” jelas Ryu Jung. Sang Hee langsung terdiam penuh harap “Benarkah?” tanya nya. Ryu Jung tersenyum “Cafe ini bukan hanya tempat untuk beristirahat, tapi juga tempat untuk menyelesaikan hal-hal yang belum selesai” jawab Ryu Jung. Min Ji tersenyum, Jin Woo bangkit dari duduknya, Tae Young menatap kanvasnya lagi seolah sudah tahu apa yang akan ia lukis berikutnya, Ji Eun menyeruput tehnya dengan tenang.
Keesokan paginya, cahaya matahari masuk ke ruang makan. Meja sudah tertata rapi. Ji Ah duduk di kursinya, rambutnya diikat rapi. Buku milik Gyeo Wool tidak ia bawa ke meja tapi pikirannya jelas masih di sana. Di seberangnya Joo Hyuk duduk tegak seperti biasa. Tidak ada yang bicara, hanya suara sendok menyentuh mangkuk.
Joo Hyuk melirik sekilas ke arah Ji Ah, hanya satu detik lalu kembali makan. Ji Ah juga sama, beberapa kali ingin bicara tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya Ji Ah memulai percakapan “Appa” panggil Ji Ah. Suara Ji Ah terdengar pelan, Joo Hyuk berhenti makan dan melihat Ji Ah “Iya?” jawabnya singkat. Ji Ah menarik napas “Aku hari ini mau keluar sebentar.” Kata Ji Ah. “Ke mana?” tanya Joo Hyuk. “Aku mau ke cafe” jawab Ji Ah. “Dengan siapa?” tanya Joo Hyuk. “Sendiri” jawab Ji Ah. “Jangan pulang terlalu malam,” kata Joo Hyuk. Ji Ah sedikit kaget dan mengangguk “Iya, appa.” jawab Ji Ah.
Di depan gedung tinggi dengan kaca mengkilap, berdiri papan nama Han & Associates Law Firm, tempat di mana Jang Yeon Ha bekerja. Di seberang jalan, team Cafe Cheongbaram berdiri dan mengintai suasana. “Jadi, kita tinggal masuk dan ketemu sama Jang Yeon Ha-ssi terus bilang ada pesan dari dunia lain gitu” tanya Jin Woo sambil melipat tangan. Ryu Jung menatap lurus ke gedung itu, “Kalau semudah itu, kita tidak akan ada di sini” jawab Ryu Jung. Min Ji menatap Sang Hee dengan khawatir, “Dia tipe yang rasional banget ya?” tanya Min Ji. Sang Hee mengangguk pelan, “Iya, dia tidak akan percaya hal seperti ini” jawab Sang Hee. Ji Eun menyeruput teh dari termos kecil yang entah dari mana muncul, “Pengacara, sangat rasional dan tertutup. Kombinasi yang sulit ditembus” kata Ji Eun sambil menghela napas. Tae Young menatap gedung itu, “Tapi setidaknya kita tetap harus coba” kata Tae Young. Ryu Jung mengangguk “Ayo kita masuk” ajak Ryu Jung.
Percobaan pertama, mereka berjalan masuk ke lobby. Receptionist tersenyum kepada mereka dan bertanya “Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanya nya. Ryu Jung maju selangkah “Kami ingin bertemu dengan Pengacara Jang Yeon Ha” jawab Ryu Jung. “Apakah sudah ada janji?” tanya nya. “Belum” jawab Ryu Jung. Senyum receptionist tetap sama, “Tolong tinggalkan nama dan keperluan, nanti kami sampaikan” sambil menjelaskan. Jin Woo langsung maju dengan semangat “Ini penting! Urusan kehidupan dan….” kata Jin Woo. Ryu Jung langsung menyikutnya pelan, Receptionist mulai sedikit bingung. “Maaf, tanpa janji tidak bisa langsung bertemu” kata Receptionist. Sang Hee menatap ke dalam, seolah berharap Yeon Ha tiba-tiba muncul. Tapi tidak. Mereka keluar lagi. “Kita ditolak” gumam Jin Woo.