Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #7

Five Days Before She Disappears

“Kurasa dia adalah tipe manusia yang menahan semuanya sendirian” gumam Ji Eun. Tae Young dengan hati-hati mengeluarkan lukisan lalu menaruhnya di meja. Min Ji menambahkan kotak kecil di sampingnya, semuanya terdiam sejenak. “Ayo kita keluar,” kata Ryu Jung. Mereka pun segera keluar dan menutup pintu. Lalu, tepat saat itu seorang staff kantor berjalan mendekat. “Ah, kalian cleaning service baru ya?” tanya staff. Jin Woo langsung mengangguk cepat. “Iya, benar!” jawabnya. Staff itu melirik ke dalam ruangan Yeon Ha, “Oh ruangannya Yeon Ha-ssi?” tanya nya. “Iya, kami hanya membersihkan sedikit,” jawab Min Ji. Staff itu menghela napas, “Kalau ada paket, simpan saja dulu. Yeon Ha-ssi baru kecelakaan pagi ini. Sepertinya tidak akan masuk kantor dalam waktu dekat” jawabnya “Kecelakaan?” tanya Tae Young. “Katanya sih luka ringan, tapi tetap harus istirahat,” lanjut staff itu santai dan pergi.

Di dalam mobil, mereka semua duduk dan terlihat sangat tegang. “Dia kecelakaan” kata Jin Woo pelan. “Ini bukan rencana kita” tambah Min Ji. “Bagaimana kalau dia…” Tae Young tidak menyelesaikan kalimatnya. Ryu Jung langsung menatap mereka. “Tidak.”, katanya dengan suaranya yang tegas. “Dia masih hidup.” kata Ryu Jung. Ji Eun menghela napas, “Tapi Sang Hee tidak ada” kata Ji Eun. Semua langsung sadar. “Benar juga, dia tadi tidak ikut masuk ke dalam,” bisik Min Ji. Jin Woo menoleh cepat, “Dia kemana?!” tanya Jin Woo.

Mereka kembali ke cafe dan mencari Sang Hee. “Sang Hee-ssi!” panggil Min Ji. Tetapi tidak ada jawaban, Tae Young berdiri di tengah ruangan. “Kurasa Sang Hee-ssi menghilang.” Kata Tae Young. “Aku rasa Sang Hee-ssi melihat kejadian tadi pagi dan pasti sangat panik” kata Ryu Jung. Ji Eun mengangguk pelan, “Dia pasti berpikir Yeon Ha akan mati” kata Ji Eun. Mereka semua terdiam, akhirnya mereka menoleh ke satu orang yaitu kepada Ha Neul.

“Ha Neul-ssi” panggil Ryu Jung. Ha Neul berdiri diam dan tiba-tiba berbicara “Aku tidak bisa merasakannya.” Jawab Ha Neul. Kalimat itu terdengar tidak biasa. “Biasanya kamu selalu tahu” kata Jin Woo. Ha Neul menggeleng pelan, “Kalau jiwa itu memilih untuk bersembunyi, bahkan aku pun tidak bisa menemukannya.” jawab Ha Neul. Min Ji menutup mulutnya, “Berarti dia benar-benar takut sesuatu terjadi pada Yeon Ha-ssi” kata Min Ji. Ryu Jung mengepalkan tangannya, “Kita tidak punya banyak waktu.” kata Ryu Jung.

Ryu Jung berdiri di tengah ruangan, tangannya mengepal, “Sang Hee-ssi harus ditemukan” gumamnya pelan. “Masalahnya kita bahkan tidak tahu dia kemana,” sahut Jin Woo frustasi. Min Ji duduk sambil memegang kepalanya, “Kalau dia terus bersembunyi, kita bisa kehabisan waktu sebelum Yeon Ha sadar sepenuhnya dan Jae Sung datang menjemputnya” kata Min Ji. Tae Young menatap kosong ke lantai “Dan lukisan itu belum sampai ke Yeon Ha-ssi” kata Tae Young menimpali.

Tiba-tiba pintu cafe terbuka. Angin dingin masuk perlahan, semua langsung menoleh. Di ambang pintu berdiri seseorang yang sangat tinggi, tenang dan memiliki aura dingin, dia Jae Sung. Matanya menyapu ruangan, “Sudah lama aku tidak datang” kata Jae Sung. Ji Eun langsung berdiri, “Kamu jarang muncul tanpa alasan.” Kata Ji Eun. Jae Sung berhenti di tengah ruangan menatap mereka satu per satu. “Ada satu jiwa yang hampir melewati batas waktunya, Heo Sang Hee. Waktunya tidak banyak” kata Jae Sung. Min Ji langsung berdiri dan bertanya “Apa maksudnya melewati batas?!” tanya Min Ji. Jae Sung menjawab tanpa ekspresi, “Waktunya tinggal lima hari.” Jawab Jae Sung. “Lima hari? Itu tidak masuk akal” jawab Jin Woo sambil melotot. “Itu bukan waktu yang bisa ditawar.” jawab Jae Sung. “Kalau dalam lima hari dia tidak menyelesaikan keterikatannya, aku akan menjemputnya dan dia akan pergi selamanya” kata Jae Sung. Min Ji menutup mulutnya, Tae Young menunduk, Ji Eun menghela napas panjang. “Tidak” bisik Jin Woo. Ryu Jung melangkah maju, “Kalau dia bersembunyi, bagaimana kita menemukannya?” tanya Ryu Jung. Jae Sung menatapnya, “Cari di tempat yang paling ingin dia datangi tapi tidak berani untuk datang kesana.” jawab Jae Sung.

Semua terdiam mendengar jawaban Jae Sung, “Tempat yang familiar” gumam Ji Eun. “Tapi kita tidak tahu apa-apa tentang hidupnya,” tambah Min Ji frustasi. Lalu perlahan semua saling menatap, satu nama muncul. “Heo Sang Yeon.” jawab mereka bersamaan. Jin Woo langsung menggeleng cepat, “Tidak. Tidak mungkin.” jawabnya. “Dia pasti sangat rasional dan tidak akan mempercayai kita,” tambah Min Ji. Ji Eun menyilangkan tangan, “Kalau kita datang dan bilang kami cari roh kakakmu dia bakal pikir kita gila.” kata Ji Eun. Tae Young menelan ludah, “Atau lebih buruk, dia anggap kita delusional.” Kata Tae Young. Ryu Jung menutup mata sejenak terlihat berpikir dengan cepat “Kita tidak punya pilihan lain. Dia satu-satunya orang yang benar-benar mengenal Sang Hee, dia adiknya” kata Ryu Jung. Jin Woo masih ragu dan bertanya “Dan kalau dia menolak?” tanya nya. Ryu Jung menjawab tanpa ragu, “Kita buat dia percaya.” Jawab Ryu Jung. Min Ji menghela napas panjang, “Ini akan jadi misi paling sulit.” Kata Min Ji.

Di sisi lain ruangan, Jae Sung berdiri diam. Matanya sedikit berubah, dia tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat yang lain. “Dia tidak benar-benar hilang.” Kata Jae Sung. Semua langsung menoleh. “Apa maksudmu?” tanya Ryu Jung. Jae Sung menatap ke arah jendela. “Saat ini dia sedang bersembunyi di tempat yang penuh kenangan” kata Jae Sung. Ryu Jung membuka mata. “Besok kita harus segera menemui Sang Yeon.” kata Ryu Jung. Jin Woo menghela napas. “Baiklah, mari kita coba” kata Jin Woo. Min Ji mengangguk, “Dan semoga kita tidak dianggap berhalusinasi.” kata Min Ji. Jae Sung berbalik menuju pintu, “Ingat, 5 hari tersisa.” kata Jae Sung. Pintu terbuka, angin masuk dan ia menghilang.

Pagi hari di gedung Han & Associates terasa lebih sibuk dari biasanya. Suara langkah kaki, bunyi keyboard, dan tumpukan berkas memenuhi setiap sudut kantor. Pintu lift terbuka perlahan, Yeon Ha keluar dengan langkah pelan. Wajahnya masih pucat, luka kecil di pelipisnya tertutup plester tipis. Tangannya menggenggam tas kerja sedikit terlalu erat, seolah tubuhnya sendiri belum benar-benar siap kembali. Beberapa staff langsung menoleh kaget. “Yeon Ha-ssi?” tanya staff. “Bukannya dokter menyuruh istirahat?” tanya staff lain. “Kenapa sudah masuk kerja?” tanya staf lainnya. Yeon Ha hanya mengangguk singkat. “Aku baik-baik saja.” jawabnya. Ia berjalan menuju ruangannya, tetapi baru beberapa langkah pandangannya mendadak kabur, tubuhnya sedikit oleng. “Yeon Ha-ssi!” salah satu staff langsung menahan lengannya. Yeon Ha memejamkan mata sebentar, napasnya tidak stabil. “Aku tidak apa-apa,” katanya pelan sambil melepaskan pegangan itu. “Tapi wajah anda pucat sekali.” kata salah satu staff. “Aku hanya kurang tidur.” jawab Yeon Ha. Ia kembali berjalan.

Saat pintu ruangannya terbuka, langkah Yeon Ha langsung berhenti, di atas mejanya ada sebuah lukisan. Tatapannya membeku karena lukisan itu bergambar bangku taman dengan latar langit sore dan dua orang perempuan sedang makan tteokbokki. Dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa menghilang. Tangannya perlahan menyentuh ujung kanvas itu. “Sang Hee-ya.” Suaranya hampir tidak terdengar, dadanya kembali terasa sesak. Lalu pandangannya jatuh pada kotak kecil di samping lukisan, perlahan ia membukanya. Di dalamnya terdapat gantungan kecil berbentuk kelinci putih, gantungan lama yang dulu ia menangkan dari mesin arcade untuk Sang Hee saat mereka SMA.Yeon Ha langsung terduduk pelan di kursinya. Matanya mulai memerah, “Siapa yang melakukan ini?” tanya nya.

Sementara itu, di sisi lain kota, Team Cafe Cheongbaram berdiri di depan sebuah gedung dengan papan nama “Mental Health Clinic”. Min Ji menatap papan itu sambil menarik napas panjang. “Aku masih merasa ini ide yang buruk.” kata Min Ji. “Sudah terlambat untuk mundur,” jawab Ryu Jung tenang. Mereka masuk ke dalam klinik, suasananya hangat dan tenang. Di meja depan, seorang receptionist tersenyum ramah. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya nya.

Ryu Jung maju selangkah, “Kami ingin membuat janji dengan Heo Sang Yeon-ssi” kata Ryu Jung. Receptionist mulai mengetik sesuatu di komputer, beberapa detik kemudian, senyumnya berubah. “Maaf, jadwal Heo Sang Yeon-ssi hari ini penuh.” Jawabnya. “Kalau besok?” tanya Jin Woo cepat. Receptionist kembali melihat layar, “Besok juga penuh.” Jawabnya. “Lalu kapan ada jadwal kosong?” tanya Min Ji. Receptionist tersenyum meminta maaf, “Ada jadwal untuk lusa.” jawabnya. “LUSA?!” Jin Woo langsung membelalak, Receptionist sedikit terkejut dan menjawab “Iya, karena ada beberapa yang sudah melakukan reservasi dari minggu kemarin” jawabnya. Ji Eun menutup wajahnya pelan sambil menghela napas. “Kita cuma punya empat hari” kata Ji Eun. Tae Young menunduk pelan, “Dan satu harinya akan habis untuk menunggu” kata Tae Young. Ryu Jung tetap diam, tapi tatapannya berubah semakin serius karena waktu mereka benar-benar mulai habis, dan menjawab “Baiklah, kami ingin melakukan reservasi.” kata Ryu Jung.

Lihat selengkapnya