Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #8

Where Memories Remain

“Selain itu?” tanya Ryu Jung. Yeon Ha berpikir sebentar lalu menjawab “Ada taman dekat kantor lama kami” jawab Yeon Ha. “Taman dengan bangku kayu?” tanya Tae Young tiba-tiba. Yeon Ha langsung menoleh kaget. “Kalian tahu tempat itu?” tanya nya. Tae Young langsung terdiam, namun Ryu Jung segera menjawab “Sang Hee-ssi pernah menceritakannya” jawab Ryu Jung. Yeon Ha perlahan kembali santai, ia menghela napas kecil. “Dia memang suka membicarakan tempat tempat itu” kata Yeon Ha. Tatapannya kembali kosong sesaat, lalu melanjutkan “Sebenarnya dia selalu kembali ke tempat yang membuatnya merasa aman” kata Yeon Ha.

“Selain kedai tteokbokki itu, apa Sang Hee-ssi punya tempat lain yang sering didatangi sendirian?” tanya Ryu Jung. Yeon Ha terlihat berpikir lalu menjawab, “Sang Hee suka tempat tenang” jawab Yeon Ha. “Pantai?” tanya Min Ji spontan. Yeon Ha menggeleng pelan, “Dia takut pergi ke pantai sendirian” jawab Yeon Ha. “Kalau sedang sedih bagaimana?” tanya Ryu Jung. Tatapan Yeon Ha sedikit berubah, dan menjawab “Dia biasanya jalan sendirian” jawab Yeon Ha. “Ke mana?” tanya Ryu Jung. “Aku tidak selalu tahu” jawab Yeon Ha. Yeon Ha menunduk sebentar sebelum kembali bicara, “Tapi kalau dia benar-benar takut, dia akan selalu kembali ke tempat yang penuh kenangan” jawab Yeon Ha.

Semua langsung memperhatikan, Jin Woo langsung menegakkan badan sedikit dan bertanya “Contohnya?” tanya Jin Woo. Yeon Ha tanpa sadar mulai menjawab semakin banyak “Kedai tteokbokki dekat sungai itu, taman dekat kantor lama dan halte bus tua dekat sekolah kami” jawab Yeon Ha. Ryu Jung diam-diam mengingat semuanya, sementara itu Tae Young sudah menunduk diam sambil mencatat kecil di kertas. Yeon Ha baru sadar beberapa detik kemudian. “Kenapa kalian bertanya sedetail ini?” tanya Yeon Ha. Suasana langsung sedikit menegang, Jin Woo hampir tersedak namun sebelum Ryu Jung menjawab, Ji Eun yang sejak tadi diam sambil menyeruput teh tiba-tiba bicara santai “Sebenarnya Sang Hee-ssi menitipkan sesuatu kepada kami dan dia tidak memberitahu detail nya” kata Ji Eun menjelaskan. Semua langsung menoleh ke Ji Eun, bahkan Team Cafe sangat terkejut dengan perkataan Ji Eun.

Yeon Ha langsung menatap Ji Eun tajam “Menitipkan sesuatu? Apa itu?” tanya Yeon Ha. Ji Eun mengangguk tenang seolah semuanya normal, “Iya” jawab Ji Eun. “Apa maksudnya?” tanya Yeon Ha. “Sebelum kondisinya memburuk, dia pernah bilang ada sesuatu yang ingin diberikan langsung kepada sahabatnya. Awalnya kami bingung dan tidak tahu siapa yang Sang Hee-ssi maksud, lalu Sang Hee-ssi memberitahu kami bahwa sahabatnya adalah Yeon Ha-ssi” jawab Ji Eun yang mulai berbohong dengan wajah paling tenang.

Ekspresi Yeon Ha perlahan berubah, tatapannya mulai goyah lagi “Sesuatu?” tanya Yeon Ha. Ji Eun mengangguk “Tapi barangnya belum sampai, karena kami belum menerimanya. Kami akan mengabari Yeon Ha-ssi jika barangnya sudah kami terima” jawab Ji Eun. Yeon Ha mengernyit dan bertanya “Barang apa?” tanya Yeon Ha. “Kami juga belum tahu detailnya karena kami belum menerima barangnya. Sepertinya itu barang impor” jawab Ji Eun santai. Ryu Jung langsung memahami arah pembicaraan Ji Eun dan ikut melanjutkan dengan tenang. “Sang Hee-ssi bilang barangnya harus diberikan langsung kepada Yeon Ha-ssi” kata Ryu Jung. “Kapan?” tanya Yeon Ha yang mulai tidak terlihat sabar. Ji Eun menatapnya “Setelah aku check resi pengirimannya, katanya sih lusa sudah sampai. Tapi kami akan segera mengabari Yeon Ha-ssi ketika barangnya sudah ada disini” jawab Ji Eun. Karena tanpa Yeon Ha tahu, lusa adalah hari terakhir Sang Hee sebelum Jae Sung datang menjemputnya. Yeon Ha terlihat benar-benar bingung sekarang. “Aku tidak mengerti, kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?” tanya Yeon Ha. Tatapannya bergantian melihat mereka satu per satu. Ji Eun tetap menjawab dengan tenang “Mungkin karena ada hal yang tidak bisa dia sampaikan langsung” jawab Ji Eun.

Tatapan Yeon Ha perlahan berubah kosong seolah kalimat itu mengenai sesuatu jauh di dalam dirinya. Tangannya perlahan menggenggam cangkir teh hangat di depannya “Apa dia marah padaku?” tanya Yeon Ha. Untuk pertama kalinya topeng dingin Jang Yeon Ha benar-benar mulai retak di depan mereka. Ji Eun yang duduk di dekat jendela menatapnya beberapa detik sebelum meletakkan cangkir tehnya “Yeon Ha-ssi. Aku tidak mengetahui lebih jauh hubungan persahabatan kalian, tapi kalau kalian sudah bersama selama bertahun-tahun, bukankah wajar kalau pernah marah satu sama lain?” kata Ji Eun. Yeon Ha terdiam mendengarkan perkataan Ji Eun, Ji Eun melanjutkan kata-katanya “Dalam pertemanan, pasti ada kesalahpahaman. Ada pertengkaran dan ada masa di mana kita kecewa satu sama lain karena tidak ada hubungan pertemanan yang sempurna” kata Ji Eun. Yeon Ha menundukkan wajahnya, beberapa menit kemudian ia perlahan berdiri “Aku harus pergi sekarang” kata Yeon Ha. Ryu Jung mengangguk “Kami akan menghubungi Yeon Ha-ssi jika barangnya sudah sampai” kata Ryu Jung. Yeon Ha hanya mengangguk, sebelum berbalik, ia sempat menatap mereka satu per satu “Aku akan menunggu lusa dan datang kesini” kata Yeon Ha. Lalu ia berjalan keluar dari Cafe Cheongwoon, bel pintu berbunyi pelan saat pintu tertutup di belakangnya.

Di dalam mobil, Yeon Ha tidak langsung menyalakan mesin, tangannya masih berada di atas kemudi dan pikirannya terus mengulang percakapan tadi. Perlahan ia memejamkan mata, lalu satu tempat muncul dalam ingatannya yaitu taman dekat kantor lama mereka, tempat yang selalu dikunjungi Sang Hee saat sedang sedih dan tempat dengan bangku kayu yang menghadap pepohonan. Tanpa sadar Yeon Ha menyalakan mobilnya. 20 menit kemudian Yeon Ha tiba di taman itu, ia turun dari mobil perlahan, angin berhembus lembut di antara pepohonan. Tempat itu hampir tidak berubah, bangku kayu tua masih berada di tempat yang sama, jalur pejalan kaki yang dulu sering mereka lalui juga masih ada. Yeon Ha berjalan pelan menyusuri taman, tatapannya menyapu setiap sudut, setiap bangku dan setiap jalan setapak seolah sedang mencari seseorang atau mungkin berharap menemukan seseorang “Sang Hee-ya” kata Yeon Ha. Suaranya terdengar sangat pelan.

Yeon Ha berjalan lebih jauh melewati kolam kecil, melewati area bermain yang kini kosong lalu kembali ke bangku kayu itu. Bangku yang dulu sering mereka duduki bersama, perlahan ia duduk dan tatapannya kosong menatap ke depan “Aku ingin berbicara lagi denganmu Sang Hee-ya” kata Yeon Ha. Angin kembali berhembus, namun tidak ada siapa pun di sana karena Sang Hee memang tidak berada di taman itu. Saat ini, jauh di tempat lain, Sang Hee duduk sendirian di sebuah kedai tteokbokki dekat sungai, di meja yang paling pojok sambil memeluk dirinya sendiri karena masih terlalu takut untuk kembali menemui Yeon Ha. Sementara itu, tanpa mereka sadari, waktu terus berjalan.

“Kita akhirnya punya petunjuk” kata Ryu Jung. Semua langsung memperhatikannya, Ryu Jung menatap daftar tempat yang tertulis di kertas itu “Kedai tteokbokki dekat sungai, taman dekat kantor lama dan halte bus tua dekat sekolah mereka. Ada 3 tempat” kata Ryu Jung. “Dan waktu kita sangat singkat, hanya 2 hari lagi” kata Ji Eun menambahkan. Jin Woo mengusap wajahnya kasar “Kalau dia memang bersembunyi di salah satu tempat itu, kita harus menemukannya malam ini” kata Jin Woo. Min Ji mengangguk cepat “Kita tidak bisa menunggu sampai besok, waktunya sudah mepet” kata Min Ji.

Ryu Jung lalu mengambil pulpen dan menunjuk satu per satu nama tempat itu “Ayo kita bagi kelompok. Aku dan Min Ji akan pergi ke kedai tteokbokki setelah dari klinik Sang Yeon-ssi. Jin Woo akan pergi ke taman dekat kantor lama mereka” kata Ryu Jung. Jin Woo langsung menunjuk dirinya sendiri “Sendirian?” tanya Jin Woo. “Iya, kamu sendirian kesana” jawab Ryu Jung. “Kenapa aku sendirian?” tanya Jin Woo. “Karena kalau berdua, kemungkinan kamu malah mengobrol dan lupa mencari” jawab Ryu Jung. “Hey, aku tidak begitu!” kata Jin Woo. “Itu benar” jawab Ji Eun. “Taman itu tidak terlalu luas. Kamu bisa memeriksa seluruh area sendirian” kata Ryu Jung. Jin Woo akhirnya mengangguk pasrah “Baiklah, aku akan kesana sendirian” kata Jin Woo.

“Sekarang Tae Young. Kamu akan pergi bersama Ji Eun eonni ke halte bus tua dekat sekolah mereka” kata Ryu Jung. Ji Eun mengangguk “Baik, aku akan kesana dengan maknae kita” kata Ji Eun. “Aku mengerti” jawab Tae Young. Beberapa detik kemudian semua terdiam karena pembagian tugas sudah selesai namun tidak ada yang terlihat lega karena mereka semua memikirkan hal yang sama bagaimana jika Sang Hee tidak ada di ketiga tempat itu. “Kalau tidak menemukan apa pun malam ini, kita akan berkumpul kembali di cafe. Dan kalau salah satu dari kita menemukan Sang Hee-ssi hubungi yang lain secepat mungkin” kata Ryu Jung. Min Ji menggigit bibirnya pelan “Kita masih punya kesempatan kan?” tanya Min Ji.

Tetapi tidak ada yang langsung menjawab, beberapa saat kemudian, Ha Neul yang sejak tadi berdiri diam dekat jendela akhirnya berbicara “Masih ada kesempatan” kata Ha Neul, semua menoleh kepadanya. Tatapan Ha Neul masih mengarah ke luar “Selama Sang Hee-ssi belum menyerah, kita masih punya kesempatan walaupun waktunya sedikit” kata Ha Neul.

Sore hari, langit mulai berubah jingga ketika sebuah mobil berhenti di depan Mental Health Clinic. Ryu Jung mematikan mesin mobil lalu menatap bangunan di depannya beberapa detik, Min Ji yang duduk di kursi penumpang menghela napas panjang “Aku masih merasa ini ide yang buruk” kata Min Ji. Ryu Jung membuka sabuk pengamannya “Kita sudah sampai. Ayo kita coba” kata Ryu Jung. Ryu Jung keluar dari mobil, Min Ji akhirnya ikut turun dan mereka berjalan memasuki klinik.

Lihat selengkapnya