Beberapa menit kemudian makanan datang, uap hangat naik dari mangkuk tteokbokki merah terang. Min Ji mengambil satu lalu menggigit. Matanya sedikit membesar “Omo! Ini sangat enak” kata Min Ji. Ryu Jung tersenyum dan makan. Baru beberapa suapan kemudian ponsel Min Ji berbunyi dari Group Chat Cafe Cheongbaram. “Tidak ada di halte maupun sekitar sekolah” ketik Tae Young. “Kami sudah cek sampai jalan belakang sekolah tapi Sang Hee-ssi tidak ada disini” ketik Ji Eun. “Di taman juga kosong. Aku udah muter tiga kali di taman tapi gak ada” ketik Jin Woo. Min Ji langsung melolot karena terkejut dengan hasil pencarian Tae Young, Ji Eun dan Jin Woo. “Eonni! Tae Young sama Ji Eun eonni gagal menemukan Sang Hee-ssi. Jin Woo juga gagal” kata Min Ji. Beberapa detik mereka diam, Min Ji menurunkan ponsel perlahan “Berarti tinggal kita” kata Min Ji. Ryu Jung tetap makan satu gigitan lagi, Min Ji menatap Ryu Jung dengan tatapan tidak percaya “Eonni bisa makan di situasi kayak gini?” tanya Min Ji. “Kalau Sang Hee-ssi ada di sini, dia akan muncul saat ada suasana yang terasa familiar” jawab Ryu Jung. “Baiklah, mari kita tunggu” kata Min Ji. Min Ji menatap tteokbokki di depannya lagi lalu mulai makan. Min Ji mulai kehilangan harapan “Mungkin Sang Hee-ssi juga tidak disini. Sepertinya kita harus menyerah” kata Min Ji. “Ayo kita jalan sebentar” ajak Ryu Jung sambil berdiri lalu mengambil jaketnya dari
Min Ji masih memegang tusuk odeng di tangannya lalu menatapnya bingung “Sekarang?” tanya Min Ji. Ryu Jung mengangguk “Habiskan dulu, setelah itu kita jalan sebentar. Kita sudah sampai sejauh ini, kita tidak boleh menyerah” kata Ryu Jung. Min Ji mengangguk dan menghabiskan makanannya lalu berdiri “Oke. Tapi eonni, kalau gak ada kita pulang aja ya. Aku udah capek dan bingung” kata Min Ji. Ryu Jung membayar makanan lalu keluar dari kedai bersama Min Ji. Udara malam terasa sangat dingin, lampu jalan memantul pelan di permukaan sungai. Jalur pejalan kaki di belakang kedai cukup sepi, hanya sesekali ada orang lewat sambil membawa minuman atau berjalan santai. Min Ji memasukkan kedua tangannya ke saku mantel “Kalau dipikir-pikir, kasus kedua ini cukup sulit juga ya Eonni. Sang Hee-ssi sulit kita temukan” katanya pelan sambil tersenyum. Ryu Jung dam sebentar lalu menjawab. “Iya, kamu benar. Kasus kali ini cukup sulit karena kita belum bisa menemukan Sang Hee-ssi, berbeda dengan kasus sebelumnya” kata Ryu Jung. Mereka berjalan beberapa menit tapi tidak ada apa pun dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Sang Hee.
Min Ji berhenti berjalan, tatapannya turun ke tanah “Mungkin kita benar-benar terlambat. Sepertinya Sang Hee-ssi benar-benar bersembunyi keluar dari Seoul” kata Min Ji. Angin malam lewat perlahan, Min Ji menunduk “Aku tahu kita semua berusaha, tapi kalau kita gak nemuin Sang Hee-ssi gimana? Kita juga udah bilang ke Yeon Ha-ssi dan Sang Yeon-ssi dan mereka bakal ke cafe” tanya Min Ji. Ryu Jung diam sebentar lalu menghela nafas “Aku masih percaya Sang Hee-ssi ada di Seoul, tapi Sang Hee-ssi bersembunyi di suatu tempat” jawab Ryu Jung. Min Ji diam mendengarkan perkataan Ryu Jung. Min Ji mengangkat kepala lagi.
Dan saat itu langkah Ryu Jung tiba-tiba berhenti. Min Ji hampir menabraknya “Eonni kenapa?” tanya Min Ji. Ryu Jung tidak menjawab karena tatapannya lurus ke depan. Min Ji ikut menoleh mengikuti arah tatapan Ryu Jung, di ujung jalur sungai, agak jauh dari lampu jalan ada satu bangku kayu. Ada seseorang yang duduk di sana sendirian dengan tubuh sedikit membungkuk sambil diam. Min Ji langsung bertanya “Eonni, itu manusia atau bukan?” tanya Min Ji. Ryu Jung tidak bergerak dan masih memperhatikan sosok itu. Sosok itu perlahan menoleh dan Min Ji langsung membeku, matanya membesar “Sang Hee-ssi?” pekik Min Ji. Min Ji langsung menunjuk. “HEO SANG HEE-SSI?!” kata Min Ji. Sang Hee membeku beberapa detik, wajahnya langsung panik “Ryu Jung-ssi? Min Ji-ssi?” pekik Sang Hee.
Lalu detik berikutnya Sang Hee langsung berbalik dan lari. Min Ji melotot “EH?! DIA KABUR?!” teriak Min Ji. Ryu Jung langsung jalan cepat “Sang Hee-ssi! Kami ingin berbicara!” kata Ryu Jung menjelaskan. Sang Hee makin panik dan berteriak “JANGAN IKUTI AKU!!” teriak Sang Hee. Min Ji langsung ikut lari “HEO SANG HEE-SSI?! KITA CARIIN KAMU TIGA HARI! TOLONG DENGERIN DULU PENJELASAN KITA!”teriak Min Ji. Sang Hee sambil lari malah mulai menangis “AKU GAK MAU KEMBALI!” teriak Sang Hee. Ryu Jung diam beberapa detik sambil tetap mengejar lalu akhirnya mengerti bahwa dia tidak bersembunyi karena ingin pergi, tapi dia bersembunyi karena dia takut.
Sang Hee berlari cepat menyusuri tepi sungai, rambutnya berantakan tertiup angin, langkahnya tidak stabil. Min Ji yang tadi penuh semangat mengejar mulai melambat. “YAAAAA! SANG HEE-SSI! KENAPA CEPET BANGET LARINYA?!” teriak Min Ji. Sang Hee tidak menoleh “Aku gak mau balik!” jawab Sang Hee. Ryu Jung yang sejak tadi mengejar tanpa banyak bicara akhirnya berhenti, dia menarik napas pelan. lalu berteriak “HEO SANG HEE-SSI! DENGARKAN AKU! JANG YEON HA-SSI SELAMAT” teriak Ryu Jung. Langkah Sang Hee langsung berhenti, Sang Hee diam membelakangi mereka. Min Ji ikut berhenti. Ryu Jung melanjutkan kembali perkataannya “Dia hidup dan selamat” kata Ryu Jung. Beberapa detik kemudian bahu Sang Hee mulai gemetar kecil “Bohong” kata Sang Hee. “Aku bersumpah aku tidak berbohong. Dia memang kecelakaan tapi lukanya ringan. Kami sudah bertemu dengannya. Bahkan Yeon Ha-ssi mendatangi kami ke cafe” kata Ryu Jung.
Sang Hee langsung terdiam “Ke cafe?” tanya Sang Hee. Ryu Jung mengangguk “Benar, dia mencari kami. Kami bisa membantu Sang Hee-ssi berbicara untuk terakhir kalinya, kita tidak memiliki banyak waktu. Jika Jae Sung yang mendatangi Sang Hee-ssi, maka Sang Hee-ssi tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengan Yeon Ha-ssi ataupun Sang Yeon-ssi” jawab Ryu Jung menjelaskan.
Sang Hee langsung menggelengkan kepalanya “Itu tidak mungkin” kata Sang Hee. Ryu Jung tetap tenang dan berbicara “Sang Hee-ssi juga bertanya satu hal yang sama. Dia tanya apa Sang Hee-ssi marah kepadanya” kata Ryu Jung. Sang Hee langsung terdiam, matanya terbelalak seolah kalimat itu tidak masuk akal “Apa?” tanya Sang Hee. Min Ji menunduk sedikit dan menjawab “Yeon Ha-ssi beneran nanya itu” jawab Min Ji. “Dia marah kepadaku. Aku yang menyerah berobat, aku juga yang bilang kalau aku capek. Aku juga bilang kalau aku gak mau lanjut berobat” kata Sang Hee. Air matanya mulai jatuh dan dia melanjutkan pembicaraannya “Tapi, Yeon Ha bilang aku egois dan dia berhenti datang. Aku pikir dia udah gak mau lagi liat aku” kata Sang Hee. Ryu Jung menatapnya lama lalu berkata pelan “Kalau dia benar-benar menyerah sama kamu, dia gak akan datang ke cafe jam tujuh pagi hanya buat cari orang yang ninggalin lukisan. Dia gak akan cari CCTV, Dia gak akan ngelacak mobil, Dia gak akan tetap datang meski tubuhnya hampir tumbang” kata Ryu Jung.
Sang Hee perlahan mengangkat kepala dan menangis. Ryu Jung melangkah satu kali mendekat “Kalian sama-sama salah paham. Sebelum terlambat, ayo kita perbaiki karena hanya sekarang kesempatan kalian memperbaiki salah paham ini” kata Ryu Jung. Sang Hee langsung menutup wajahnya “Aku sangat takut.” kata Sang Hee. Ryu Jung diam beberapa detik lalu berkata pelan “Kalau begitu berhenti lari dan dengarkan penjelasan kami” kata Ryu Jung. Sang Hee perlahan menurunkan tangan. Min Ji ikut mengangguk cepat. “Iya! Kita udah bohong ke banyak orang demi kamu, minimal dengerin dulu!” kata Min Ji.
Ji Eun dan Tae Young lebih dulu kembali, disusul Jin Woo beberapa menit kemudian. Ketiganya langsung saling menatap begitu sadar satu hal yang sama Ryu Jung dan Min Ji belum kembali. Jin Woo menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil mengacak rambutnya sendiri “Kita gagal” gumamnya pelan. Ji Eun menuangkan teh hangat ke tiga cangkir, tetapi bahkan aroma teh pun tidak mampu menenangkan suasana. Tae Young berdiri di dekat jendela sambil sesekali melirik ke arah jalan di depan cafe, berharap melihat mobil Ryu Jung muncul “Kita tidak mendapatkan kabar sama sekali?” tanya Tae Young pelan. Ji Eun menggeleng sambil melihat layar ponselnya. “Mereka belum mengabari kita, bahkan belum menelepon kita” jawab Ji Eun. Jin Woo menghela napas panjang, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan “Bagaimana kalau mereka juga gagal?” tanya Jin Woo. Kalimat itu membuat ruangan kembali hening, Tae Young menundukkan kepala “Kalau begitu, kita kali ini gagal” gumamnya pelan.
Jin Woo tiba-tiba bangkit berdiri “Aku punya ide!” kata Jin Woo. Ji Eun dan Tae Young langsung menoleh bersamaan “Gimana kalau cafe kita tutup saja seminggu?” tanya Jin Woo. “Hah? Kenapa kita tutup seminggu?” sahut Ji Eun. “Iya!” jawab Jin Woo sambil mengangguk cepat. “Gini deh, kalau Yeon Ha-ssi sama Sang Yeon-ssi datang terus kita belum berhasil menemukan Sang Hee-ssi, bagaimana? Kita kan bohong soal paket itu! Kalau mereka datang dan ternyata tidak ada apa-apa, habislah kita!” jawab Jin Woo. Ji Eun memijat pelipisnya pelan “Jin Woo-ya, itu bukan solusi” kata Ji Eun. “Tapi setidaknya mereka tidak bisa marah karena cafenya tutup dan kita tidak disini” kata Jin Woo. “Dan setelah seminggu?” tanya Tae Young. Jin Woo langsung terdiam “Ya, itu urusan seminggu lagi. Nanti kita pikirin lagi” jawab Jin Woo. Ji Eun menghela napas panjang sambil menggeleng kecil “Kamu benar-benar hanya memikirkan cara kabur” kata Ji Eun. “Aku sedang memikirkan strategi bertahan hidup” kata Jin Woo. “Itu namanya lari dari masalah, Jin Woo-ya” kata Ji Eun. Jin Woo langsung mengembuskan napas panjang “Aku cuma takut” kata Jin Woo.
Setiap detiknya terasa semakin berat, tepat saat itu, suara mesin mobil terdengar berhenti di depan cafe. Ketiganya langsung menoleh bersamaan. “Itu Ryu Jung noona dan Min Ji noona” gumam Tae Young. Pintu mobil terbuka, Ryu Jung turun lebih dulu, disusul Min Ji namun keduanya tidak langsung masuk. Mereka berdiri di depan pintu cafe beberapa detik, seolah sedang menunggu seseorang. Jin Woo langsung mengerutkan kening “Kenapa mereka diam di luar dan tidak masuk?” tanya Jin Woo.