Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #10

Unfinished Matters

Ryu Jung kembali bertanya kepada Ji Ah “Kalau teman-temanmu bagaimana?” tanya Ryu Jung. “Mereka baik padaku” jawab Ji Ah. “Tidak ada yang mengganggumu di sekolah?” tanya Ryu Jung. Ji Ah menggelengkan kepalanya “Tidak ada” jawabnya. “Kalau yang membuatmu kesulitan?” tanya Ryu Jung. Ji Ah terdiam selama beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan Ryu Jung “Kadang aku merasa harus melakukan semuanya sendiri. Appa sering pulang larut malam dan minum-minum. Dengan begitu, aku jadi terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri” jawab Ji Ah. “Kamu anak yang sangat mandiri, Ji Ah-ya. Tapi tidak apa-apa sesekali meminta bantuan dan tidak apa-apa mengatakan yang sebenarnya dan apa yang sedang kamu rasakan” kata Ryu Jung. Ji Ah tersenyum “Aku sedang belajar seperti itu” jawab Ji Ah. “Apakah ada suatu hal yang ingin kamu lakukan?” tanya Ryu Jung. “Maksud eonni hal seperti apa?” tanya Ji Ah. “Mungkin seperti ingin mencoba aktivitas baru atau tempat yang ingin dikunjungi. Atau mungkin sesuatu yang sudah lama ingin kamu coba tetapi kamu tidak berani melakukannya” jawab Ryu Jung. “Sebenarnya aku sangat ingin jalan-jalan” jawab Ji Ah. “Ke mana?” tanya Ryu Jung. “Sebenarnya bukan tempat tertentu. Aku cuma ingin pergi bersama seseorang” jawab Ji Ah. Ryu Jung menatapnya dan kembali bertanya “Bersama appa?” tanya Ryu Jung. Ji Ah menggelengkan pelan kepalanya “Bersama eommaku. Aku bahkan tidak punya banyak kenangan tentang eommaku karena eommaku meninggal setelah melahirkanku. Tapi setiap melihat keluarga lain pergi bersama, aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya bisa jalan bersama eommaku. Pasti rasanya sangat menyenangkan, dan aku sangat ingin mencobanya walaupun itu tidak mungkin” jawab Ji Ah. 

Sore itu matahari mulai turun perlahan, mewarnai langit dengan semburat jingga yang hangat. Di seberang sebuah rumah sakit besar, sebuah coffee truck kecil masih dipenuhi antrean pengunjung. Min Ji berdiri paling belakang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie. “Sepertinya masih lama” gumamnya pelan. Beberapa orang di depannya mengenakan jas putih. Ada pula beberapa perawat yang masih memakai seragam biru muda, wajah mereka terlihat lelah setelah menjalani shift yang panjang. Seorang dokter muda keluar dari pintu rumah sakit sambil berlari kecil. “Aku telat! Sisakan kopi buatku!” teriaknya kepada teman-temannya. “Tidak! Datang terlambat tanggung sendiri akibatnya!” sahut salah satu perawat sambil tertawa. Mereka saling bercanda, tertawa, lalu kembali mengeluhkan jadwal kerja yang padat. Min Ji memperhatikan pemandangan itu cukup lama, tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat. “Ternyata masih sama" katanya lirih. Tak lama kemudian, suara pemanggil terdengar dari dalam coffee truck. “Next!” katanya. Min Ji melangkah maju. “Selamat sore. Mau pesan apa?” tanya barista. “Satu coffee latte hangat ya” jawab Min Ji. “Baik, akan segera kami buatkan” jawab barista. Barista mulai meracik pesanan, sementara Min Ji kembali menoleh ke arah pintu rumah sakit ketika sebuah ambulans baru saja berhenti. Beberapa tenaga medis segera mendorong brankar masuk ke dalam gedung dengan langkah cepat. Wajah mereka terlihat serius, tetapi gerakan mereka begitu terlatih. Min Ji memandangi mereka tanpa berkedip. “Ayo semangat!” kata Min Ji. Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Beberapa detik kemudian, seorang perawat yang baru selesai bertugas keluar dari rumah sakit sambil meregangkan bahunya “Hari ini capek banget” katanya. Temannya tersenyum “Tapi pasien di ruang tiga akhirnya boleh pulang” jawabnya. “Syukurlah” katanya. Mendengar percakapan sederhana itu, senyum Min Ji kembali muncul. “Ternyata ada kabar baik hari ini” kata Min Ji. Barista kemudian menyerahkan secangkir kopi hangat "Ini sudah siap, satu coffee latte hangat” kata barista. “Terima kasih” kata Min Ji sambil menerima coffee latte hangat miliknya. Ia tidak langsung pergi, sebaliknya ia berdiri di pinggir trotoar sambil menikmati kopi hangatnya perlahan. Tatapannya masih tertuju pada rumah sakit di seberang jalan mendengar suara langkah kaki yang tergesa, panggilan dari pengeras suara, hingga tawa para tenaga medis yang baru selesai bertugas bercampur menjadi satu. Anehnya semua suara itu justru membuat hatinya terasa damai “Semoga hari ini lebih banyak orang yang pulang dengan senyuman” kata Min Ji. Angin sore berembus pelan, menggoyangkan rambutnya, Min Ji menyesap kopinya sekali lagi sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya, meninggalkan rumah sakit dengan senyum yang masih tertinggal di wajahnya. Tanpa seorang pun tahu, setiap kali melewati tempat itu, selalu ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan memenuhi hatinya.

Menjelang sore, tepian Sungai Han dipenuhi angin sejuk yang bertiup perlahan. Beberapa orang sedang berlari kecil di jogging track, ada yang duduk menikmati kopi, sementara pasangan muda berjalan santai menyusuri tepian sungai. Di bawah sebuah pohon besar, Tae Young duduk sendirian. Sebuah kanvas kecil berdiri di depannya, kotak cat air terbuka rapi di sampingnya, beberapa kuas tersusun dengan hati-hati seolah masing-masing memiliki tempatnya sendiri. Tae Young tidak terburu-buru, ia hanya menatap permukaan sungai cukup lama. Air beriak pelan mengikuti embusan angin. “Rasanya sangat tenang sekali dan menyenangkan” gumamnya. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam warna biru, lalu mulai menggoreskan warna pertama di atas kanvas. Tangannya bergerak mengikuti apa yang ia rasakan, sesekali ia berhenti menatap langit, menatap air lalu kembali melukis. Beberapa anak kecil berlari melewatinya sambil tertawa, di kejauhan, seorang ayah sedang mengajari putrinya bersepeda. Tae Young memperhatikan mereka beberapa detik, tiba-tiba senyum tipis muncul di wajahnya “Aku sangat senang melihat mereka bahagia seperti itu” kata Tae Young. Tak lama kemudian, seorang anak kecil menghampirinya “Wah, bagus sekali gambarnya” kata anak kecil. Tae Young sedikit terkejut lalu menoleh “Terima kasih” kata Tae Young. Anak itu memperhatikan kanvasnya dengan mata berbinar “Hyung pelukis?” tanya anak kecil. Tae Young menggaruk tengkuknya pelan “Bisa dibilang begitu” jawab Tae Young. “Aku juga suka menggambar” kata anak kecil. “Teruslah menggambar jika kamu suka” kata Tae Young. “Meskipun hasilnya belum bagus?” tanya anak kecil itu. Tae Young tersenyum “Menurutku tidak ada gambar yang jelek karena setiap gambar menyimpan perasaan orang yang membuatnya” jawab Tae Young. Anak kecil itu mengangguk penuh semangat sambil tersenyum “Kalau begitu aku akan menggambar lebih banyak lagi!” kata anak kecil. Tae Young tersenyum “Itu bagus, kamu harus selalu semangat seperti itu” kata Tae Young. Anak itu kemudian berlari kembali menghampiri orang tuanya. Suasana kembali tenang, Tae Young memandang kanvasnya lagi. Di sana perlahan muncul pemandangan Sungai Han saat matahari hampir tenggelam, namun di salah satu sudut lukisan terdapat sebuah siluet kecil yang duduk sendirian memandangi air. Sosok itu tampak sangat kesepian, Tae Young menatapnya cukup lama “Ini aneh. Aku selalu menggambar orang yang sendirian. Lain kali aku ingin mencoba menggambar seseorang yang sedang tersenyum” kata Tae Young. Tae Young memejamkan mata sejenak, menikmati suara air yang mengalir pelan, tempat ini selalu memberinya ketenangan seolah setiap kali ia kehilangan kata-kata, Sungai Han akan mendengarkan semua yang tidak mampu ia ucapkan. Ia tersenyum tipis, lalu kembali mengangkat kuasnya.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Ji Ah akhirnya berdiri dari kursinya “Kalau begitu aku pulang dulu” katanya sambil memasukkan buku catatan ke dalam tas. Ryu Jung yang sedang merapikan beberapa cangkir di atas meja menoleh kepadanya “Oke, hati-hati di jalan Ji Ah-ya” kata Ryu Jung. Ji Ah mengangguk dan tersenyum “Terima kasih untuk hari ini, eonni” kata Ji Ah. Ryu Jung tersenyum “Sampai jumpa lagi, Ji Ah-ya” kata Ryu Jung. Ji Ah melambaikan tangan sebelum berjalan keluar. Bel pintu cafe berbunyi pelan, lalu sosoknya menghilang di balik pintu kaca. Di tempat lain, Sang Hee berdiri di depan sebuah apartemen. Apartemen yang dulu pernah menjadi rumahnya, ia menatap pintu itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Tangannya terulur dan menyentuh gagang pintu, meskipun sebagai roh ia tidak benar-benar membutuhkan kunci untuk masuk. Begitu berada di dalam, langkahnya perlahan terhenti karena semuanya masih terlihat hampir sama. Sofa kecil di sudut ruangan, rak buku yang dulu sering ia gunakan, beberapa foto lama yang masih tersimpan di atas meja. Bahkan sebuah mug yang pernah diberikan Yeon Ha kepadanya saat ulang tahun masih berada di tempatnya. Sang Hee berjalan mendekat, tangannya menyentuh permukaan meja, lalu ia tersenyum “Sudah lama sekali aku tidak kesini” kata Sang Hee. Ia berjalan menuju kamar lamanya, di sana masih ada beberapa barang yang belum pernah sempat ia bawa, sebuah kotak kecil berisi foto-foto lama, beberapa buku, dan sebuah foto dirinya bersama Yeon Ha ketika mereka masih muda. Sang Hee mengambil foto itu, dalam foto tersebut, mereka berdua sedang tertawa sambil memegang gelas minuman di depan kedai tteokbokki. Sang Hee tertawa melihatnya “Waktu itu kita masih bodoh banget” kata Sang Hee. Namun senyumnya perlahan memudar, ia menatap foto itu lebih lama “Setelah lusa, aku benar-benar nggak bisa kembali ke sini lagi” kata Sang Hee. Untuk beberapa detik, Sang Hee hanya berdiri diam dan tidak menangis mungkin karena selama ini ia sudah terlalu sering menangis atau mungkin karena sebagian dirinya masih belum benar-benar percaya bahwa semuanya akan berakhir. Akhirnya Sang Hee meletakkan foto itu kembali “Aku baru ingat, aku masih punya beberapa tempat yang harus aku datangi” kata Sang Hee.

Malam itu, ia meninggalkan apartemennya. Tempat pertama yang ia datangi adalah kedai tteokbokki kecil di dekat sungai. Begitu melihat kedai itu, wajah Sang Hee langsung berubah menjadi lebih senang, ia berdiri di seberang jalan sambil memandangi tempat yang dulu sering ia datangi bersama Yeon Ha. Dulu mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan semangkuk tteokbokki dan minuman dingin, Yeon Ha selalu mengeluh karena Sang Hee memesan terlalu banyak. Dan Sang Hee selalu menjawab bahwa hidup terlalu singkat untuk menghitung berapa banyak tteokbokki yang mereka makan, Sang Hee tertawa mengingatnya “Aku masih ingat” kata Sang Hee. Ia berjalan mendekati bangku kecil di dekat sungai, di sanalah mereka sering duduk setelah makan. Sang Hee duduk dan menatap air yang mengalir perlahan “Yeon Ha-ya, maafkan aku” kata Sang Hee. Angin malam berembus pelan melewati rambutnya, Sang Hee menundukkan kepala “Aku sebenarnya nggak mau pergi tanpa bilang apa-apa. Aku cuma takut. Aku takut kamu marah. Aku takut kamu kecewa. Aku takut kalau aku datang, semuanya malah jadi lebih sakit. Padahal aku yang bikin semuanya semakin sulit” kata Sang Hee. Setelah beberapa saat, Sang Hee berdiri.

Ia kemudian berjalan menuju taman dekat kantor lama mereka, tempat itu masih sama. Bangku kayu yang dulu sering mereka duduki masih berada di bawah pohon besar. Sang Hee berdiri di depannya dan tersenyum ketika mengingat bagaimana Yeon Ha dulu selalu membawa dua minuman, lalu menyuruhnya memilih salah satu “Yang ini punyaku” kata Yeon Ha. “Yang itu juga punyaku karena kamu selalu bilang kamu nggak suka yang terlalu manis” kata Sang Hee. Sang Hee duduk di bangku tersebut, ia menikmati kesunyian lalu memejamkan mata. Seandainya waktu bisa berhenti di sini, mungkin ia ingin tinggal lebih lama, namun ia tahu waktunya tidak banyak “Lusa, aku harus segera pergi” kata Sang Hee. Sang Hee membuka mata perlahan, setelah itu ia pergi ke tempat terakhir menuju halte bus tua dekat sekolah mereka. Tempat yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi Sang Hee tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan. Ia masih bisa membayangkan dirinya dan Yeon Ha berdiri di sana dengan seragam sekolah menunggu bus, bertengkar karena hal-hal kecil dan tertawa karena hal-hal yang bahkan sudah mereka lupakan. Sang Hee berdiri di tempat yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Ia menatap jalanan yang kini jauh lebih ramai. “Kalau waktu bisa diulang, aku tetap akan memilih jadi sahabatmu. Bahkan kalau akhirnya harus sesakit ini, aku akan tetap memilih jadi sahabatmu dan aku tidak menyesalinya” kata Sang Hee. Sang Hee menundukkan kepala, ia tidak tahu apakah Yeon Ha akan memaafkannya dan ia juga tidak tahu apakah pertemuan mereka lusa akan berjalan seperti yang ia harapkan. Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya sejak kematiannya, Sang Hee tidak lagi ingin bersembunyi. Ia ingin mengakhiri semuanya dengan baik bukan dengan meninggalkan luka, bukan dengan rasa bersalah melainkan dengan terakhir bersama orang yang paling ia sayangi. Sang Hee menatap langit malam “Yeon Ha-ya, tunggu aku” kata Sang Hee.

Malam sudah semakin larut ketika Cafe Cheongbaram akhirnya benar-benar sepi. Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam. Ryu Jung mematikan beberapa lampu sementara Ji Eun merapikan cangkir terakhir yang masih berada di atas meja. “Hari ini benar-benar melelahkan” gumam Ji Eun sambil menghela napas panjang. “Aku bahkan belum sempat duduk dengan tenang sejak pagi” sahut Min Ji sambil mengambil tasnya. Tae Young sudah lebih dulu membereskan beberapa peralatan lukisnya, sementara Jin Woo berdiri di dekat pintu sambil menguap “Besok kita masih harus memikirkan persiapan untuk lusa. Jangan sampai kita lupa kalau waktunya tinggal sedikit” katanya. Ryu Jung mengangguk dan mengambil kunci cafe. “Kita pulang dulu malam ini. Besok kita lanjutkan semuanya” Ia baru saja hendak mematikan lampu terakhir ketika terdengar suara ketukan dari luar. Tok…Tok... Tok... Semua langsung terdiam. Jin Woo perlahan menoleh ke arah pintu “Ada orang?” tanyanya pelan. Tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan lagi, kali ini lebih keras. Tok…. Tok…. Tok…. Min Ji langsung mendekati Ryu Jung “Eonni, siapa yang datang tengah malam begini?” bisiknya. Ryu Jung mengernyit dan berjalan mendekati pintu “Semuanya tetap di belakangku” katanya. Ketika pintu dibuka, seorang pria berdiri di depan cafe. Pakaiannya terlihat berantakan, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat. Ia menatap Ryu Jung dengan ekspresi panik. “Tolong saya, saya butuh bantuan” katanya. Ryu Jung menatapnya dari atas ke bawah “Anda siapa?” tanya Ryu Jung. Pria itu menelan ludah lalu menjawab cepat “Saya detektif” Ia langsung menunjukkan sebuah kartu identitas dengan tangan gemetar. “Nama saya Detektif Han Jae Wook” jawabnya. Jin Woo yang berdiri beberapa langkah di belakang Ryu Jung langsung mengangkat alis “Detektif?” gumamnya. Pria itu mengangguk cepat. “Iya. Saya mengalami kecelakaan” kata nya. Ryu Jung memperhatikan wajahnya dengan lebih saksama “Kecelakaan?” tanyanya. Detektif Han mengangguk “Mobil saya ditabrak di persimpangan. Saya kehilangan kendali dan setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya bangun dan tiba-tiba sudah berada di sini. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa sampai disini” katanya sambil mengusap kepalanya sendiri.

Lihat selengkapnya