Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #11

A Night of Unfinished Words

Jae Wook berjalan di samping Jae Sung dengan ekspresi penuh curiga. Beberapa kali ia melirik pria itu, sebelum akhirnya tak tahan untuk bertanya. “Jadi... sebenarnya apa tugas saya di kafe itu?” tanya Jae Wook. Jae Sung tetap melangkah santai tanpa menoleh “Bekerja” jawab Jae Sung. Langkah Jae Wook mendadak terhenti. “Bekerja?” tanya Jae Wook “Iya” jawab Jae Sung. “Sebagai apa?” tanya Jae Wook. “Sebagai barista” jawab Jae Sung. Jae Wook menatapnya tak percaya “Tapi saya ini detektif!” kata Jae Wook. “Itu kan dulu” sahut Jae Sung datar. “Kenapa Anda mengatakannya santai sekali?” protes Jae Wook. “Saya bahkan belum sempat menerima kenyataan kalau saya mungkin sudah meninggal, lalu sekarang Anda malah menyuruh saya jadi barista?” tanya Jae Wook.

Jae Sung menghela napas pendek. “Sekarang kau harus menjalankan tugasmu di Cafe Cheongbaram, Han Jae Wook. Jangan banyak bertanya.” jawab Jae Sung. “Baiklah” jawab Jae Wook pasrah walau raut wajahnya enggan. “Tapi saya masih punya beberapa pertanyaan” kata Jae Wook. Jae Sung akhirnya ikut menghentikan langkah. “Apa lagi?” tanya Jae Sung. “Pertama, saya tinggal di mana?” tanya Jae Wook. “Di rumah yang sudah disediakan” jawab Jae Sung. Jae Wook mengernyit “Gratis?” tanya Jae Wook. Jae Sung diam sejenak, memandangnya heran “Kau masih memikirkan uang?” tanya Jae Sung.

“Saya ini detektif. Saya harus tahu sistem dan kontraknya,” cetusnya membela diri. “Kau tak perlu bayar sewa” jawab Jae Sung. Mata Jae Wook membelalak “Serius?” tanya nya. “Serius” jawab Jae Sung. “Bagaimana dengan listrik?” tanya Jae Wook. “Nggak perlu kau pikirkan” jawab Jae Sung. “Bagaimana dengan Air?” tanya Jae Wook. “Sama, itu juga jangan di pikirkan” jawab Jae Sung. Kecurigaan Jae Wook justru makin menjadi-jadi “Jadi saya tinggal gratis, makan di kafe, dan kerja di sana?” tanya Jae Wook. “Kurang lebih begitu” jawab Jae Sung. “Ini kafe atau tempat penampungan roh?” tanya Jae Wook. “Anggap saja kau sedang dapat kesempatan kedua” tanggap Jae Sung tenang. Jae Wook terdiam, raut wajahnya sempat melunak, tetapi naluri detektifnya dengan cepat mengambil alih. “Kalau saya kerja di kafe, apa tugas saya selain bikin kopi?” tanya Jae Wook. “Melayani pelanggan, membantu roh yang datang, dan mendengarkan keinginan mereka kalau diperlukan” jawab Jae Sung.

“Jadi saya bakal berurusan sama roh tiap hari?” tanya Jae Wook. “Tidak selalu, karena ada juga pelanggan manusia yang berkunjung” jawab Jae Sung. “Gimana kalau ada roh yang enggan pergi?” tanya Jae Wook. “Maka itu sudah tugas kalian untuk membantu mereka menyelesaikan urusan yang tertinggal” jawab Jae Sung. Jae Wook menimbang-nimbang jawaban itu, lalu mengangguk “Sepertinya nggak terlalu sulit” kata Jae Wook. “Tentu saja, latar belakangmu sebagai detektif bakal sangat berguna di sini, Han Jae Wook-ssi” sahut Jae Sung. “Berarti saya masih boleh pakai kemampuan detektif saya?” tanya Jae Wook. “Tentu saja” jawab Jae Sung. Sebuah sunggingan tipis muncul di wajah Detektif Han. “Kalau gitu, mungkin pekerjaan ini nggak buruk-buruk amat” kata Jae Wook. Jae Sung meliriknya sekilas, lalu kembali berjalan. “Jangan keburu menyimpulkan” kata Jae Sung.

Mereka kembali berjalan dalam diam. Namun beberapa langkah kemudian, Jae Wook berhenti lagi. “Jae Sung-ssi” panggil Jae Wook. “Ada apa?” tanya Jae Sung. “Kalau saya tidak perlu membayar sewa, berarti saya boleh minta kamar yang punya jendela dengan view yang bagus?” tanya Jae Wook. Jae Sung menghela napas “Kau baru saja menjadi roh dan sudah mulai banyak permintaan” jawab Jae Sung. Jae Wook tersenyum “Saya hanya memastikan fasilitas yang saya dapatkan sebanding dengan pekerjaan yang akan saya lakukan” kata Jae Wook. “Kau benar-benar merepotkan” jawab Jae Sung. “Terima kasih” jawab Jae Wook. “Itu bukan pujian” kata Jae Sung. “Saya anggap saja itu sebagai pujian” kata Jae Wook. Jae Wook kembali berjalan di samping Jae Sung, wajahnya terlihat lebih tenang tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa pikirannya masih dipenuhi banyak pertanyaan. “Jae Sung-ssi” panggil Jae Wook. Jae Sung menghela napas “Apa lagi?” tanya Jae Sung. “Saya punya beberapa pertanyaan tambahan” kata Jae Wook. “Ada berapa banyak pertanyaan?” tanya Jae Sung. Jae Wook berpikir sebentar “Belum tahu, tapi pasti pertanyaan itu akan berakar dengan sendirinya” jawab Jae Wook. Jae Sung menatapnya datar “Cepat, apalagi” kata Jae Sung.

“Pertama, kalau saya bekerja sebagai barista, apakah saya benar-benar bisa membuat kopi?” tanya Jae Wook. “Bisa” jawab Jae Sung. “Bagaimana kalau saya tidak bisa? Kan anda tahu background saya” tanya Jae Wook. “Belajar” jawab Jae Sung. “Di mana?” tanya Jae Wook. “Di cafe” jawab Jae Sung. Jae Wook mengangguk “Baik kalau begitu, berarti ada sesi training untukku” kata Jae Wook. “Ah benar, siapa yang akan melatih saya?” tanya Jae Wook lagi. “Pegawai cafe lainnya” jawab Jae Sung. “Kalau ada roh yang datang dan saya sedang sendirian di cafe?” tanya Jae Wook. “Kau harus membantunya” jawab Jae Sung. “Kalau rohnya menyeramkan?” tanya Jae Wook. Jae Sung menoleh “Kau tahu sendiri, bukankah lebih menyeramkan manusia?” tanya Jae Sung. Jae Wook langsung terdiam “Benar juga, terkadang di dunia ini manusia lebih menyeramkan dibandingkan mereka yang sudah pergi dari dunia ini dan menjadi roh” gumam Jae Wook. 

“Apa yang harus kulakukan kalau ada pelanggan roh yang marah?” tanya Jae Wook. “Tentu saja harus di tenangkan” jawab Jae Sung. “Kalau dia menyerang?” tanya Jae Wook. “Jangan membalas” jawab Jae Sung. “Kenapa mereka boleh menyerang kita, tapi kita tidak boleh membalasnya? Bukankah itu tidak adil?” tanya Jae Wook. “Karena tugasmu bukan melawan mereka” jawab Jae Sung. “Kalau begitu, saya punya pertanyaan soal pakaian” kata Jae Wook. Jae Sung menghela napas “Apa lagi?” tanya Jae Sung. “Apakah kita tidak memakai seragam?” tanya Jae Wook. “Tidak ada” jawab Jae Sung. “Tidak ada?” tanya Jae Wook. “Kau bebas memakai pakaian yang nyaman” jawab Jae Sung. “Bagaimana kalau saya ingin membeli pakaian baru?” tanya Jae Wook. “Boleh” jawab Jae Sung. “Pakai uang dari mana? Saya kan tidak punya penghasilan” tanya Jae Wook sambil menunjuk dirinya sendiri. “Kau akan mendapat uang saku dari cafe” jawab Jae Sung.

Jae Wook terdiam cukup lama lalu ia kembali bertanya “Satu pertanyaan lagi” kata Jae Wook. Jae Sung langsung menatapnya. “Apa lagi?” tanya Jae Sung. Jae Wook tersenyum polos “Besok saya mulai kerja jam berapa?” tanya Jae Wook. “Cukup!” kata Min Ji tiba-tiba. Jae Wook langsung menoleh. “Apa? Kenapa?” tanya Jae Wook. Min Ji berjalan mendekatinya dengan wajah gemas “Anda dari tadi bertanya terus!” kata Min Ji. “Saya hanya ingin memahami pekerjaan saya” jawab Jae Wook. “Bukan memahami! Itu terlihat seperti Jae Wook-ssi sedang menginterogasi tersangka!” bantah Min Ji. Ryu Jung yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung menahan tawa, Ji Eun menutup mulutnya sambil tersenyum, sementara Tae Young menundukkan kepala karena bahunya mulai bergetar menahan tawa. Jae Wook terlihat bingung “Memangnya saya bertanya sebanyak itu?” tanya Jae Wook. “Sebanyak itu?” tanya Min Ji sambil melotot. “Anda bahkan sudah menanyakan gaji, sewa rumah, listrik, pakaian, seragam, pelanggan, roh, tugas, sampai jam kerja!” jawab Min Ji. Jae Wook berpikir sebentar. “Oh, benar juga. Kebiasaan lama saya sebagai detektif ternyata tidak hilang” jawab Jae Wook.

Min Ji semakin gemas melihat ekspresi polosnya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mencubit pinggang Jae Wook. “Awwwww!” pekik Jae Wook. Semua langsung tertawa. “Min Ji-ya, jangan dicubit!” seru Ryu Jung sambil tertawa. “Dia yang bikin aku gemas!” jawab Min Ji sambil tertawa. Jae Wook memegang pinggangnya sendiri dengan wajah tidak percaya. “Kenapa saya dicubit?!” tanya Jae Wook. “Karena Anda terlalu banyak bertanya!” jawab Min Ji. “Saya hanya memastikan semuanya jelas!” jawab Jae Wook. “Tidak perlu sampai seperti sedang menginterogasi tersangka!” kata Min Ji. Jae Wook menunjuk dirinya sendiri “Tapi saya memang detektif” jawab Jae Wook. “Tapi itu dulu!” jawab Min Ji. Ji Eun langsung tertawa lebih keras mendengar jawaban itu. “Min Ji-ya, jangan begitu” kata Ji Eun. “Eonni, dari tadi aku tidak tahan. Aku merasa dia akan mengeluarkan buku catatan dan mulai mencatat jawaban kita satu persatu” kata Min Ji. Tae Young akhirnya ikut tertawa “Sebenarnya aku juga sempat berpikir begitu” kata Tae Young. Jae Wook menghela napas panjang “Baiklah, saya akan berhenti bertanya untuk sekarang” kata Jae Wook. Semua langsung terdiam, tetapi Min Ji menatapnya curiga “Benarkah?” tanya Min Ji. “Benar, lihat saja” jawab Jae Wook. Dua detik berlalu tiba-tiba Jae Wook kembali berbicara “Ngomong-ngomong….” ucap Jae Wook. “AH! HENTIKAN!” kata Min Ji yang langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

 “Aku yakin besok dia akan membuat semua orang di cafe pusing” kata Min Ji. Ryu Jung tersenyum. “Mungkin saja” jawab Ryu Jung. Jae Wook yang mendengar dari belakang langsung menyahut “Saya masih bisa mendengar kalian” kata Jae Wook. Min Ji menoleh dan tersenyum jahil “Bagus. Berarti pendengaran Anda masih berfungsi” kata Min Ji. Jae Wook menghela napas mendengar jawaban Min Ji. Untuk pertama kalinya sejak mengetahui bahwa dirinya telah menjadi roh, ia merasa tidak sendirian karena perjalanan menuju kehidupan barunya tidak terasa sesepi yang ia bayangkan. Setelah tiba, Ryu Jung membawa Jae Wook naik ke lantai paling atas bangunan tempat mereka tinggal. Tangga menuju lantai tersebut cukup panjang dan sedikit berliku. Lampu-lampu kecil terpasang di sepanjang dinding, memberikan cahaya hangat yang membuat suasana malam terasa lebih tenang. Jae Wook berjalan di belakang Ryu Jung sambil memperhatikan sekeliling “Jadi, saya benar-benar tinggal di sini?” tanya Jae Wook. “Iya” jawab Ryu Jung. Mereka akhirnya sampai di lantai paling atas. Ryu Jung membuka sebuah pintu di ujung lorong “Nah. Ini kamar Anda” kata Ryu Jung. Jae Wook berdiri di depan pintu dan menatapnya beberapa detik “Sendiri?” tanya Jae Wook. “Sendiri” jawab Ryu Jung. “Kenapa saya dapat yang paling atas?” tanya Jae Wook. “Karena kamar ini kosong. Masuklah dulu, besok kita jelaskan hal-hal lainnya” kata Ryu Jung.

Ryu Jung membuka pintunya lebih lebar, Jae Wook melangkah masuk namun baru beberapa langkah, dia langsung berhenti karena melihat ada tempat tidur, lemari kecil, meja kerja, lampu baca, dan sebuah kursi di dekat jendela. Tapi yang membuatnya terdiam bukanlah isi kamarnya melainkan jendelanya, jendela besar itu menghadap langsung ke luar kota. Jalanan malam tampak tenang, sementara langit gelap terbentang luas tanpa terhalang bangunan tinggi. Jae Wook perlahan mendekati jendela “Wah, ini luar biasa” gumam Jae Wook. Ryu Jung yang masih berdiri di ambang pintu tersenyum “Apakah anda menyukainya?” tanya Ryu Jung. Jae Wook tidak langsung menjawab, ia membuka sedikit tirai yang menutupi jendela. Pemandangan dari lantai paling atas itu jauh lebih indah daripada yang ia bayangkan “Ini lumayan” jawab Jae Wook. Ryu Jung tertawa “Lumayan?” tanya Ryu Jung. Jae Wook mengangguk dengan wajah serius “Sebagai seorang detektif, saya tidak mudah terkesan” jawab Jae Wook. “Oh, begitu ya” kata Ryu Jung. “Tapi pemandangannya bagus” kata Jae Wook. “Nah, akhirnya jujur” kata Ryu Jung. Jae Wook menoleh “Saya cuma bilang bagus. Jangan dibesar-besarkan” kata Jae Wook. “Baiklah, aku mengerti” kata Ryu Jung. Ryu Jung hendak pergi ketika Jae Wook kembali memanggilnya “Ryu Jung-ssi?” panggil Jae Wook. Ryu Jung berhenti dan berbalik “Ya? Kenapa?” tanya Ryu Jung. “Kalau saya mau duduk di sini sampai malam, apakah boleh?” tanya Jae Wook. Ryu Jung tersenyum “Boleh. Selamat datang di tempat baru anda Han Jae Wook-ssi” kata Ryu Jung. “Jangan panggil saya seperti itu kalau di rumah” kata Jae Wook. “Lalu saya harus panggil apa?” tanya Ryu Jung. “Jae Wook saja” jawab Jae Wook. Ryu Jung mengangguk “Baik, Jae Wook-ssi” kata Ryu Jung.

Lihat selengkapnya