Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #12

The Night They Finally Met

Sang Hee akhirnya ikut tertawa, Jae Wook melihat ekspresinya kemudian matanya jatuh pada tteokbokki di meja. “Ini semua untuk Anda?” tanya Jae Wook. Sang Hee mengangguk “Iya” jawab Sang Hee. Jae Wook melihat makanan itu “Banyak sekali” gumam Jae Wook. “Ini makanan untuk tamu nanti, Jae Wook-ssi. Lihat dan perhatikan saja nanti” jawab Ryu Jung. Jae Wook kemudian mengambil salah satu kotak dekorasi “Kalau begitu, saya kembali bekerja” kata Jae Wook. Sang Hee mengangguk “Baiklah, pegawai baru” kata Sang Hee. Jae Wook berhenti lalu langsung menoleh “Nama saya Han Jae Wook bukan pegawai baru” kata Jae Wook. Sang Hee tersenyum “Baik, Jae Wook-ssi” kata Sang Hee. Jae Wook mengangguk, kemudian pergi membawa kotak-kotak tersebut. Sang Hee memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu kemudian ia menoleh kepada Ryu Jung “Dia agak aneh” kata Sang Hee. Ryu Jung tersenyum “Kamu belum tahu sifat aslinya, lebih parah dari ini” kata Ryu Jung. Sang Hee tertawa “Kenapa?” tanya Sang Hee. “Karena kamu baru melihat sedikit saja” jawab Ryu Jung. Dari kejauhan terdengar suara Jae Wook. “SAYA MASIH BISA DENGAR, RYU JUNG-SSI!” teriak Jae Wook. “Lihat kan? Pendengaran detektifnya masih bekerja dengan baik” kata Ryu Jung. Sang Hee mengangguk sambil tersenyum.

Jam di dinding klinik menunjukkan pukul 17:30 ketika Sang Yeon akhirnya menutup berkas pasien terakhirnya. Ia menghela napas panjang, lalu bersandar sebentar di kursinya. “Lima lewat tiga puluh, kalau berangkat sekarang masih sempat” kata Sang Yeon sambil melirik jam tangannya sekali lagi. Ia mulai merapikan meja, memasukkan beberapa dokumen ke dalam laci dan mematikan layar komputernya. Baru saja ia berdiri, terdengar ketukan dari pintu ruang konsultasi. Tok... Tok…. Sang Yeon menoleh “Masuk” jawab Sang Yeon. Seorang perawat membuka pintu dengan ekspresi sedikit ragu “Sang Yeon-ssi” kata Perawat. “Iya? Kenapa?” tanya Sang Yeon.

“Pasien yang konsultasi sekarang hanya mau konsultasi dengan anda” jawab Perawat. Sang Yeon langsung melihat jam “Sekarang?” tanya Sang Yeon. Perawat itu mengangguk “Iya. Tadinya pasiennya dijadwalkan dengan dokter lain, tapi dia bilang, dia ingin ditangani langsung oleh anda” jawab Perawat. Sang Yeon menatap meja kerjanya yang sudah hampir selesai ia rapikan, namun kalau pasien itu memang merasa lebih nyaman berbicara dengannya, menolaknya begitu saja juga terasa tidak tepat. “Apakah pasien sudah menunggu?” tanya Sang Yeon. “Iya, ada di ruang tamu” jawab Perawat. Sang Yeon menghela napas kecil “Baiklah, biarkan pasien masuk” kata Sang Yeon. Perawat itu tampak lega, Sang Yeon berdiri diam beberapa detik kemudian ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 17:34 “Mari kita selesaikan Sang Yeon-ah” kata Sang Yeon sambil memakai kembali jasnya.

Di tempat lain, Yeon Ha juga sedang berusaha meninggalkan kantornya. Laptopnya sudah dimatikan, dokumen sudah tersusun rapi, tas sudah berada di atas meja bahkan ponselnya sudah dimasukkan ke dalam tas, ia tinggal berdiri dan pergi. Yeon Ha melihat jam yang menunjukkan pukul 17:34 “Kalau berangkat sekarang, aku nggak akan terlambat” kata Yeon Ha. Tangannya baru saja meraih tali tas ketika suara seseorang terdengar dari arah pintu “Yeon Ha-ya” ucap rekan. Yeon Ha menoleh, seorang rekan kerjanya berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa dokumen “Belum pulang?” tanya rekan. Yeon Ha menahan napas “Belum” jawab Yeon Ha. “Oh, bagus kalau begitu” kata rekan nya. “Kenapa?” tanya Yeon Ha. “Ini ada satu berkas dari klien tadi. Aku sudah cek, tapi ada bagian yang perlu kamu lihat sebelum dikirim” jawab rekan. Yeon Ha menatap dokumen yang disodorkan kepadanya kemudian menatap jam yang sekarang menunjukkan pukul 17.35 “Sekarang?” tanya Yeon Ha. “Iya. Maaf banget” jawab rekan. Yeon Ha menerima berkas itu “Memangnya harus hari ini?” tanya Yeon Ha. “Kalau bisa memang harus sekarang” jawab rekan. Yeon Ha memejamkan mata sebentar “Baiklah, akan ku lihat” kata Yeon Ha. Rekannya tersenyum lega “Terima kasih, Yeon Ha-ya” kata rekan. “Iya” jawab Yeon Ha. Begitu rekannya pergi, Yeon Ha meletakkan berkas itu di meja. Ia menatapnya selama beberapa detik “Kenapa selalu begini, astaga. Aku sudah menolak rapat tapi kali ini aku harus mengerjakan ini” kata Yeon Ha sambil duduk kembali.

Sementara itu, Yeon Ha masih menatap layar komputernya “Yang ini kenapa beda?” tanya Yeon Ha sambil membaca ulang dokumen tersebut. Ia membuka dokumen sebelumnya lalu membandingkan lalu kembali ke dokumen terbaru. “Ah, ternyata ada yang salah” kata Yeon Ha sambil mengetik kemudian menghapusnya lalu mengetik lagi sambil menghela napas. Jam di pojok layar menunjukkan 17:47 “Ya Tuhan, apakah aku bisa datang” kata Yeon Ha. Yeon Ha menggigit bibir bawahnya “Aku harus datang, semangat Yeon Ha-ya!” kata Yeon Ha sambil kembali melihat dokumen.

Lima menit kemudian, ia masih di depan komputer. Sepuluh menit kemudian, masih sama. Pukul 17:58 akhirnya Yeon Ha menekan tombol save. “Akhirnya, sudah selesai! Sekarang aku akan pulang” kata Yeon Ha. Ia langsung berdiri dan membereskan barang-barang. Baru dua langkah menuju pintu terdengar suara rekan Yeon Ha yang memanggil nya “Yeon Ha-ya!” kata rekan. Yeon Ha berhenti sambil pelan-pelan ia menoleh, “Ada apa lagi?” tanya Yeon Ha. “Maafkan aku” katanya. Yeon Ha memejamkan mata “Apa lagi?” tanya Yeon Ha. “Pengacara Han mengirimkan berkas di email, tolong segera di check sebelum pulang” jawab rekan. Yeon Ha menghela napas, rekannya tersenyum canggung “Cuma sebentar Yeon Ha-ya” kata rekan nya. Yeon Ha menarik napas dalam-dalam. “Baik, aku segera masuk ke dalam dan periksa berkas nya” jawab Yeon Ha. Ia kembali ke mejanya “Cuma sebentar, kau bisa Yeon Ha-ya!” kata Yeon Ha sambil menyemangati dirinya.

Di klinik, jam sudah menunjukkan 18:03 ketika Sang Yeon akhirnya menutup catatan pasiennya “Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Sang Yeon. Pasien itu terlihat lebih tenang “Rasanya sekarang lebih baik” jawab Pasien. Sang Yeon tersenyum “Bagus, senang mendengarnya” kata Sang Yeon. “Sang Yeon-ssi, terima kasih karena tetap menerima saya” ucap Pasien. Sang Yeon tersenyum “Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku” jawab Sang Yeon. Ia berdiri dan mengantar pasien sampai pintu kemudian tersenyum, Ia menutup pintu setelah pasien pergi lalu melihat jam yang menunjukkan pukul 19:00. Sang Yeon menghela napas panjang “Sekarang, aku harus segera kesana” kata Sang Yeon sambil mengambil tasnya.

Di kantor Han & Associates, Yeon Ha masih duduk di depan komputer. Jam sudah menunjukkan 19:00, ia menatap email yang baru saja diperiksa “Sekarang sudah selesai” kata Yeon Ha. Ia mengirimkannya kemudian langsung mematikan komputer “Sekarang sudah selesai” kata Yeon Ha.

Pukul 19:00 di Cafe Cheongbaram sudah benar-benar siap. Lampu-lampu kecil di sekitar jendela telah dinyalakan. Meja di sudut ruangan sudah dihias sederhana dengan bunga-bunga kecil berwarna putih. Dua gelas minuman sudah diletakkan berdampingan, lengkap dengan camilan yang sebelumnya disiapkan Ryu Jung dan Min Ji. Di atas meja, ada sebuah foto lama yaitu foto Sang Hee, Yeon Ha, Sang Yeon. Semuanya sudah selesai tinggal menunggu. Ryu Jung melihat sekeliling cafe, lalu mengangguk puas “Akhirnya sudah selesai” kata Ryu Jung. Min Ji yang sedang merapikan posisi gelas menoleh “Eonni yakin?” tanya Min Ji. “Sangat yakin” jawab Ryu Jung. Min Ji melihat lagi ke meja “Bunga nya nggak terlalu banyak kan?” tanya Min Ji. “Tidak, ini sudah cukup” jawab Ryu Jung. “Oke! Mari kita periksa. Minumannya sudah ada, makanannya sudah ada dan foto juga sudah ada. Berarti selesai” kata Min Ji sambil mengangguk.

Dari sofa, Sang Hee yang sejak tadi memperhatikan mereka tiba-tiba bertanya “Sekarang jam berapa?” tanya Sang Hee. Ryu Jung dan Min Ji saling pandang “Sekarang jam tujuh” jawab Ryu Jung dan Min Ji bersamaan. “Ternyata masih ada waktu satu jam lagi” kata Sang Hee. Sang Hee kembali duduk, ia menarik napas lalu mengembuskannya kemudian melihat jam lagi. “Sekarang jam berapa?” tanya Sang Hee lagi. “Masih jam tujuh, Sang Hee-ssi” jawab Min Ji. Sang Hee mengerucutkan bibir “Aku tahu” jawab Sang Hee. Min Ji tertawa “Kalau terus dilihat, jarumnya juga nggak akan bergerak lebih cepat” kata Min Ji. “Aku tahu” jawab Sang Hee. “Terus kenapa dilihat terus?” tanya Ryu Jung. Sang Hee diam lalu menjawab “Karena aku gugup” jawab Sang Hee. Min Ji yang tadinya hendak bercanda langsung terdiam, Ryu Jung langsung duduk di sebelah Sang Hee “Apakah Sang Hee-ssi takut?” tanya Ryu Jung.

Sang Hee mengangguk “Bukan cuma takut, kalo nanti ketemu aku gak tahu harus mulai dari mana” jawab Sang Hee. “Mulai dari hal yang ingin Sang Hee-ssi katakan” jawab Ryu Jung sambil tersenyum. “Kalau aku malah menangis?” tanya Sang Hee. “Tidak apa-apa, itu wajar” jawab Ryu Jung. “Aku takut dia marah” kata Sang Hee sambil menundukkan kepala. Ryu Jung terdiam sebentar mendengarkan Sang Hee lalu menjawab “Kalau dia marah, dengarkan saja dulu perkataannya. Jangan langsung membela diri dan jangan memotong pembicaraannya. Dengarkan sampai selesai” kata Ryu Jung. Sang Hee mengangkat wajahnya dan mengangguk “Kalau dia bilang dia nggak mau memaafkan aku?” tanya Sang Hee. Min Ji yang berdiri di dekat meja ikut menjawab “Kalau begitu, setidaknya kamu sudah mengatakan apa yang selama ini ingin kamu katakan” jawab Min ji.

Dari belakang meja bar, Jae Wook yang sejak tadi pura-pura sibuk membersihkan gelas akhirnya melirik ke arah mereka. Ia mendekati Ryu Jung dan bertanya “Dia memang akan bertemu temannya malam ini?” tanya Jae Wook. Ryu Jung mengangguk “Betul, nanti jam 8. Selain temannya, adiknya juga akan datang” jawab Ryu Jung. “Dan kalian yakin mereka akan datang?” tanya Jae Wook. “Kami yakin mereka akan datang” jawab Ryu Jung. Jae Wook mengangguk pelan kemudian ia melihat Sang Hee “Kenapa dia terlihat seperti sedang menunggu vonis hukuman dari hakim?” tanya Jae Wook. Min Ji langsung menoleh “Yaaa! Jangan ngomong begitu” jawab Min Ji. “Aku cuma bilang karena aku mengamati” kata Jae Wook. “Cara ngomongmu memang seperti detektif” kata Min Ji. Jae Wook mendengus “Karena aku memang detektif” jawab Jae Wook. “Sekarang kan sudah bukan” kata Min Ji. Jae Wook memandang Min Ji kemudian menghela napas “Benar juga. Makanya sekarang aku kerja di Cafe ini” kata Jae Wook sambil kembali ke belakang bar.

Sang Hee yang mendengar percakapan itu akhirnya tertawa, untuk pertama kalinya sejak tadi wajahnya terlihat sedikit lebih santai. Jae Wook meliriknya “Nah begitu lebih baik” kata Jae Wook. Sang Hee menatapnya. “Apa?” tanya Sang Hee. “Kamu lebih cocok tertawa daripada terus melihat jam dan terlihat gelisah” jawab Jae Wook. Min Ji langsung menyahut “Setuju” jawab Min Ji. Sang Hee tersenyum malu “Maaf” kata Sang Hee. “Tidak perlu minta maaf” kata Min Ji. Ryu Jung berdiri “Kalau kamu mau, kita bisa latihan” kata Ryu Jung. Sang Hee langsung panik “Latihan?” tanya Sang Hee. “Iya, kita latihan” jawab Ryu Jung. “Latihan apa?” tanya Sang Hee. “Misalnya aku jadi Yeon Ha” jawab Ryu Jung. Mata Sang Hee membesar “Jangan” kata Sang Hee. Min Ji tertawa “Gapapa, bagus itu. Biar nanti gak bingung ngomong apa” jawab Min Ji. “Aku gak mau” kata Sang Hee. “Kenapa?” tanya Min Ji. “Karena aku pasti tambah gugup” jawab Sang Hee. “Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu latihan” kata Ryu Jung sambil tersenyum.

Lihat selengkapnya