Cafe Cheongbaram

Zahra Sofia
Chapter #13

Three Hearts, One Last Night

Yeon Ha akhirnya tertawa sungguhan, meskipun hanya sebentar. Ia menyentuh foto di meja dengan ujung jarinya. “Aku tidak menyangka masih ada yang menyimpan foto ini” kata Yeon Ha. “Kami menemukannya melalui Sang Yeon-ssi” jawab Ryu Jung yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja. “Kami ingin menyiapkan sesuatu yang terasa dekat dengan kalian berdua” kata Ryu Jung. Yeon Ha menoleh kepadanya, baru sekarang ia benar-benar memperhatikan para pegawai cafe, mereka semua tampak tenang, tetapi ada sesuatu dalam tatapan mereka yang membuat Yeon Ha merasa ia sedang melewatkan bagian terpenting dari sebuah cerita. “Maaf,” katanya perlahan. “Sejak masuk ke sini, aku belum benar-benar bertanya karena aku masih sangat bingung dan butuh memproses semuanya. Tempat apakah ini? Mengapa aku bisa bertemu Sang Hee disini?” tanya Yeon Ha. Ryu Jung menarik napas sebelum menjawab.

Ia melirik Sang Hee sebentar, memastikan perempuan itu siap mendengar penjelasan yang sama sekali tidak sederhana “Namaku Lee Ryu Jung. Kami bekerja di Cafe Cheongbaram. Tempat ini menerima tamu yang memiliki urusan belum selesai” jawab Ryu Jung. Yeon Ha mengernyit. “Urusan belum selesai? Kalian mengatakan kepadaku bahwa ada paket dari Sang Hee, tapi ternyata Sang Hee yang datang” jawab Yeon Ha. “Benar” jawab Ji Eun yang kemudian mendekat. “Terkadang ada hal yang belum sempat disampaikan seseorang. Ada penyesalan, janji, atau perpisahan yang belum tuntas. Kami membantu mereka menyelesaikan hal-hal itu” jawab Ji Eun. Yeon Ha menatap Ji Eun, lalu Ryu Jung, sebelum kembali memandang Sang Hee. “Aku tidak mengerti. Apa maksud kalian?” tanya Yeon Ha.

Ryu Jung tidak langsung menjawab. Ia tahu penjelasan apa pun akan terdengar mustahil bagi seseorang yang masih menganggap dunia berjalan berdasarkan aturan yang selama ini ia kenal “Aku tahu ini tidak masuk akal bagimu” katanya akhirnya. “Kalau seseorang menceritakan hal seperti ini kepadaku sebelum aku mengenal tempat ini, mungkin aku juga akan sulit mempercayainya. Tapi apa yang kami katakan kepadamu bukan lelucon. Ini benar-benar terjadi” kata Ryu Jung. “Apakah Sang Hee tidak akan kembali lagi?” tanya Yeon Ha. Sang Hee menggenggam tangan sahabatnya di atas meja “Aku datang ke sini karena masih ada sesuatu yang belum selesai di antara kita. Aku ingin bertemu denganmu dan aku ingin bicara denganmu sekali lagi” jawab Sang Hee. Yeon Ha menunduk. Air matanya jatuh ke punggung tangan Sang Hee. “Aku bahkan tidak tahu kamu sedang menungguku” jawab Yeon Ha. “Kamu datang sekarang, itu yang penting bagiku” jawab Sang Hee.

“Tidak, Sang Hee-ya. Seharusnya aku datang lebih cepat” jawab Yeon Ha mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku seharusnya tidak membiarkan persahabatan kita berakhir seperti itu. Aku seharusnya meneleponmu, menemuimu, melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat” jawab Yeon Ha. “Yeon Ha-ya, dengarkan aku” kata Sang Hee sambil mengeratkan genggamannya “Kamu tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi dan aku juga tidak bisa mengubahnya. Tapi kita masih punya kesempatan untuk bicara malam ini” jawab Sang Hee.

Ji Eun menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu mereka membutuhkan waktu untuk memahami semuanya. Ji Eun menarik kursi dan duduk di sisi meja “Kalian punya waktu untuk berbicara sampai pukul 23:59” kata Ji Eun. Sang Hee terdiam. Meski ia sudah mengetahui bahwa waktunya di dunia ini terbatas, mendengar batas itu disebutkan dengan begitu jelas tetap membuat dadanya terasa berat. Yeon Ha mengerutkan kening “Kenapa pukul 23:59?” tanya Yeon Ha. Ryu Jung melanjutkan penjelasan Ji Eun “Karena tepat pukul 12 malam Sang Hee-ssi harus pergi. Waktunya di sini berakhir malam ini” jawab Ryu Jung. Yeon Ha menatap Ryu Jung tanpa berkedip “Pergi ke mana?” tanya Yeon Ha. Ryu Jung tidak segera menjawab. Ia tahu bahwa kata-kata berikutnya akan terasa kejam, meskipun kenyataan tidak berubah hanya karena mereka memilih untuk tidak menyebutkannya “Ke tempat yang seharusnya ia tuju setelah menyelesaikan urusannya di dunia ini” jawabnya akhirnya. “Kami tidak bisa menahan seseorang di sini setelah waktunya tiba” kata Ryu Jung.

Yeon Ha langsung kembali menggenggam tangan Sang Hee dengan kedua tangannya. “Tidak. Kalian tidak bisa memberi kami waktu beberapa jam saja, lalu menyuruhnya pergi begitu saja” jawab Yeon Ha. “Yeon Ha-ya…” kata Sang Hee berusaha menenangkannya. “Tidak, dengarkan aku dulu!” kata Yeon Ha menoleh kepada Ryu Jung. “Aku baru saja bertemu dengannya. Aku bahkan belum sempat meminta maaf dengan benar. Bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa beberapa jam lagi aku harus kehilangan dia untuk selamanya?” tanya Yeon Ha. Suasana cafe berubah hening. Dari kejauhan, Jin Woo dan Min Ji saling berpandangan, tetapi tak satu pun menyela. Ryu Jung menundukkan kepalanya sedikit. “Aku mengerti kemarahanmu. Kalau aku berada di posisimu, aku mungkin juga akan merasa waktu yang diberikan tidak cukup. Tapi kami tidak menentukan batas itu untuk menghukum kalian. Kami hanya bisa membantu Sang Hee-ssi menyelesaikan apa yang masih mengikatnya di sini” jawab Ryu Jung.

“Dan setelah itu?” tanya Yeon Ha, suaranya nyaris tak terdengar. “Setelah itu, ia harus melanjutkan perjalanannya” jawab Ryu Jung. Yeon Ha menoleh kepada Sang Hee. Sahabat yang selama ini ia rindukan duduk tepat di hadapannya, begitu dekat hingga ia bisa menyentuh tangannya, tetapi sekaligus terasa begitu jauh karena waktu mereka hampir habis. Sang Hee mengusap punggung tangan Yeon Ha dengan ibu jarinya “Aku juga ingin punya lebih banyak waktu. Aku ingin kita bisa pergi makan tteokbokki lagi, berjalan-jalan seperti dulu, bertengkar soal hal-hal kecil, lalu tertawa seolah tidak ada yang berubah” kata Sang Hee. “Kalau begitu, jangan pergi Sang Hee-ya” bisik Yeon Ha. Sang Hee tersenyum sedih “Kalau aku bisa memilih sesuka hati, aku akan tinggal lebih lama” jawab Sang Hee.

Yeon Ha menunduk, berusaha menahan tangisnya, tetapi bahunya mulai bergetar. Sang Hee bangkit dari kursinya dan berpindah ke sisi sahabatnya. Ia duduk di samping Yeon Ha, lalu merangkulnya perlahan. “Lihat aku” bisik Sang Hee. “Malam ini, jangan habiskan waktu kita dengan memikirkan jam yang terus berjalan. Aku ingin mendengar ceritamu. Aku ingin tahu apa yang terjadi setelah kita berhenti bicara. Aku ingin tahu apakah kamu masih suka memesan minuman yang sama, apakah kamu masih suka mengomel kalau sedang gugup, dan apakah kamu masih menyimpan kamera kecil yang dulu kuberikan kepadamu” kata Sang Hee. Yeon Ha mengangkat wajahnya dengan mata merah “Aku masih menyimpannya” jawab Yeon Ha. “Aku tahu” jawab Sang Hee tersenyum tipis. “Kamu selalu menyimpan barang-barang yang punya arti buatmu” jawab Sang Hee. “Karena barang-barang itu mengingatkanku kepada orang-orang yang kusayangi” jawab Yeon Ha.

Kalimat itu membuat senyum Sang Hee memudar. Ia menatap Yeon Ha cukup lama sebelum berkata, “Kalau begitu, malam ini kita jangan membiarkan kenangan tentang kita hanya berisi penyesalan” kata Sang Hee. Yeon Ha menarik napas yang bergetar. Ia lalu mengangguk kecil dan menyeka air matanya. “Baiklah. Tapi kamu harus berjanji satu hal kepadaku” kata Yeon Ha. “Apa?” tanya Sang Hee. “Selama kita masih punya waktu malam ini, jangan sembunyikan apa pun dariku. Kalau ada sesuatu yang ingin kamu katakan, katakan saja. Jangan khawatir aku akan menangis. Aku mungkin akan menangis, tapi aku tetap ingin mendengarnya” jawab Yeon Ha. Sang Hee memandang sahabatnya dengan mata berkaca-kaca, kemudian mengangguk. “Baik. Aku janji, Yeon Ha-ya” kata Sang Hee. 

Ji Eun berdiri perlahan, memberi mereka ruang. Sebelum menjauh, ia berkata, “Kami akan berada di sekitar sini kalau kalian membutuhkan sesuatu. Kalian tidak perlu memikirkan kami sekarang, gunakan waktu kalian sebaik mungkin” kata Ji Eun. Ryu Jung mengangguk kepada Yeon Ha “Dan Yeon Ha-ssi, kamu tidak perlu memahami semua hal malam ini. Aku tahu ini terlalu sulit untuk diterima sekaligus. Untuk sekarang, cukup percayalah bahwa Sang Hee benar-benar ada di sini dan kesempatan ini nyata” kata Ryu Jung. Yeon Ha menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Aku belum tahu apakah aku bisa memahami semuanya. Tapi aku percaya satu hal” kata Yeon Ha sambil menoleh kepada Sang Hee. “Aku percaya bahwa aku merindukan sahabatku lebih dari yang bisa kujelaskan” jawab Yeon Ha. Sang Hee menggenggam tangannya sekali lagi. “Aku juga Yeon Ha-ya” kata Sang Hee.

Di atas meja, jarum jam terus bergerak menunjukkan pukul 22:15, mereka masih memiliki waktu tetapi tak seorang pun di cafe itu bisa berpura-pura bahwa malam ini akan berlangsung selamanya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sang Hee dan Yeon Ha duduk berdampingan tanpa dinding kesalahpahaman di antara mereka. Ada banyak hal yang harus diceritakan, banyak luka yang perlu dipahami, dan banyak kata maaf yang masih menunggu untuk diucapkan. Malam itu, mereka tidak bisa menghentikan waktu. Mereka hanya bisa memilih apa yang akan mereka lakukan dengan waktu yang tersisa.

Yeon Ha masih menggenggam tangan Sang Hee ketika suasana cafe perlahan kembali tenang. Dari tempat mereka duduk, ia bisa melihat pantulan lampu pada permukaan jendela. Di luar, malam terus berjalan, seolah dunia tidak mengetahui bahwa dua sahabat sedang berusaha memperbaiki sesuatu yang hampir mereka bawa sampai ke akhir. “Sang Hee-ya” panggil Yeon Ha pelan. “Hmm?” jawab Sang Hee. “Ada sesuatu yang harus kukatakan kepadamu” kata Yeon Ha. Sang Hee memiringkan kepala. “Katakan saja. Bukankah tadi kita sudah berjanji tidak akan menyembunyikan apa pun?” jawab Sang Hee. Yeon Ha mengangguk, tetapi beberapa detik berlalu tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia menunduk, memperhatikan jemarinya sendiri yang masih melingkari tangan Sang Hee. “Aku selalu berpikir, kalau saja hari itu aku tidak bertengkar denganmu, mungkin semuanya akan berbeda” jawab Yeon Ha. Senyum Sang Hee perlahan menghilang. “Aku terus mengulang percakapan terakhir kita di kepalaku” lanjut Yeon Ha. “Aku ingat kata-kata yang kuucapkan. Aku ingat bagaimana aku meninggalkanmu dalam keadaan marah. Aku bahkan masih ingat ekspresimu saat kamu mencoba menjelaskan keputusanmu kepadaku” kata Yeon Ha.

Lihat selengkapnya