Caffeine Serenade

Penamel
Chapter #1

Prolog

"Kadang, rasa manis dan pahit tak hanya datang dari secangkir kopi, tapi juga dari pertemuan yang tak pernah kita rencanakan."



Bandung adalah kota yang menyambut perantau dengan caranya sendiri. Kota yang konon tak pernah tidur, dengan lampu-lampu yang terus menyala dan udara dingin yang menyusup ke sela-sela malam. Di balik hiruk-pikuknya, Bandung menyimpan kesunyian yang hanya benar-benar terasa bagi mereka yang datang sendirian.

Bagi Senna Camella Svara, kota ini masih terasa asing. Penuh cerita, namun belum memberinya ruang untuk merasa benar-benar pulang.

Mel datang ke Bandung membawa mimpi sederhana, bekerja sambil kuliah lalu perlahan membangun hidup yang lebih baik. Namun satu tahun berlalu, hari-harinya berjalan dalam pola yang sama. Pagi hingga sore dihabiskan untuk bekerja, malam dilanjutkan dengan kuliah dan sisa waktu yang sering kali terasa terlalu sunyi untuk diisi dengan apa pun. Rutinitas itu tidak salah, hanya saja tidak ada yang membuatnya merasa hidup sepenuhnya. Seolah ada bagian dalam dirinya yang kosong, dan kesibukan tak pernah cukup untuk mengisinya.

Sebagai seorang introvert, beradaptasi di lingkungan baru bukan perkara mudah. Sejak kecil, Mel terbiasa menikmati kesendiriannya. Namun belakangan, kesepian terasa berbeda. Lebih menusuk. Ia mulai menyadari bahwa ada ruang di hatinya yang tidak bisa diisi hanya dengan aktivitas. Ia ingin seseorang—bukan untuk dimiliki, hanya untuk membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendiri.

Lihat selengkapnya