Caffeine Serenade

Penamel
Chapter #2

Bandung yang Asing

“Kota Bandung masih terasa asing, tapi mungkin justru keasingan itulah yang memberi ruang untuk menemukan hal baru.”


Ada banyak alasan yang mendorong seseorang untuk memutuskan merantau ke kota yang sejak lama diimpikan. Bagi sebagian orang, merantau adalah tentang pekerjaan, tentang angka di slip gaji, tentang karier, dan tentang masa depan yang terasa lebih menjanjikan. Bagi yang lain, merantau adalah tentang perubahan, tentang meninggalkan sesuatu yang terlalu lama diam di tempat yang sama.

Bandung, dengan segala pesonanya, menjadi salah satu kota yang sering dipilih oleh mereka yang ingin memulai kembali. Keindahan alamnya, suasana kota yang sejuk, serta budaya yang khas membuat Bandung mampu memikat siapa pun. Ada yang datang hanya untuk singgah, ada pula yang menetap tanpa tahu sampai kapan. Kota ini seperti memberi janji samar, siapa pun boleh datang, tapi tidak semua langsung merasa pulang.

Bagi Senna Camella Svara atau yang akrab dipanggil Mel, Bandung adalah kota yang sejak lama ia impikan untuk dijadikan tempat tinggal. Kota yang sebelumnya hanya ia kenal lewat cerita orang-orang dan foto-foto di internet, kini benar-benar menjadi bagian dari hidupnya. Jalan-jalan yang dulu hanya ia lihat dari layar ponsel, kini ia lewati dengan langkah sendiri. Udara yang dulu hanya ia bayangkan lewat cerita, kini ia hirup setiap pagi.

Keputusan meninggalkan kota kelahirannya bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pertimbangan yang sempat membuatnya ragu. Tentang keluarga yang ditinggalkan, tentang kenyamanan yang harus dilepas, dan tentang kemungkinan gagal yang selalu menghantui. Namun di balik semua keraguan itu, ada keinginan kuat untuk menjalani hidup baru, hidup yang selama ini ia yakini bisa ia bangun di kota yang menawarkan banyak harapan ini.

Butuh waktu lima tahun bagi Mel untuk akhirnya mewujudkan impian itu. Lima tahun yang diisi dengan berbagai tantangan, perjuangan, dan pengorbanan. Lima tahun yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada hari-hari ketika ia merasa tertinggal, merasa hidupnya tidak bergerak ke mana-mana. Namun ia tetap bertahan, menyusun langkahnya pelan-pelan.

Hingga akhirnya, melalui perencanaan yang matang dan keberanian yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Mel berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Momen itu terasa seperti membuka lembaran baru dalam hidupnya, sebuah momen yang lama ia nantikan. Ada rasa bangga, ada lega, dan ada harapan yang kembali tumbuh.

Meski demikian, rasa ragu dan cemas kerap muncul menyertai langkah-langkah awalnya di kota ini. Setiap kali berjalan menyusuri jalanan Bandung, ada kesadaran yang terus mengikutinya bahwa ia benar-benar sendirian. Tidak ada wajah yang familiar dan tidak ada tempat untuk pulang selain kamar kos kecil yang kini menjadi satu-satunya ruang aman.

Keberanian untuk memulai dari nol di kota baru menjadi bukti bahwa Mel siap mengambil risiko demi mengejar mimpinya. Namun, mimpi yang akhirnya terwujud tidak selalu semanis bayangan. Pada awalnya, semua terasa seperti mimpi karena terlalu cepat dan terlalu nyata. Ia tak pernah benar-benar membayangkan akan hidup di kota ini untuk waktu yang lama.

Bandung memang tampak bersahabat. Orang-orang berjalan dengan santai, senyum mudah ditemukan di sudut-sudut jalan. Namun kota ini tidak serta-merta membuka pelukan hangat untuknya. Ada jarak yang harus ia hadapi dan ada rasa asing yang tidak bisa langsung hilang hanya karena ia sudah berada di tempat yang ia impikan.

Sesampainya di Bandung, Mel langsung merasakan perbedaan yang cukup mencolok. Meski telah sering mendengar cerita tentang kota ini, kenyataannya tidak mudah untuk langsung merasa “di rumah”. Ada banyak hal yang perlu disesuaikan, mulai dari cuaca yang lebih dingin, cara orang-orang berbicara yang terdengar lebih cepat, hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang berbeda dari tempat asalnya.

Lihat selengkapnya