Caffeine Serenade

Penamel
Chapter #3

Hidup sebagai Introvert

"Terkadang keheningan bukanlah pelarian, tetapi ruang di mana jiwa mencari keberanian."


Mel tahu bahwa dirinya bukan tipe orang yang mudah berbaur. Sejak kecil, kesendirian bukan sesuatu yang menakutkan baginya, justru di sanalah ia merasa paling tenang. Ada rasa nyaman dalam kesendirian, ruang di mana ia tidak perlu menjelaskan apa pun dan tidak perlu menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.

Ketika teman-temannya sibuk bermain hingga lupa waktu, Mel memilih duduk di sudut ruangan, mengamati, mendengarkan, dan menyimpan banyak hal di dalam kepalanya. Ia tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa memproses segalanya secara diam-diam. Tidak cepat bereaksi dan tidak tergesa-gesa bicara.

Kini, hidup di Bandung sebagai mahasiswa sekaligus pekerja, sisi introvert dalam dirinya benar-benar diuji. Setiap hari, ia bertemu banyak orang, berada di tengah keramaian, dan dituntut untuk beradaptasi dengan ritme kota yang besar. Bandung menawarkan banyak hal—peluang, hiburan, tempat-tempat menarik, dan kehidupan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Tetapi justru di tengah semua itu, semakin jelas pula rasa asing itu terasa.

Sebagai seorang introvert yang tinggal jauh dari keluarga dan lingkaran terdekatnya, Mel mulai menyadari bahwa kesendirian yang dulu terasa nyaman kini berubah bentuk. Ia masih menyukai waktu sendiri, masih menikmati keheningan, tetapi ada bagian dalam dirinya yang mulai lelah menanggung semuanya sendirian. Ia juga membutuhkan koneksi dengan orang lain. Bukan keramaian dan bukan perhatian berlebihan. Hanya kehadiran, seseorang yang membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendiri.

Sayangnya, keinginan itu tidak mudah diwujudkan sering kali terhalang oleh ketakutannya sendiri.

Mel tidak pernah pandai memulai percakapan. Berbicara dengan orang yang sudah ia kenal saja terkadang membutuhkan usaha, apalagi dengan orang baru. Setiap kali ada kesempatan untuk berbincang dengan rekan kerja atau orang asing, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuatnya ragu. Apakah aku akan terdengar membosankan? Bagaimana kalau aku salah bicara? Bagaimana kalau mereka tidak nyaman denganku?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul tanpa diminta, membuatnya merasa lebih aman sebagai pendengar.

Di kantor, Mel lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer. Ia fokus menyelesaikan laporan dan dokumen, tenggelam dalam pekerjaannya. Jam-jam berlalu tanpa terasa, hingga waktu makan siang tiba. Ia biasanya ikut duduk bersama rekan-rekannya, tetapi kehadirannya lebih sering terasa seperti bayangan.

Mereka mengobrol tentang banyak hal—tren terbaru, rencana akhir pekan, atau gosip ringan seputar kantor. Mel mendengarkan dengan saksama, tersenyum di waktu yang tepat, tetapi jarang ikut terlibat. Bukan karena ia tidak tertarik, melainkan karena ia tidak tahu harus masuk di bagian mana.

“Mel, kamu pendiam banget, sih,” kata Lita suatu siang, setengah bercanda.

Mel mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil.

“Iya. Aku lebih suka mendengarkan,” jawabnya pelan.

Jawaban itu adalah setengah kebenaran. Mel memang suka mendengarkan. Ia senang memperhatikan orang lain, memahami tanpa harus selalu terlibat. Namun di lubuk hatinya, ada keinginan kecil untuk bisa lebih terbuka dan lebih berani. Ia hanya belum tahu caranya.

Setiap kali ia berniat menyela atau menanggapi, percakapan sudah bergeser ke topik lain. Dan pada akhirnya, Mel kembali memilih diam. Ia membutuhkan waktu untuk mengamati, merasa aman, dan yakin bahwa kehadirannya benar-benar diterima.

Lihat selengkapnya