“Kesepian sering kali menjadi jembatan menuju hal-hal yang tak terduga, termasuk pertemuan yang perlahan mengubah arah hidup.”
Suatu malam, Mel duduk bersandar di dinding kamar kosnya. Lampu meja menyala temaram, cukup untuk menerangi buku catatan yang terbuka di pangkuannya. Namun sejak beberapa menit berlalu, ia tidak lagi menulis apa pun. Pena hanya ia genggam, sementara pikirannya melayang ke tempat yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Di luar jendela suara kendaraan terdengar samar, bercampur dengan tawa orang-orang yang lewat di gang kecil depan kos. Kota ini tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada kehidupan yang bergerak, bahkan ketika Mel memilih berhenti sejenak.
Ia menghela napas panjang, lalu menutup buku catatan itu. Menulis biasanya membantunya meredakan sesak di dada. Namun malam ini, kata-kata terasa tidak cukup. Ada perasaan yang sulit ia tuangkan ke dalam kalimat, meski hari-harinya kini lebih sibuk, Mel masih sering merasa sendirian.
Mel meraih ponselnya dan menyalakan layar. Jemarinya menggulir media sosial tanpa tujuan yang jelas. Foto demi foto muncul disertai potongan cerita orang lain. Ada yang memamerkan kebersamaan, bercerita tentang hari yang melelahkan tapi ditemani seseorang, bahkan ada pula yang sekadar membagikan momen kecil bersama teman-temannya.
Mel tidak merasa iri. Setidaknya, ia tidak ingin menyebut perasaannya demikian. Namun melihat semua itu, ada ruang kosong yang kembali terasa. Ia menyadari bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi bukan tentang kesibukan atau pencapaian, melainkan tentang kehadiran.
Beberapa video singkat muncul di berandanya. Tentang pengalaman orang-orang menggunakan aplikasi kencan. Ceritanya beragam ada yang berakhir bahagia, menjadi kenangan singkat, dan berakhir canggung.
Biasanya, Mel hanya melewati konten semacam itu. Ia tidak pernah merasa tertarik. Dunia perkenalan daring terasa asing dan sedikit menakutkan baginya. Bertemu orang baru saja sudah membuatnya gugup, walau melalui layar rasanya tetap sama.
Namun malam itu, ia berhenti menggulir. Mel memutar ulang salah satu video, lalu membaca komentar-komentarnya. Ternyata ada yang menemukan pasangan hidup, mendapatkan teman bicara, ada pula yang mengingatkan bahwa tidak semua pertemuan harus berakhir menjadi hubungan.
Mel menatap layar lebih lama dari yang ia sadari dan terpikirkan satu hal, Bagaimana kalau aku mencoba? Mungkin bisa mengatasi kesepian yang terus datang, meski hidupnya terasa semakin sibuk.
Ia sudah mencoba banyak hal. Menenggelamkan diri dalam pekerjaan, aktif di organisasi, membuka diri pada lingkungan sekitar. Hari-harinya kini jauh lebih padat dibandingkan saat pertama kali datang ke Bandung. Namun di balik semua aktivitas itu, selalu ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi. Kesepian itu tidak datang dengan suara keras. Ia hadir pelan, menetap, dan menjadi bagian dari malam-malam panjang yang Mel lalui sendirian.
Di antara semua itu, Mel merasakan sesuatu yang sulit ia jelaskan, campuran antara penasaran dan ragu. Mel tidak sedang mencari cinta. Ia tidak membayangkan kisah romantis atau menjalin suatu hubungan. Yang ia inginkan sederhana hanya hadirnya seseorang untuk berbagi cerita. Teman bicara yang tidak menuntut banyak, kehadiran yang tidak membuatnya merasa harus menjadi versi lain dari dirinya sendiri tapi membuat malam-malamnya terasa sedikit kurang sunyi. Namun tetap saja, keputusan itu tidak mudah.
Mel meletakkan ponselnya di samping, lalu bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mondar-mandir di kamar kosnya yang sempit, mencoba menenangkan pikirannya. Ada rasa takut yang muncul bersamaan dengan keinginan untuk mencoba. Mel menatap pantulan dirinya sendiri—wajah yang terlihat lelah, tetapi tenang. Mel tersenyum tipis, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Cuma mencoba, tidak ada yang harus dibuktikan.” gumamnya pelan.
Setelah beberapa menit Mel kembali mengambil ponselnya dan mengunduh aplikasi itu. Prosesnya cepat, hampir terlalu cepat untuk memberinya waktu berpikir ulang. Saat layar pendaftaran muncul, Mel menarik napas panjang dan mulai mengisi data yang diminta.
Ia memilih foto yang menurutnya paling mewakili dirinya, tapi tidak terlihat kaku. Hanya dirinya, apa adanya. Bio yang ia tulis pun singkat, beberapa kata yang menurutnya cukup untuk memperkenalkan diri tanpa membuka terlalu banyak. Karena Mel tidak ingin terlihat terlalu berusaha, tetapi juga tidak ingin sepenuhnya menutup diri.
Mel menatap profilnya beberapa detik sebelum menutup aplikasi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini dan tidak ada ekspektasi besar. Ini hanya percobaan kecil, jika tidak cocok ia bisa berhenti kapan saja.
Namun keesokan harinya, notifikasi mulai bermunculan. Mel mulai membuka aplikasi itu di sela-sela waktu luangnya. Ia menggeser profil-profil yang muncul di layar—beberapa terasa menarik, beberapa terasa biasa saja. Ia tidak terlalu memikirkannya. Semua terasa seperti permainan yang tidak perlu dimenangkan.