Seo Yeon tak pernah menyangka, liburan singkatnya ke Indonesia akan meninggalkan kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan. Di dalam kamarnya yang mewah, ia menatap layar ponsel yang menampilkan foto sebuah taman masjid di Bandung. Bukan pemandangan yang membuatnya terpaku, melainkan sosok lelaki yang bahkan tak sempat ia abadikan.
Sejak kembali ke Korea, hidupnya terasa berubah. Pesta yang dulu ia nikmati kini terasa hampa. Tatapan lelaki-lelaki di sekelilingnya kini membuatnya risih. Dan yang paling mengganggunya—ia terus teringat pada seorang lelaki sederhana yang bahkan nyaris tak memandangnya.
“Kenapa aku terus memikirkan orang asing itu?” bisiknya pelan.
Ia lalu membuka mesin pencari dan mengetik satu kalimat: “Kebiasaan pria Muslim.”
Beragam artikel muncul. Seo Yeon membaca satu per satu, alisnya mengerenyit, lalu perlahan wajahnya berubah serius saat menemukan sebuah istilah yang menarik perhatian.
“Ghad al-Bashar,” bisiknya pelan.
Seo Yeon termenung beberapa saat, “Aku paham sekarang, kenapa pria itu bersikap demikian,” bisiknya kembali.
Ada perasaan aneh menyelinap di dadanya—bukan tersinggung, melainkan dihargai. Sebuah sikap yang baru pertama kali ia temui.
Sebagai seseorang yang kerap menjadi pusat perhatian, mendapatkan sikap terabaikan, membuatnya terasa aneh, sekaligus memberi rasa penasaran dalam benaknya.
Seo Yeon menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di samping, lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi di meja riasnya. Langit malam Seoul terlihat dari jendela besar kamarnya. Lampu-lampu kota berkilauan, namun entah mengapa tidak lagi membuatnya terkesan.
Biasanya, pada jam seperti ini, ia sudah bersiap menghadiri pesta. Gaun mahal, riasan sempurna, dan tawa yang tak pernah benar-benar ia rasakan. Namun malam ini, ia hanya duduk diam, memikirkan seorang pria yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Hari-hari berlalu dalam kegelisahan yang tak pernah benar-benar ia pahami. Seo Yeon tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa—datang menghadiri pertemuan, dan sesekali menerima ajakan makan malam dari rekan-rekannya. Namun semuanya terasa berbeda. Ia lebih banyak diam, lebih sering menolak, dan tanpa sadar mulai menghindari tempat-tempat yang dulu ia sukai.
“Aku perhatikan, akhir-akhir ini kau tampak berbeda, eonni. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?” tanya Hae-rin suatu malam, saat keduanya mempersiapkan hidangan untuk acara keluarga.
“Ah, itu hanya firasatmu saja, Rin-ah. Aku tidak memikirkan apa-apa,” jawab Seo Yeon.