Waktu merambat, hari-hari kian berlalu. Damai dalam hati semakin nyata dirasakan Seo Yeon.
Dari penilaiannya membaca berbagai artikel, Islam tak hanya mengajarkan nilai kebaikan, akhlak mulia, serta tata cara menjalani hidup dengan baik. Ada satu pembahasan yang membuatnya berpikir—tentang kekhalifahan manusia di muka bumi.
Pada hakikatnya, setiap individu diciptakan sebagai pemimpin yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, bahkan untuk dirinya sendiri. Kedetailan ajaran agama ini yang membuat perasaan Seo Yeon bergetar, termasuk pada nilai-nilai kecil yang di era sekarang sering disepelekan. Salah satunya adalah sikap ‘ghad al-bashar’ yang diterapkan pemuda di bangku pelataran masjid itu.
Keterbatasan pengetahuannya dahulu menghadirkan rasa kesal. Namun rasa itu berubah menjadi penasaran, lalu berkembang menjadi pemahaman baru yang bernilai spiritual paling berkesan dalam hati Seo Yeon.
Kadang, hal berkesan tak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Begitu pun sebaliknya—hal-hal sepele yang kerap terabaikan justru bisa berdampak, jika dilakukan dengan ketulusan.
Angin berembus, daun-daun di pohon sekitar rumah berdesir. Gadis itu menatap langit sore, dengan semburat jingga yang perlahan membentang membungkus awan.
“Aku tidak tahu takdir seperti apa yang menungguku di masa depan. Yang aku tahu, semesta sedang memberiku pilihan,” bisiknya pelan.
Namun, setiap kali kata pilihan itu terlintas di benaknya, bayangan itu selalu muncul tanpa diminta. Sosok lelaki yang duduk tenang di bangku kayu pelataran masjid. Wajahnya tak sepenuhnya ia ingat, tetapi sikapnya begitu melekat—cara ia menundukkan pandangan, ketenangan yang terpancar, dan jarak yang ia jaga tanpa sepatah kata pun.
Seo Yeon menghela napas pelan—merasa amat sadar. Di antara semua pengalaman selama perjalanan itu, justru momen singkat tersebut yang paling membekas. Bukan percakapan panjang, bukan pula kejadian besar. Hanya pertemuan yang nyaris tanpa interaksi—namun meninggalkan jejak yang sulit dihapus.
Langit jingga perlahan memudar, berganti warna keunguan yang lebih dalam. Di tengah redupnya cahaya sore yang membungkus langit Seoul, jauh di seberang sana—ribuan kilometer—sosok pemuda yang tanpa sadar menjadi penyebab kedilemaan Seo Yeon justru tengah duduk khusyuk, mendengarkan kajian dengan hati diliputi rasa sesal.
Takdir, seperti benang tak terlihat, perlahan menenun kisah dua insan yang berada di tempat berbeda.
---