Langit Seoul terlihat cerah pagi itu. Awan putih berarak pelan, seolah mengikuti embusan angin musim semi yang lembut. Sinar matahari jatuh di antara gedung-gedung tinggi, memantul pada kaca jendela apartemen yang berjajar rapi. Di balik salah satu jendela itu, Seo Yeon berdiri diam sambil memegang secangkir teh hangat.
Uap tipis mengepul dari permukaan cangkir, namun pikirannya melayang jauh, merasakan dilema batin yang begitu intens.
Semakin ia mendalami, semakin hatinya merasa terisi. Islam benar-benar mengajarkannya tentang kasih sayang, tentang budi pekerti, tentang ketulusan. Hal-hal yang selama ini nyaris tenggelam dalam hiruk pikuk dunia yang ia geluti.
Namun di balik ketenangan itu, Seo Yeon menyimpan pergolakan. Ia sadar, keputusan untuk berpindah keyakinan bukanlah perkara mudah—terutama bagi keluarganya. Ayahnya, seorang pengusaha konservatif, dan ibunya yang sangat menjunjung tinggi citra keluarga, jelas tidak akan bisa menerima langkah besar yang hendak ia ambil.
“Apa yang harus aku lakukan, jika mereka tahu apa yang sedang aku pikirkan?” bisiknya, nyaris tak terdengar. Matanya berkaca-kaca, berusaha menahan gelombang emosi yang naik ke permukaan. “Aku ingin menjadi diriku sendiri... tapi, apa mereka akan mengerti?”
Di tengah kebingungan itu, kenangan akan Puspa—pemandu wisata asal Indonesia yang kini menjadi sahabatnya—hadir menguatkan. Meski terpisah jarak, mereka masih sering bertukar kabar lewat pesan. Puspa, yang dulu mengenalkannya pada sisi lain Indonesia, kerap mengirimkan pesan-pesan penyemangat yang sederhana namun penuh makna.
“Kamu hanya perlu mengikuti petunjuk hatimu, Seo. Tidak ada yang lebih indah daripada menjadi diri sendiri,” tulis Puspa suatu hari.
Pesan itu kini terngiang lagi dalam benaknya. Seo Yeon memejamkan mata, menggenggam tangan di dada, berdoa dalam hati—meminta petunjuk, meminta kekuatan. Ia tahu, perjalanan ini tak akan mudah. Tapi di dalam hatinya yang terdalam, ia sudah tahu ke mana langkah itu akan membawanya.
“Aku ingin menjadi lebih baik... Aku ingin menemukan kedamaian dalam diriku,” bisiknya pada diri sendiri.
Hari itu, dengan keteguhan yang perlahan tumbuh, Seo Yeon memantapkan diri untuk berbicara dengan keluarganya. Ia tahu mungkin akan ada air mata, mungkin akan ada penolakan. Tapi ini adalah langkah yang harus ia tempuh, demi menjadi dirinya yang sebenarnya.
Perjalanannya baru saja dimulai. Namun ia percaya, selama ia berjalan dengan hati yang tulus, kedamaian akan datang menyapanya pada waktunya.
Seo Yeon membuka ponsel yang sejak tadi hanya ia genggam, menatap kembali foto langit senja yang sempat ia abadikan saat berada di Indonesia. Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh layar, berhenti tepat pada bagian bangku kayu yang kosong—bangku yang dulu ditempati sosok lelaki yang kini hanya tersisa sebagai bayangan samar dalam ingatannya.
Ia tak tahu mengapa, namun setiap kali menatap gambar itu, hatinya selalu dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang diam-diam memanggilnya untuk kembali.
---
Kejujuran yang Memberi Luka
Hampir dua minggu, Seo Yeon terperangkap dalam dilema, menyimpan kegelisahan yang terus mengusik hatinya. Hingga akhirnya, malam itu, ia memberanikan diri untuk berbicara pada keluarganya tentang keputusan besar yang selama ini ia pendam.
Usai makan malam, para asisten rumah tangga sibuk membereskan meja makan. Piring dan gelas dibawa ke dapur, aroma teh hangat menguar dari cangkir yang baru disajikan. Di ruang keluarga, suasana hangat masih terasa. Han Seok-jin, ayah Seo Yeon, duduk santai sambil menyeruput teh buatan istrinya—Kim Eun-hee. Nenek Yoon Hye-sook mengayun pelan di kursi goyang sambil tersenyum mendengar cerita Hae-rin tentang kejadian lucu di kampus.
Seo Yeon duduk sedikit menjauh, di sudut sofa, memandangi keluarganya satu per satu. Hatinya berdesir. Ada rasa takut, gugup, dan sedih yang bergulat di dalam dadanya. Ia tahu, kata-kata yang hendak diucapkannya malam ini bisa menjadi petir yang merobek kehangatan ini.
Ia menarik napas panjang, menatap ke bawah sejenak, lalu memberanikan diri membuka suara.
“Appa, Omma, Chin Halmeoni… Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya pelan tapi jelas.
Tawa perlahan padam. Semua mata kini tertuju padanya. Han Seok-jin menurunkan cangkir tehnya, pandangannya berubah serius. Kim Eun-hee sedikit menegakkan duduknya. Hae-rin berhenti berbicara, menatap kakaknya dengan bingung. Sementara Yoon Hye-sook, sang Nenek, hanya menatap penuh perhatian.
“Ada apa, Seo? Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini,” tanya Han Seok-jin, suaranya tenang tapi penuh ketegasan.
Seo Yeon menelan ludah. Tangannya ia genggam erat di pangkuan.
“Aku… ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin sulit untuk kalian terima. Tapi aku harap, kalian bisa mendengarkan dulu, tanpa menghakimi.”
Kim Eun-hee mulai tampak khawatir, alisnya mengerut. Hae-rin mengerjap pelan, masih belum paham ke mana arah pembicaraan ini. Meski sejujurnya, ia sudah merasakan firasat ada hal besar yang disembunyikan kakaknya selama ini.
“Bicara saja, Seo. Jangan membuat kami menebak-nebak,” ujar Yoon Hye-sook, lembut namun tegas.
Seo Yeon menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkannya, meski dengan suara bergetar.
“Aku… ingin menjadi seorang Muslimah. Aku ingin memeluk Islam.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Udara seolah membeku. Jam dinding terdengar berdetak nyaring dalam keheningan yang mencekam.