Cahaya di Negeri Tropis

Bias Divhanka
Chapter #4

Chapter Bab 4 - Langkah Dalam Luka

Hari-hari setelah memeluk Islam menjadi ujian berat bagi Seo Yeon. Ia telah bersiap menghadapi penolakan dari sebagian orang, namun tak pernah ia bayangkan bahwa cemoohan dari luar akan sedemikian keras menekan keluarganya. Bisikan-bisikan dari tetangga, kerabat, hingga kolega keluarganya perlahan berubah menjadi tudingan yang tajam.

“Seo Yeon sudah lupa daratan,” ujar salah satu rekan kerja ayahnya. “Bagaimana mungkin dia meninggalkan agama leluhurnya? Itu penghinaan besar.”

Ayahnya sering pulang dengan wajah muram, semakin jarang berbicara dengan putri sulungnya. Begitu pun Ibunya, yang juga tak luput mendapatkan sindiran dari teman-temannya, yang menganggapnya gagal mendidik anak.

Di rumah, tekanan semakin membesar.

“Kau sudah membuat keluarga kita menjadi bahan gunjingan semua orang!” suara Han Seok-jin bergema di ruang keluarga suatu malam. Ia menatap Seo Yeon dengan penuh kemarahan. “Kembalilah ke agama kita. Kau masih bisa menebus kesalahanmu.”

Seo Yeon menatap ayahnya dengan mata berembun, tapi ia tetap berusaha tenang. “Appa, aku tidak menganggap ini kesalahan. Aku sudah menemukan kebenaran, dan aku tidak akan meninggalkannya, apa pun yang terjadi.”

Jawaban itu justru memicu amarah Han Seok-jin. “Beraninya kau berkata seperti itu? Kau tidak menghormati keluarga, leluhur kita, atau aku sebagai ayahmu!” teriaknya.

Seo Yeon hanya bisa menundukkan kepala, menahan air mata. Kim Eun-hee yang menyaksikan semua itu hanya bisa menghela napas panjang, namun tetap diam, membiarkan suaminya mendominasi percakapan.

Malam itu, setelah semua orang pergi tidur, Seo Yeon duduk di lantai kamarnya. Di bawah redup cahaya lampu meja, ia menangis tersedu-sedu. Dalam hati, ia memohon kepada Allah, memanjatkan doa yang selalu ia ucapkan setiap malam.

“Ya Allah, aku tahu jalan yang Kau berikan ini penuh ujian. Tapi aku takut… Aku takut membuat kesalahan. Tolonglah aku, Ya Rabb. Bukakanlah hati keluargaku, terutama Ayah, agar mereka bisa menerima aku dan Islam sebagai bagian dari hidupku.”

Setelah menenangkan diri, Seo Yeon mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan panjang kepada sahabatnya, Puspa. Dalam pesan itu, ia menceritakan semua yang ia rasakan—tekanan dari ayahnya, kekecewaan ibunya, dan cemoohan orang-orang di luar.

Di Indonesia, Puspa yang membaca pesan panjang dari sahabatnya itu segera membalas tanpa ragu. Ia tahu betapa berat tekanan yang dialami Seo Yeon setelah hijrah.

“Seo Yeon, aku tahu ini berat. Tapi percayalah, Allah selalu bersama orang-orang yang teguh pada jalan-Nya. Kau tidak sendiri. Aku di sini selalu mendoakanmu, dan aku yakin Allah akan memberikan jalan keluar terbaik.”

Kata-kata Puspa sedikit menguatkan hati Seo Yeon, meskipun rasa takut masih membayangi. Ia meletakkan ponselnya di samping, menatap kosong ke langit-langit kamar, dengan kesedihan yang belum kunjung reda.

Hae-rin yang diam-diam memperhatikan kakaknya mulai menyadari betapa berat beban yang dipikul Seo Yeon. Suatu malam, Hae-rin masuk ke kamar Seo Yeon tanpa mengetuk.

“Eonni,” panggil Hae-rin lembut.

Seo Yeon yang sedang duduk di lantai, memeluk Al-Qur'an kecilnya, mendongak. “Ada apa, Rin-ah?”

Hae-rin duduk di sebelah kakaknya dan menggenggam tangannya. “Aku tahu kau sedang menderita. Aku dengar Ayah dan Ibu berbicara tadi. Mereka ingin menekankan lebih keras agar kau berubah pikiran.”

Mata Seo Yeon membasah. “Aku tidak ingin menyakiti mereka, Rin-ah. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan keimanan ini. Aku takut… aku takut membuat kesalahan.”

Hae-rin memeluk kakaknya erat. “Kau tidak sendiri, eonni. Meski Ayah dan Ibu tidak mendukungmu, aku selalu ada di pihakmu. Jangan pernah menyerah. Aku yakin kau kuat, dan Tuhanmu pasti akan memberimu kekuatan untuk melewati semua ini.”

Seo Yeon terisak dalam pelukan adiknya. Malam itu, untuk pertama kalinya, di tengah badai penolakan, ia merasa tak sepenuhnya sendirian—ada seseorang yang memeluk hatinya dengan kasih dan keteguhan.

---

Langkah di Tengah Luka

Hari-hari berlalu dengan ketegangan yang semakin memuncak di rumah Seo Yeon. Dukungan dari Hae-rin, Puspa, serta komunitas Muslim di Korea memang memberinya kekuatan, namun tekanan dari orang tuanya kian sulit ditanggung. Setiap kali ayahnya pulang dari pekerjaan, ia membawa pulang amarah yang tak henti-hentinya ditujukan pada putrinya. Ibunya pun mulai menunjukkan sikap dingin, nyaris tak berbicara dengan Seo Yeon. Bahkan neneknya, yang selama ini menjadi penengah—perlahan menyerah melihat retaknya keharmonisan keluarga mereka.

Lihat selengkapnya