Laju Kereta Istimewa
(Langkah kedua sebelum menginjakkan kaki di tanah yang memberi cahaya)
Matahari pagi menyapa Jakarta dengan hangatnya. Di lobi hotel, koper-koper sudah tertata rapi. Seo Yeon dan Hae-rin bersiap meninggalkan ibu kota. Puspa menyambut mereka dengan senyum hangat.
“Selamat pagi, Seo Yeon-ssi, Hae rin-ssi,” sapanya ceria. “Siap untuk perjalanan ke Yogyakarta?”
“Sudah tidak sabar,” sahut Hae-rin sambil membetulkan tali tas kecilnya. “Aku yakin ini akan jadi pengalaman yang indah.”
Mereka segera meluncur ke Stasiun Gambir. Jakarta belum sepenuhnya terjaga, tapi jalanan mulai riuh oleh kesibukan pagi. Di stasiun, Puspa sigap mengurus tiket dan bagasi.
“Kereta kita berangkat pukul delapan. Gerbong eksekutif, jadi kalian bisa duduk nyaman,” jelasnya.
Seo Yeon mengamati sekeliling, kagum. “Stasiun ini terorganisir dengan baik. Ini pengalaman pertamaku naik kereta di Indonesia.”
Tak lama, mereka menaiki kereta. Begitu kereta mulai bergerak perlahan, hiruk-pikuk kota perlahan berganti menjadi sawah hijau, bukit kecil, dan rumah-rumah sederhana di pinggir rel.
“Eonni, lihat! Seperti lukisan hidup,” ucap Hae-rin takjub, menempelkan wajah di kaca jendela. Sejak awal kedatangannya di bandara, sikap Hae-rin tak pernah berubah. Gadis ini benar-benar ceria.
Seo Yeon tersenyum melihat antusiasme adiknya. Mereka menikmati perjalanan dengan berbincang santai, mencicipi makanan ringan dari pramugari kereta, dan mendengarkan Puspa yang sesekali menjelaskan kota-kota yang mereka lewati.
“Lihat, itu Purwokerto. Di sini banyak kuliner enak juga, tapi kita belum bisa singgah,” kata Puspa sambil menunjuk ke luar jendela.
Delapan jam berlalu tanpa terasa. Ketika kereta memasuki Stasiun Tugu Yogyakarta, sore telah menjelang. Begitu turun, mereka langsung disambut oleh suasana berbeda: udara yang lebih sejuk, ritme kota yang lebih lambat, dan senyum ramah orang-orang di sekitar.
“Selamat datang di Yogyakarta,” kata Puspa lembut.
Mobil travel sudah menanti. Dalam perjalanan ke hotel, Puspa memberi gambaran tentang kota ini—budaya, sejarah, dan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi esok hari.
Hotel tempat mereka menginap begitu memikat. Nuansa tradisional Jawa kental terasa: ukiran kayu, lampu kuning temaram, dan gamelan lembut yang mengalun dari kejauhan.
“Rasanya seperti masuk ke dunia berbeda,” bisik Hae-rin semakin dibuat terkagum.
Malamnya, mereka mencicipi gudeg dan sate klathak di restoran hotel. Setelah makan, Seo Yeon dan Hae-rin duduk di balkon kamar, menyesap teh jahe hangat sambil menatap bintang-bintang di langit.
“Eonni,” kata Hae-rin pelan. “Kau merasa... tempat ini punya energi yang menenangkan?”