Cahaya di Negeri Tropis

Bias Divhanka
Chapter #8

Chapter 8 - Flashback: Sejengkal Langkah Sebelum Tiba di Tanah yang Memberi Cahaya

Kota Semarang

(Langkah keempat sebelum menginjakkan kaki di tanah yang memberi Cahaya)


Langit pagi di Semarang menyambut dengan angin laut yang lembut, seolah ingin menyapa para pengelana dari negeri jauh. Seo Yeon berdiri di pelataran Gereja Blenduk, memandang arsitektur kolonial yang megah dan kokoh. Dinding putih dan kubah tembaga gereja itu bagai jendela yang terbuka ke masa lalu.

“Indah sekali...” ucap Seo Yeon pelan, napasnya tertahan.

Puspa tersenyum, “Dulu, gereja ini jadi pusat aktivitas Belanda. Kalau berdiri di sini saat matahari sore, bayanganmu seolah terserap ke masa kolonial.”

Tak jauh dari situ, mereka melangkah ke Lawang Sewu, tempat yang selalu menyimpan bisikan masa lalu. Hae-rin berjalan pelan, seolah takut mengusik kesunyian bangunan megah itu.

“Tempat ini… terasa berbeda,” gumamnya.

“Banyak cerita mistis memang,” jawab Puspa, “tapi bagi sebagian orang, Lawang Sewu adalah simbol keteguhan, tentang bagaimana sejarah menyisakan luka dan kekuatan.”

Seo Yeon menelusuri lorong demi lorong, pikirannya membayangkan detik-detik para pejuang yang pernah terkurung di sana. Di balik dinding bisu, ada suara jerit dan doa yang terbungkam waktu. Ia menatap kaca patri bergambar wanita dan kereta, entah mengapa, wajah itu mengingatkannya pada seseorang yang telah lama pergi.

Matahari perlahan menyingsing. Langit mulai berwarna kuning keemasan. Dari kota Semarang, perjalanan mereka berlanjut ke Malang, kota berhawa sejuk yang memeluk pengunjungnya dengan kehangatan masa lalu. Di Kampung Warna-Warni Jodipan, dinding rumah-rumah sederhana diubah menjadi kanvas raksasa. Warna merah, kuning, biru, hijau — seperti kehidupan yang enggan padam.

Hae-rin tertawa, “Tempat ini seperti dongeng yang hidup.”

Seo Yeon menatap sebuah mural perempuan berselendang batik. “Lihat itu... seperti ibu-ibu di Seoul yang suka menyulam,” katanya.

Mereka berfoto, tertawa, berjalan menyusuri jembatan kaca. Tapi di balik keceriaan, Seo Yeon menyimpan sesuatu yang tak bisa ia bagi — sebuah panggilan dari batin, yang ia sendiri belum mengerti.

Waktu merambat, langit keemasan itu perlahan berubah keunguan. Malam telah menjelang. Dan perjalanan hari itu dihentikan.

“Ayo, masuk,” ajak Puspa, saat ketiganya berdiri di pintu gerbang.

“Aku sengaja memilih tempat ini. Aku ingin kalian tetap membumi,” lanjut Puspa.

Setibanya di dalam kamar yang mereka pesan, ruangannya tampak sederhana—tapi memiliki aura yang menenangkan.

“Tak apa, Puspa. Ini saja sudah cukup,” jawab Hae-rin.

Lihat selengkapnya