Cahaya di Negeri Tropis

Bias Divhanka
Chapter #9

Chapter 9 - Flashback: Berpijak di Tanah yang Memberi Cahaya

Bandung, Kota Parahyangan

(Berpijak di Tanah yang memberi Cahaya)


Pagi di Bali datang tanpa banyak suara. Langit pucat, laut masih menyimpan sisa gelap malam. Seo Yeon berdiri di dekat jendela, memandangi cakrawala yang perlahan berubah warna. Tak ada lagi tawa seperti hari-hari sebelumnya. Hanya diam yang terasa cukup.

Perjalanan kembali dimulai dalam kesunyian. Roda-roda berputar, jalan memanjang tanpa kata. Hae-rin terlelap di kursi, sementara Puspa sesekali menatap ke depan, membiarkan waktu berjalan apa adanya. Seo Yeon memandang keluar jendela, membiarkan pikirannya tenggelam bersama langit yang semakin terang.

Ia tak tahu mengapa hatinya terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang menunggu di ujung perjalanan—sesuatu yang belum ia pahami, namun perlahan memanggilnya.

Dan langkah mereka terus bergerak menuju satu kota… tempat cahaya itu akan bermula.

Setibanya di Kota Bandung, udara sejuk yang menenangkan langsung menyambut mereka. embusan angin pegunungan terasa berbeda—lebih lembut, lebih hening. Lembang menjadi destinasi pertama yang mereka kunjungi.

“Pilihan tempatmu tepat, Puspa. Kota terakhir dalam perjalanan ini membuatku merasa kembali pulang ke rumah,” ucap Seo Yeon. Matanya terpejam perlahan. Ia merentangkan kedua tangan, menarik napas panjang, membiarkan udara sejuk memenuhi dadanya.

“Benarkah? Kalau begitu terima kasih—terima kasih karena sudah memilihku menjadi tour guide kalian,” jawab Puspa. Suaranya sedikit bergetar. Ada haru yang terselip dalam kata-kata itu.

“Aku jadi sedih mendengarmu berbicara seperti itu,” potong Hae-rin. “Setelah perjalanan yang panjang ini, aku merasa hubungan kita bukan hanya sebatas turis dan tour guidenya—melainkan sahabat yang sudah lama tak bertemu,” lanjutnya kembali.

Puspa hanya tersenyum. Tak mengucapkan sepatah kata pun selain merentangkan kedua tangan, membiarkan Hae-rin memeluknya.

Pelukan itu berlangsung singkat, namun hangat. Udara Lembang yang dingin seolah melebur dalam keheningan di antara mereka. Seo Yeon memandang keduanya tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya—perasaan yang selama ini jarang ia rasakan dalam perjalanan.

Kabut tipis mulai turun perlahan, menyelimuti pepohonan pinus di kejauhan. Suasana menjadi semakin sunyi. Tak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Kebersamaan itu terasa cukup.

“Ayo,” ujar Puspa lembut setelah pelukan itu terlepas. “Masih banyak tempat yang ingin aku tunjukkan.”

Mereka pun kembali melangkah pelan, menyusuri jalan kecil yang dipagari hijau. Di setiap langkah, Seo Yeon merasakan ketenangan yang semakin nyata—seolah kota ini tidak hanya menyambutnya, tetapi juga memeluknya tanpa syarat.

---

Lelaki di Taman


Pagi di Bandung kembali membawa kelembutan khas Parahyangan. Udara segar, kicauan burung kecil menyatu seperti harmoni yang indah.

 Tujuan mereka di pagi ini menikmati sarapan hangat di taman kota sekitar penginapan. Pemandangan masjid bernuansa modern berdiri tegak, dihiasi hamparan rumput hijau, menambah kesan selaras antara kehidupan yang indah dengan tempat pengabdian kepada Tuhan yang selalu memberi ketenangan. Embun masih menggantung di ujung daun, dan udara sejuk mengalir pelan, seperti zikir alam yang sunyi.

Lihat selengkapnya