Malam kembali menyelimutinya
Kenangan itu perlahan memudar, seperti kabut yang tersapu angin malam—membawa kembali dirinya pada kenyataan.
Seo Yeon kembali pada langkahnya yang masih tertatih di trotoar sepi. Koper kecil di tangannya terasa semakin berat, seolah membawa seluruh masa lalu yang baru saja ia ingat.
Lampu-lampu jalan memantulkan bayangan panjang di aspal. Udara dingin Seoul menusuk lebih dalam, berbeda dengan sejuknya Bandung yang masih terasa hangat dalam ingatannya.
Ia berhenti sejenak. Menarik napas panjang.
Namun ketenangan yang dulu ia rasakan di taman masjid itu kini hanya tersisa sebagai kenangan—sementara kenyataan di hadapannya terasa begitu sunyi.
“Apakah semua ini memang harus terjadi…” gumamnya lirih.
Langkahnya kembali bergerak, membawa dirinya menuju malam yang belum ia ketahui akhirnya.
Hari-hari terus berlalu dengan cepat, namun bagi Seo Yeon, waktu seolah berjalan lambat dalam keasingan. Kota yang dulu begitu akrab kini terasa menolaknya. Ia seperti pendatang di negeri sendiri, bukan lagi rumah tempat ia dilahirkan.
Meski begitu, cintanya pada Islam justru tumbuh semakin dalam. Dalam sujud-sujud panjang di malam hari, Seo Yeon memohon petunjuk, perlindungan, dan kekuatan agar bisa bertahan.
Namun kenyataan tak selalu berpihak. Sisa uang di dompetnya kian menipis, dan kartu debit yang selama ini menjadi tumpuannya telah dibekukan. Ia mulai terbiasa menahan lapar, menghemat sebaik mungkin agar bisa bertahan lebih lama.
Dalam kepasrahan total, ia hanya menggantungkan harapannya pada doa—percaya bahwa Allah takkan pernah meninggalkannya.
Suatu siang, di tengah langkahnya yang lelah, ponselnya tiba-tiba berdering. Seo Yeon tertegun, jantungnya berdegup lebih cepat saat melihat nomor tak dikenal tertera di layar. Dengan ragu dan rasa cemas yang menggantung, ia mengangkat panggilan itu.
“Yeoboseyo...?” Suara Seo Yeon terdengar lirih, penuh kegelisahan.
“Eonni,” sahut suara di ujung sana—begitu familiar, hangat, dan dirindukan.
“Rin-ah?” Seo Yeon menahan napas, nyaris tak percaya bahwa adiknya berhasil menghubunginya.
“Ne, eonni. Aku mencarimu ke mana-mana. Syukurlah kau menjawab teleponku. Di mana kau sekarang?”
Seo Yeon menggigit bibir, matanya memanas, dan air mata jatuh tanpa bisa dibendung. Mendengar suara Hae-rin seperti membuka semua kerinduan yang selama ini ia tahan.
Setelah percakapan singkat yang penuh haru, mereka sepakat bertemu di sebuah taman kecil di sudut kota.
---
Melepas Rindu dalam Pelukan