Beberapa jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Seo Yeon mulai menembus langit malam, meninggalkan Seoul yang perlahan mengecil di balik jendela. Deru mesin pesawat terdengar stabil, mengiringi perjalanan panjang yang membawanya menuju negeri yang kini ia tuju.
Dari balik jendela, lampu-lampu kota perlahan mengecil, berubah menjadi titik-titik cahaya yang akhirnya menghilang dalam gelapnya langit malam.
Seo Yeon menyandarkan kepala ke kursi. Tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya, seolah memastikan bahwa semua yang ia miliki masih bersamanya. Di dalam hatinya, berbagai perasaan bercampur—cemas, harap, dan rindu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.
Sesekali ia memejamkan mata, namun bayangan Bandung kembali hadir. Udara sejuknya. Bangku kayu di taman pelataran masjid. Dan sosok pemuda pendiam yang pernah ia lihat. Kenangan itu datang tanpa diminta, menghangatkan hatinya di tengah dinginnya kabin pesawat.
“Apakah aku akan menemukannya lagi…?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Waktu terasa berjalan lambat hingga akhirnya suara pramugari terdengar lembut mengumumkan pendaratan. Seo Yeon membuka mata. Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta tampak berkilau, berbeda dengan Seoul yang baru saja ia tinggalkan.
Napasnya tertahan sejenak.
Ia tahu, ini bukan sekadar kedatangan. Ini adalah awal dari kehidupan baru.
---
Selamat datang kembali Seo Yeon
Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menyambutnya dengan suasana yang hangat.
Puspa berdiri dengan perasaan haru di tengah hiruk-pikuk terminal kedatangan internasional. Matanya tak lepas dari pintu kaca yang terus terbuka dan tertutup, membawa wajah-wajah baru dari berbagai penjuru dunia. Dalam hatinya, ia mengulang-ulang doa agar pertemuannya dengan sahabatnya berjalan lancar. Hari ini berbeda dari biasanya. Ia bukan datang sebagai pemandu wisata atau penerjemah bahasa untuk klien asing. Kali ini, ia berada di sana untuk menyambut seseorang yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya—Seo Yeon.
Puspa tersenyum kecil, mengenang pertama kali ia bertemu Seo Yeon dan Hae-rin. Kala itu, ia berdiri di tempat yang sama, membawa papan nama di tangan, siap menjemput tamu dari Korea Selatan. Ia tak pernah menyangka pertemuan profesional itu akan tumbuh menjadi persahabatan yang begitu hangat. Namun hari ini, semuanya bukan tentang pekerjaan. Hari ini, ia menyambut seorang sahabat yang baru saja melewati perjalanan besar dalam hidupnya.
Tak lama kemudian, pengumuman kedatangan penerbangan dari Korea Selatan terdengar melalui pengeras suara. Jantung Puspa berdebar lebih cepat. Ia berdiri lebih tegak, matanya mengamati setiap sosok yang mulai keluar dari pintu kedatangan.
Hingga akhirnya, sosok Seo Yeon muncul di antara kerumunan, dengan wajah lelah namun penuh ketenangan. Ia mengenakan gamis biru muda yang anggun, dipadukan dengan hijab putih yang menutupi seluruh auratnya. Langkahnya tenang, namun sorot matanya terus mencari.
Ketika pandangan mereka bertemu, keduanya seakan terdiam sejenak. Di tengah keramaian itu, waktu terasa melambat, seolah mereka memastikan bahwa pertemuan ini benar-benar nyata. Seketika, senyum tipis menghiasi wajah Seo Yeon, sementara mata Puspa mulai berkaca-kaca.