
Di tengah hamparan sawah yang menghijau, berdiri kokoh Pesantren Tebuireng. Tempat ini bukan hanya sekadar lembaga pendidikan; ia adalah saksi bisu perjuangan umat Islam di Indonesia. Di sinilah Resolusi Jihad dicetuskan, sebuah momen penting yang menggugah semangat para santri untuk membela tanah air.
Aku, Aisyah Rukmana, berdiri di depan gerbang besar pesantren, merasakan aura sejarah yang menyelimuti tempat ini.
“Masih ingat gak film “Sang Kyai” yang mengisahkan perjuangan 10 November?” tanya Puput kepadaku.
“Masih dong, kan aku dulu nontonnya sama Ustadzah Puput dan temen-temen seangkatan kita di lapangan pondok putri pesantren Tebuireng, kayak layar tancap hahaha,” jawabku.
Dalam pikiranku, terbayang sosok KH. Hasyim Asy’ari, sang pendiri, yang berdiri tegak di hadapan santri-santrinya, membangkitkan semangat untuk berjuang demi kemerdekaan.
Pesantren Tebuireng berdiri megah, dikelilingi sawah hijau yang terbentang luas. Di sinilah sejarah ditulis, tempat di mana Resolusi Jihad lahir, menjadi saksi bisu perjuangan umat Islam di Indonesia. Setiap sudut pesantren ini dipenuhi aroma tradisi dan pelajaran berharga. Saat aku, Aisyah Rukmana, kembali menginjakkan kaki di sini, hati ini dipenuhi rasa rindu dan antisipasi.
“Tempat ini selalu membuatku teringat masa-masa itu,” gumamku, mengingat saat-saat pertama kali menjadi santri baru.
“Benar sekali, yang masih aku ingat kuat adalah kalimat dari Gus Fahmi,” Putri memulai penjelasannya.
“Resolusi jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945 di Pesantren Tebuireng menjadi panggilan bagi para santri dan umat Islam untuk membela tanah air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.” Putri menambahkan.
“Dulu, Pesan Gus Fahmi saat kita masih menjadi santri baru, kurang lebih beliau bilang gini….”
“Kalian harus tahu bahwa mondok atau belajar di pesantren juga merupakan suatu bentuk Jihad. Jihad dalam arti berjuang dijalan Allah melalui ilmu, membangun peradaban melalui pendidikan.“
“Santri yang mondok mengorbankan waktu tenaga dan kenyamanannya untuk memperdalam pengetahuan agama mengasah akhlak dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat bagi umat.”
“Jihad terhebat adalah mengalahkan diri sendiri.”
“Biarkan “Tanah Tebu” yang dipijak sekarang menjadi saksi, bahwa belajar adalah sifat yang paling sunyi.”
“Masyaallah, karena isi pidato KH. Fahmi Amrulloh Hadziq dalam Upacara Hari Santri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang itulah aku tergerak untuk semakin yakin mondok.”
Aku tertegun mendengarkan penjelasan Puput.
“Sekarang, Pesantren Tebuireng punya banyak unit loh” Puput kini beralih topik menjelaskan pesantren.
“Dulu kan kita mondok di Pondok Pesantren Putri Tebuireng dan sekolah di SMA A. Wahid Hasyim kan ya? Nah sekarang, pondoknya itu makin berkembang pesat dan melebarkan sayap.”
“Gimana tuh?” tanyaku penasaran.
“Sekarang itu ada 20 unit dari unit pendidikan dan pondok di Pesantren Tebuireng”