Malam itu, suasana di ruang belajar pesantren terasa lebih ceria dari biasanya. Lampu-lampu menyala hangat, dan suara tawa santri mengisi udara. Aisyah dan teman-temannya sedang berkumpul di sudut ruang, berbagi cerita tentang kegiatan sehari-hari mereka.
Tiba-tiba, pintu terbuka dan Ustadzah Mafika masuk. Senyumannya yang hangat langsung menarik perhatian semua santri. Suara gaduh pelan-pelan mereda saat semua mata tertuju padanya.
“Assalamualaikum, anak-anak!” sapanya ceria. “Ada yang mau setor hafalan Al-Qur’an hari ini?”
“Waalaikumsalam, Ustadzah! Aku Usttadzah!” Laily mengangkat tangannya dengan bangga.
“Hebat! Semangatmu sangat menginspirasi!” Ustadzah menjawab. Namun, Aisyah merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang berbeda malam ini.
“Sekarang, aku ingin memberikan pengumuman penting,” Ustadzah Mafika melanjutkan, menatap serius ke arah santri.
“Mulai malam ini, kita akan memulai program baru, yaitu menghafalkan Hadis Arbain Nawawi.”
Suara bisik-bisik langsung terdengar di antara santri. Aisyah merasakan ketegangan di udara. “Hadis Arbain Nawawi? Itu kan ada 40 hadis! Gimana ya?” pikirnya.
“Bisa kalian bayangkan?” Puput berbisik kepada Aisyah, wajahnya sedikit cemas. “40 hadis dalam waktu tertentu! Kita harus kerja keras, nih!”