CAHAYA DI TANAH TEBU

RIRIN ERATAURINA
Chapter #13

Menemukan Suara

Sejak bergabung dengan ekstrakurikuler Jurnalistik dan Kudaireng, Aisyah merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hidupnya. Hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas yang padat, tapi di situlah dia menemukan semangat baru. Suatu sore, setelah rapat rutin Jurnalistik, Aisyah duduk di bawah pohon besar di halaman pesantren, dengan buku catatan dan pulpen di tangan.

“Eh, Aisyah! Apa yang kamu tulis?” Firzania datang menghampiri sambil membawa teh hangat.

Aisyah mengangkat kepala, terkejut. “Oh, aku baru mulai menulis tentang pengalaman kita di pesantren. Rasanya kayak… kayak roller coaster, gitu!”

Roller coaster? Kenapa?” Firzania duduk di sebelahnya, penasaran.

“Kadang aku merasa senang, kadang juga berat banget. Tapi menulis ini bikin aku bisa mengeluarkan semua perasaan,” jawab Aisyah, matanya berbinar.

“Coba, bacakan sedikit!” desak Firzania.

Aisyah ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah, ini sedikit.” Dia menghela napas, lalu mulai membaca. “Hari-hari di pesantren ini kadang terasa seperti tantangan besar. Setiap tawa dan canda yang kita bagi membuat semuanya lebih ringan, tetapi… ada saat-saat di mana aku merasa seperti terjebak, tapi semua sirna jika diri ini menganti niatnya sebagai jihad, jihad dalam proses mencari ilmu, bukankah kita semua adalah insan manusia yang memiliki kewajiban mencari ilmu dari lahir hingga liang lahat kan?.”

“Wah, itu dalam banget, Aisyah!” Firzania berkomentar, membuat Aisyah merasa lebih percaya diri.

Setelah membaca, suasana menjadi hening. Firzania menyentuh lengan Aisyah. “Kamu punya bakat, Aisyah. Teruslah menulis! Aku yakin ada banyak yang ingin mendengarkan suaramu.”

Lihat selengkapnya