Hari-hari menjelang perjalanan menuju Villa di Gunung Kelud dipenuhi dengan kesibukan dan antusiasme yang tinggi di Pondok Pesantren Putri Tebuireng. Aisyah, sebagai ketua baru Kudaireng, memimpin persiapan untuk pelantikan kepengurusan dan anggota baru di tempat yang istimewa tersebut. Villa yang terletak di kaki gunung itu dipilih bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai simbol harapan dan semangat baru bagi organisasi mereka.
Aisyah duduk di sebuah meja di ruang kelas, dikelilingi oleh beberapa pengurus dan anggota baru. Di depan mereka, terdapat daftar barang yang perlu dibawa dan rencana kegiatan yang telah disusun dengan teliti.
“Baik, teman-teman! Kita perlu memastikan bahwa semua persiapan berjalan lancar. Kegiatan pelantikan kita akan menjadi momen yang tak terlupakan,” kata Aisyah, suaranya tegas namun penuh semangat.
Puput, yang duduk di sampingnya, mengangguk dengan penuh semangat. “Aku sudah menghubungi alumni yang akan datang. Mereka sangat antusias untuk berbagi pengalaman dan memberi semangat kepada kita.”
“Bagus! Kita juga harus menyiapkan tempat untuk acara pelantikan dan sesi diskusi bersama alumni,” tambah Firzania, yang selalu siap dengan ide-ide kreatif.
“Jangan lupa, kita perlu membawa alat musik untuk menghibur diri setelah acara,” Vina menambahkan dengan senyum lebar. “Kita bisa bernyanyi dan bersenang-senang di malam hari.”
Di sudut ruangan, Laily dan Syamsi saling berbisik. “Apa kamu sudah menyiapkan makanan untuk perjalanan? Kita tidak boleh kelaparan di tengah jalan,” tanya Laily.
“Tenang saja! Aku sudah menyiapkan keripik dan camilan lainnya. Kita juga bisa beli makanan di perjalanan,” jawab Syamsi dengan percaya diri.
Aisyah tersenyum mendengar obrolan mereka. “Bagus! Pastikan semua makanan dan minuman cukup untuk semua anggota. Kita harus menjaga energi selama perjalanan.”
Setelah menyelesaikan daftar barang yang harus dibawa, Aisyah memimpin diskusi tentang rencana perjalanan. “Kita akan berangkat pagi-pagi sekali agar bisa sampai sebelum siang. Pastikan semua siap dengan kendaraan masing-masing. Kita juga akan melakukan konvoi agar bisa saling menjaga.”
“Dan jangan lupa, kita harus membawa jaket karena di sana kemungkinan besar suhunya lebih dingin daripada di Jombang, dan jangan lupa untuk saling menjaga satu sama lain,” Robiah menambahkan, menunjukkan kepeduliannya terhadap keselamatan.
“Setuju! Kita harus saling menjaga satu sama lain,” Aisyah menambahkan.
Semua anggota organisasi Kudaireng merasa bersemangat dengan rencana yang telah disusun. Mereka membayangkan momen-momen indah yang akan terjadi di Villa, di mana mereka akan belajar, berdiskusi, dan merayakan pelantikan kepengurusan baru.
~~~Ririn Erataurina~~~
Setelah rapat persiapan menuju Gulung Kelud. Di sebuah ruang kelas yang sederhana di Pondok Pesantren Putri Tebuireng, suasana hangat dan penuh semangat menyelimuti Aisyah dan teman-temannya. Dinding-dinding kelas yang dihiasi poster-poster motivasi tampak bersinar dengan tawa dan canda mereka. Hari itu, mereka berkumpul untuk merencanakan perjalanan yang telah lama dinantikan ke Gunung Kelud.
“By the way, makasih ya temen-temen, awalnya aku mengajak Aisyah saja yang ikut daftar di Kudaireng ini, biar aku tidak sendirian pas ngikutin kegiatannya, eh ternyata kalian semua juga ikut organisasi ini.” Firzania mengawali pembicaraan.