Seminggu sudah Aisyah berada di kamar 101 Wisma Nafiqoh ini, kerinduan mulai menerpAisyah, kerinduan pada kasur di kamar, boneka-bonekAisyah diatas kasur, kerinduan bermain gadget setiap detiknya, kerinduan terhadap gebetan semasa SMP, kerinduan ngeband bersama club band, kerinduan bermelodi bersama piano tersayang, kerinduan berjalan-jalan mengukur jalan raya di siang hari bersama the geng ku semasa SMP, kerinduan menonton TV, terlebih kerinduan yang tidak dapat dibendung adalah kerinduan kepada Ayah dan Adikku, kerinduan yang paling Aisyah rasakan adalah ketika menjalani masa UTS pertama kalinya semenjak Aisyah disini, UTS yang belajar sendiri tanpa Umi yang biasanya selalu menemaniku belajar hingga larut malam. Disini tidak kutemukan suasana itu. Aisyah disini seperti di “Penjara” (awalnya), namun lama-lama Aisyah merasakan ada yang unik di “Penjara” ini, penjara yang bergerbong, penjara yang mengajarkan Aisyah ke jalan yang lebih benar, dipenjara yang menuntunku untuk mempertebal keimanan, penjara yang mempertemukanku dengan Gus ganteng se jagad raya, penjara yang mengenalkanku dengan banyaknya teman dari berbagai daerah, bahasanya juga. Hanya untuk menyebut “berapa” saja banyak bahasa seperti :
berapakah kalau anak itu asli madura
sabaraha kalau anak itu asli dari Sunda
berapa kalau dia dari anak hits Jakarta
berapa kalau anak itu dari Padang
piro jika dia dari Jawa Timur seperti Aisyah
pinten jika dia anak jawa yang menggunakan bahasa jawa kromo, entah dia asal jawa timur ataupun jawa tengah.
Aisyah bergumam,
“Tapi, disini sekolahnya loh fullday, penuh dengan kegiatan organisasi, seni, olahraga dan sebagainya, terus belajar agamanya kapan? Percuma dong mondok disini tapi gak ada ajaran agamanya, lalu apa gunanya mondok?” kalimat jahanam itu dengan beraninya nyeplos di mulutku dengan keras, seolah-olah ingin bertanya pada alam.
“Pendidikan di Pondok itu tidak membedakan non agama dan agama. Semuanya satu dan semuanya berhubungan. Agama langsung dipraktekkan dalam kegiatan sehari-hari. Di Pondok, agama adalah oksigen, dia ada dimana-mana, coba deh baca Novel Karya A. Fuadi yang tentang mondok-mondok itu, pasti kamu menemukan kalimat yang barusan saya ucapkan, kamu kurang membaca sih.... jadi mudah memandang sesuatu hanya dari satu sudut pandang, coba lebih sering membacanya dan perdalam ilmu. Belajar melihat tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tetapi dari sudut pandang yang lainnya” jawaban spontanitas itu terceletuk di telingAisyah.