CAHAYA DI TANAH TEBU

RIRIN ERATAURINA
Chapter #28

Ro'an adalah Kerja Bakti Ala Pesantren


Ditanganku, jari-jari mendekap 2 kertas bekas, hanya kertas bekas sisa revisian skripsi ustadzah, maklum ustadzahku ini gercep (gerak cepat), ingin cepat lulus sehingga sangat gercep juga dalam mempersiapkan proposal skripsinya sedari dini, entah apa yang dikejar beliau, yang jelas niat baik ingin membahagiakan kedua orang tuanya menjadi salah satu tujuannya. Jari tangan kanan membawa dua kertas bekas, sedangkan jari kiri memeluk sebatang bolpoin. Mengangkat kaki menuju kedua santriwati nan cantik sudah mandi dengan bedak tipis di wajahnya yang sedang terduduk di ujung timur kamar.

“Ayo... bikin jadwal Ro’an” seruku

Iyo ayo, kopyokan ae yo” jawab Pinut.

           Pinut adalah nama panggilan kami ke Qia. Nama aslinya adalah Sayyidah Vina Syauqia. Dia orangnya sangat sederhana, tapi sederhananya Pinut itu keren. Sederhana yang tetap mengikuti perkembangan zaman. Memang dia ini basic simple. Gak rempong. Dan gak suka ambil pusing. Dia asli Cirebon, tapi keluarganya merantau di Jombang dan sekarang punya usaha pulsa di Jombang. Dia punya kakak cowok, yang lumayan ganteng. Hal ini terbukti saat dia menunjukkan foto keluarganya, terlihat teman-temanku yang saat itu juga sedang asik nimbrung ikut bersorak ria melihat ketampanan kakaknya pinut. Maklumlah kami para santri jarang melihat cowok, apalagi cowok ganteng, jadi sekali lihat langsung histeris, namun histerisnya masih dalam taraf wajar dan berupa candaan. Bukan histeris lebay dan tidak sesuai syariat islam.

           ‘Tapi endi kertas Mbak Aisyah... terus yo apane seng ate di kopyok pin, wang kertas ae ora onok” jawab Lia yang sedang asyik baca buku saat menimpali kalimat Aisyah dan pinut. Entah buku apa yang sedang dibacanya itu, kalau melihat gestur dan mimik wajahnya seperti sedang membaca novel.

           “Heee Mak Lia... di dekek sek talah buku e iku, iki lho, Mbak Aisyaha wes gowo kertas karo pulpen” seru Pinut.

           “Eh iyo seh, sepurane talah... gak delok” jawab Lia sambil meringis memperlihatkan giginya yang kecil-kecil itu.

           Kami sering memanggil Lia dengan sebutan Mak Lia. Di kamar kami ada yang menjadi Mak, ada yang menjadi Mama, ada yang menjadi anak, ada pula yang menjadi bu kaji – aslinya bu Haji-, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Karena kami disini sudah merasa seperti keluarga, yang dimana setiap hari bertemu, saling guyon, saling mengisi, saling mengingatkan, saling mengambilkan makanan ketika ada yang sakit, dan semua hal yang kebanyakan dilaksanakan secara bersama-sama. Asam, manis, garam, asin semua dirasakan bersama-sama.

           “Iki lho mak, Aisyah wes gowo kertas karo pulpen”

Tegasku lagi sambil Aisyah menarik sedikit rokku ke atas untuk mempermudah diriku ketika mau duduk di lantai bersama mereka. Aisyah lalu menyobek kertas bekas tersebut menjadi delapan bagian.

           “Ijek ke gedhen mbak, suwek maneh” Lia menyuruhku menyobek lagi kertas bekas itu agar bisa di tulis lebih banyak jatah apa saja yang perlu dibagi kepada teman-teman.

           “Ngongkon-ngongkon tok, kene loh ewangi nyuwek-nyuwek ta, nulis-nulis tah, iso’e mung ngongkon tok” perkataan Pinut disambut dengan Aisyah yang ketawa mendengarnya.

Lihat selengkapnya