Keesokan harinya, Aisyah terasa udara lebih segar meskipun mata masih sepet ngantuk gara-gara semalam tidurnya terlambat, tapi berusaha bangun menjalankan salat tahajud adalah kebiasaan kami di pondok. Meskipun kadang harus di obrak-obrak dulu baru bangun, terkadang ada pula yang harus kakinya ditarik sehingga badannya jg ikut tertarik baru bangun, ada juga yang seperti itu, ada pula yang hanya di datangi saja ke dekat tempat tidurnya itu sudah mampu membuat dia bangun dari tidur pulaskan. Keren kan? Dan Aisyah, termasuk orang yang sangat susah untuk tidur, dan jika sudah tidur sangat susah untuk bangun.
“Ah... tidak, kali ini Aisyah harus bangun, perubahan dimulai dari diri sendiri, dari hal terkecil dan dari sekarang!”
Aisyah bergumam pada diri sendiri yang tiba-tiba pula dapat mengingat kata-kata itu. Kakak alumni itu sepertinya telah mampu menghipnotisku.
Setelah menjalankan salat tahajud, salat subuh, membaca surat al-waqi’ah yang dipimpin oleh Gus Hadziq seperti biasanya di tempat imamnya sana, sesudah melaksanakan PHBS, mandi, dan juga mengantri sarapan, kami berjalan menitikan kaki menuju sekolah masing-masing. salat dhuha dan tausiyah pagi telah dilaksanakan, berdoa sebelum belajar seperti biasanya dengan nada dan lantunan merdu, yang diakhiri dengan membaca doa. Masuklah jam pelajaran pertama. Kali ini jam pelajaran pertama adalah pelajaran fiqih. Ustad Maulana yang mengajar kami kala itu.
Ustad Maulana masuk ke kelas kami dengan membawa setumpuk kitab. Aisyah membatin
“Aduh... kitabnya tebal sekali, pasti mau maknai lagi”
Mulutku menguap tidak bisa dikondisikan meskipun itu masih pagi, maklum tadi malam Aisyah tidur jam 3 dini hari. Itu tidurnya bukan malam lagi sih, tapi sudah tidur pagi.
“Hari ini saya membawa kitab banyak, namun kitab ini untuk jenjang kelas 3 SMA Aliyah, berhubung kalian ini masih kelas XI, jadi hari ini kita tidak akan maknani kitab”
Aisyah dan teman sudah mulai dibuat mau tersenyum.