CAHAYA DI TANAH TEBU

RIRIN ERATAURINA
Chapter #33

Perolehan

Kalimat motivasi lainnya juga ku dapatkan dari buku Winda, Aisyah seperti ditampar. Selama ini Aisyah berlari tertatih-tatih tak ada gunanya karena satu hal, Aisyah lupa bagaimana cara untuk berjuang, Aisyah lupa waktu, pikiran ku terpAisyah hanya untuk hal yang tidak berguna, Aisyah hanya menikmati kesedihanku yang tak tau mana ujungnya.

“Selalu bertindak bodoh menangis merengek untuk pulang, padahal waktu yang Aisyah gunakan untuk memikirkan cara agar Aisyah bisa pulang itu membutuhkan waktu berjam-jam, belum lagi menangis dan telepon orang tua, sudah berapa jam yang Aisyah habiskan sia-sia?” Aisyah mengumpat pada diri.

Selalu menunda-nunda pekerjaan, kerjakan besok sajalah, bangun tidur dengan malas-malasan, mengerjakan salat tidak di peras sarinya, hanya grudak gruduk grusa grusu berdiri, duduk lalu salam, tidak tau makna salat sesungguhnya untuk apa, Aisyah hanya sebatas mengerjakan dan menggugurkan kewajibanku untuk salat saja, Aisyah lupa cara berlutut dan berdoa” Aisyah memaki diri.

Aisyah juga selalu menuntut Allah,

“Kenapa si Aisyah harus mondok?”

“Kenapa si nilai-nilaiku sekarang menjadi hancur?”

“Kenapa si diniyahku termasuk golongan kasta terendah?”

“Kenapa si?”

“Kenapa si?”

Dan

“Kenapa si?”

Aisyah lupa bahwa semua itu atas dasar usahAisyah sendiri,

“Jika kamu tidak berusaha dengan sungguh-sungguh, jangan pernah kecewa dengan hasilmu”, Ya... kadang Aisyah menuntut tapi tidak pernah intropeksi diri. Bagaimana usahAisyah selama ini.

“Usaha tidak akan mengkhianati hasil” dan Aisyah kini berusaha lebih giat.

 

Aisyah terduduk memeluk bantal di persimpangan lututku, kaki menekuk, bersila. Meletakkan sebongkah buku tulis yang berbaju kulit di bagian cover depan dan belakangnya, bukan buku binder, seperti buku orang kantoran, keren jika dilihat- sekilas-. Buku yang Aisyah beli di toko seberang jalan depan pondok putra. Saat Aisyah membeli buku itu, uangku hanya tersisa dua puluh ribu di kantong, ini uang terakhirku untuk seminggu ini, Aisyah galau, bagaimana? Apa Aisyah harus tidak jajan untuk minggu ini hanya demi membeli buku ini? Bisa saja Aisyah meminta transfer uang dari kedua orang tuAisyah, sangat bisa, mudah bagi mereka, tidak sulit pula. Namun batinku yang sulit, Aisyah tidak bisa meminta uang seenaknya kepada orang tuAisyah, Aisyah sedari kecil belajar mandiri dan berhemat, tidak menghambur-hamburkan uang, kalau di pondok namanya belajar qonaah, menerima apa adanya, jika jatah seminggu segitu ya udah segitu aja, jangan lebih tapi jangan kurang juga, cukup gak cukup ya harus di cukup-cukupin, kalau cukup ya alhamdulillah, lebih ya subhanallah, kurang ya tetap subhanallah lah belajar sabar, gak boleh manja. Dan Aisyah putuskan untuk membeli buku itu, tak apalah tak jajan, toh hanya seminggu kan? Bukan sebulan.

Di rumah, uang sebesar dua ribu bagiku sangatlah tidak berharga, nilai uang dua ribu di matAisyah seperti uang seratus rupiah, buat apa? Untuk beli permen saja tidak cukup, karena permen sudah seharga dua ratus rupiah, gak guna! Tapi setelah Aisyah mondok, Aisyah baru tahu, betapa berharganya uang dua ribu itu, dengan uang dua ribu, Aisyah bisa membeli kerupuk, atau kecap, mungkin sambal, terkadang bisa juga membeli mie goreng instan. Malam itu, lapar sekali perutku, sudah seperti bermain drum band para cacing di perutku sana, meronta-ronta berdemo agar segera diberikan makanan. Tapi uangku sudah benar-benar habis untuk dipakai beli buku tulis cover kulit tadi, ah... Aisyah mulai menyesali kenapa harus membeli buku itu tadi, mending di pakai beli jajan, tapi disatu sisi, Aisyah bangga karena Aisyah bisa bersabar.

“Sudah ya nak... sabar.. malam ini kita puasa dulu, nunggu jabo besok pagi aja ya buat makannya” sambil mengelus-elus perutku seolah-olah ada bayi di dalam kandungan sana. Ala ibu-ibu muda.

Satu hari tidak jajan sama sekali Aisyah bisa kuat, tapi kalau tiga hari? Rasanya Aisyah mulai tersiksa, Aisyah anti sekali untuk menghutang, tidak! keluargAisyah tidak pernah mengajarkan berhutang kepada orang lain, justru kalau bisa kitalah yang harus memberikan hutang kepada mereka sebagai bentuk pertolongan dari keluarga kami. Perih rasanya perutku, seperti diremas, dikeruk habis lambungku hingga tipis. Aisyah menunduk memeluk bantal, kali ini bukan karena iseng, tapi memang sengaja, tidak kuat menahan perihnya. Aisyah turun dari kasur, menuju almari, Aisyah bongkar-bongkar lemariku, berharap ada secercah harapan disana, Aisyah lihat di bawah tumpukan baju, tidak ada uang disana, Aisyah buka laci yang ada di dalam lemariku, sekali lagi Aisyah dibuatnya kecewa, tidak ada uang sepeserpun disana. Aisyah duduk lagi di kasur, kaki masih menjuntai di lantai, belum ku angkat ke atas kasur, Aisyah melihat tasku di samping bawah kasur, Aisyah buka resleting depan, sekali lagi Aisyah dikecewakan – tidak ada uang disana-, Aisyah semakin meratapi nasib. Duduk bersila di atas kasur, tanganku memegang pipi dengan siku bersandar pada paha, perih semakin tidak tertahankan,

“Ya allah... haruskah Aisyah menghutang?”

“Tidak!” Aisyah berteriak dalam hati.

Sudah prinsipku untuk tidak berhutang.

Ingat kata ustad-cukup allah saja yang menjadi sandaran dan penolongmu.

Ya allah,,, tolonglah hambamu yang cantik ini...

Meskipun perut perih, masih saja Aisyah narsis di depan Tuhan. Berani-beraninya.

Aisyah teringat, didalam resleting besar tasku, bagian belakang di dalamnya itu masih ada resleting lagi, resleting rahasia, tidak menunggu diperintah, Aisyah langsung menyergap tasku, membuka resleting terselubung itu,

“Akhirnya Aisyah menemukan uang dua ribu, alhamdulillah ya allah.. betapa berharganya uang dua ribu ini”

Aisyah langsung memakai kerudung, melewati pintu kamar, menembus malam, menuju kantin, membeli mie goreng instan,

“Selamat ya nak... kamu malam ini bisa makan dan bermanja-manja” ku elus-elus perutku dengan bahagia. Dasar gila! Batinku.

Meskipun batinku kini bisa bersabar dalam melewati segala hal, tapi ternyata fisikku yang berkata tidak bisa sabar, dia tetap butuh asupan nutrisi untuk pembentukan energinya. Beberapa waktu lalu, Aisyah Ikut olimpiade biologi, lalu ikut olimpiade matematika di Jombang, kemudian join di Olim fisika yang diadakan di Kediri. Dan semuanya gagal, Aisyah tidak lolos ke babak final, jangankan babak final, masuk babak semifinal saja Aisyah tidak pernah. Parah! Hidupku semasa di SMA ini penuh dengan kegagalan, gagal masuk OSIS, gagal masuk TAPI, gagal juga di berbagai macam olimpiade, padahal semua itu adalah Aisyah idam-idamkan sedari Aisyah masuk SMA Aweha, selama satu tahun Aisyah gagal terus, tidak ada yang juara satupun, peringkat satu pun juga tidak, parah gila! Padahal Aisyah pengen banget bisa meraihnya. Entah, sepertinya semua usaha yang Aisyah lAisyahkan itu gagal.

           


           “Kamu dipilih Bu Eva untuk mewakili sekolah dalam OSN Kimia bersama dengan Abrori sang peringkat 1 se angkatan saat kita duduk dikelas satu kemarin dan bersama Mas Irwan juga, Selamat ya Aisyaha” kata Pinut sambil menepuk-nepuk punggung.

           Leherku langsung maju ke depan, Aisyah mengernyitkan dahi, bagaimana bisa Aisyah yang dipilih bu Eva? Kenapa? Kok bukan Pinut? Semua pertanyaan itu Aisyah ungkapkan kepadanya.

Lihat selengkapnya