“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”
Begitulah kala ku mulai sambutan, sebagai perwakilan satu-satunya santri. Sebenarnya Aisyah sangat deg-degan, tapi dengan usaha keras, kupejamkan mata ketika Aisyah melangkah menuju panggung kehormatan. Selama perjalanan, tak banyak kilat kamera menemuiku, tapi itu saja sudah cukup membuat matAisyah silau. Aisyah menunduk, bukan karena mata silau akibat kilat itu, tapi lebih karena rasa ta'dzim kepada para undangan khususnya para kyai dan bu nyai yang hadir pada hari itu.
“Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahilladzi an’amana, bini’matil imani wal islaami, wasalatuwasalamuala khoiril anam, sholawatan wasalaman daimaini, mutalazimaini, fii darissalam. Amma Ba'du”
Muqodimah Aisyah lantunkan, itu adalah mukadimah yang diajarkan oleh ibuku sejak Aisyah masih sekolah di MI, kira-kira kelas 5. Aisyah masih ingat, sangat ingat, Aisyah menghafalkan muqodimah itu dengan sedih, karena Aisyah hafalan itu sangat susah masuk ke dalam ingatan di otakku. Padahal tiga hari lagi Aisyah akan menjadi pembawa acara pada saat itu. Aisyah sangat terbiasa dengan hal yang mendadak dan mendesak. Memang tidak baik jika terhimpit waktu deadline. Tapi entahlah. Aisyah suka itu, menurutku jika tidak gupuh karena deadline sudah mepet, Aisyah tidak akan gupuh pula jadinya.
“Yang saya muliakan, Romo Kyai Haji Salahuddin Wahid, selAisyah pengasuh pondok pesantren Tebuireng, Romo Kyai haji Fahmi Amrullah Hadziq selAisyah pengasuh pondok pesantren putri tebuireng, para ustad dan ustadzah yang kami takdzimi, para undangan yang saya hormati dan seluruh teman-teman yang saya cintai.”
Dengan tersenyum Aisyah mengucapkannya, kadang sedikit mengangguk-anggukkan kepala. Berhenti sebentar kira-kira satu tarikan nafas.dan Aisyah keluarkan.
“Syukur alhamdulillah kepada Allah s.w.t dan shalawat salam semoga tetap tercurahkan kepada nabi Allah Muhammad saw” berhenti lagi untuk menarik nafas.
“Disini saya, Rinaldiyanti Rukmana, tapi cukup di panggil Aisyaha saja, mewakili santri-santri dari Mts. Salafiyah Syafi’iyah, SMP Aweha, MA. Salafiyah Syafi’iyah dan SMA Aweha. Untuk mengucapkan, bukan berjuta-juta, bukan berpuluh-puluh juta, tapi rasa terimakasih yang tak terhingga kepada semuanya yang tidak mungkin bisa saya sebutkan satu persatu namanya” Aisyah melihat lurus ke depan, melirik kepada teman-teman sekelasku. Semua memandangku, mungkin menganggap Aisyah ini berbicara dengan lancar dan santai, tenang seperti tidak ada beban, tidak pun grogi sama sekali. Tapi, dibalik semua itu, keringat terjun di punggungku, mengalir deras ke bawah di balik jas wisuda yang kala itu Aisyah pakai. Memegang mimbar pidato, yang jika di foto Aisyah seperti para DPR yang sedang memberikan sambutannya.
Bangga
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
~ . ~