Cahaya senja bersamamu

Fauzani
Chapter #3

Chapter#3 : jangan menyerah,ya

Senin pagi. 


Aku datang dengan semangat baru. Soalnya akhir minggu kemarin habis ketemu Arfan di luar kantor. Rasanya... beda.


"Ran, sini," Dira manggil dari ruangannya. 


Aku masuk. "Iya mbak?"


"Project kita presentasi hari Kamis ke client. Kamu yang bikin slide ya. Arfan yang presentasi."


Aku kaget. "Aku mbak? Aku masih baru."


"Bisa kok. Data udah ada semua di folder. Kamu tinggal desain. Arfan udah minta kamu langsung."


Aku angguk. Deg-degan. Tapi seneng. Dipercaya.


Jam 12 siang. Aku masih di depan laptop. Pusing. 

Tiba-tiba ada 1 cup kopi ditaruh di meja ku. Gak pake gula.


Aku nengok. Arfan. Bawa laptop juga.


"Lagi bikin slide?" tanyanya sambil duduk di kursi kosong sebelahku.


"Iya mas. Agak bingung desainnya."


" sini aku liat." Dia geser kursinya deket. Bahu kami hampir bersentuhan.


Wanginya. Wangi parfum mahal + kopi. 


"Ini kebanyakan teks," katanya sambil nunjuk. "Client gak suka baca. Kasih gambar aja."


Dia ngajarin aku 30 menit. Sabar. Jempolnya kadang gak sengaja nyentuh tanganku pas nunjuk keyboard.


"Ngerti?"


Aku angguk. "Ngerti. Makasih ya... Arfan."


Dia senyum. "Pinter. Nanti traktir aku kopi ya kalau project ini tembus."


"Iya. Janji."


Siangnya kami makan bareng di pantry. Cuma berdua. 

Dira izin ada urusan keluarga.


"Arfan, boleh nanya gak?" kataku sambil nyuap.


"Hmm?"


"Kenapa mas masukin aku ke tim? Padahal banyak senior lain."


Dia diem. Nyuap nasi. 


"Karena aku liat kamu. Kamu kerja keras. Kamu gak banyak nuntut. Dan..." dia berhenti. "Dan kamu bikin kantor ini gak sepi."


Jantungku. Dugh.


"Maksudnya?"


"Dulu tiap lembur aku sendirian. Sekarang ada kamu yang nemenin," dia nyengir. "Jadi rame."


Aku ketawa. Tapi di dalam hati anget.


Rabu malam. H-1 presentasi. 

Kami lembur sampai jam 10. 


"Udah. Cukup. Sisanya besok pagi aja," kata Arfan sambil nutup laptop. "Mata kamu udah kayak panda."


Aku ketawa. "Demi client mas."


Dia berdiri. Ngulurin tangan. "Pulang. Aku anter."


Di mobil, hujan deras lagi. Sama kayak hari pertama kami ketemu.


"Arfan," panggilku pelan.


"Hmm?"


"Makasih ya. Udah percaya sama aku."


Dia nengok sebentar. "Kamu pantes dipercaya, Ran."


Lihat selengkapnya