Seminggu setelah malam hujan itu.
Hubungan kami... aneh.
Di kantor, Arfan tetap profesional. "Selamat pagi, Rania." "Data nya udah?" "Kerja bagus."
Tapi tiap pulang, dia selalu anter.
Tiap aku lembur, dia selalu bawain kopi.
Tiap aku sedih, dia selalu ada.
Cuma satu yang berubah. Dia gak pernah lagi bahas "kita".
Aku juga diem. Takut nanya.
Senin pagi meeting divisi.
Tiba-tiba pintu kebuka. Masuk cewek. Cantik. Dress putih, heels, bawa tas branded.
"Permisi," suaranya manis. "Cari Pak Arfan."
Satu ruangan diem.
Arfan yang tadinya presentasi langsung berhenti. Mukanya kaku.
"Alina? Ngapain kamu ke sini?"
"Jemput. Kita ada lunch sama klien papa," cewek itu senyum ke semua orang. "Oh, hai. Aku Alina. Tunangannya Arfan."
DUNIA KU RUNTUH.
Tunangan???
Aku langsung nunduk. Nulis di buku. Padahal pulpenku gemetar.
Arfan liat aku sepersekian detik. Terus bilang, "Tunggu di lobi."
Meeting bubar.
Dira langsung nyamperin aku. "Ran... kamu gak apa-apa?"
Aku senyum. "Gak apa-apa mbak. Kerja aja yuk."
Padahal di dalam, sakit banget.
Seharian itu Arfan gak ke mejaku. Gak ada kopi. Gak ada "semangat ya".
Jam 5 sore dia chat.
`Arfan: Maaf. Kita ketemu di parkiran ya.`
Aku nunggu 15 menit. Dia datang. Mukanya capek.
"Masuk," katanya.
Di mobil, diem. 10 menit.
"Dia siapa?" tanyaku akhirnya. Suaraku kecil.