Bandung. Kontrakan 3x4 meter.
Dindingnya cat putih udah ngelupas. Ada 1 kasur, 1 meja, 1 kipas angin bunyinya ngiiing.
Tapi tiap bangun pagi dan liat Arfan masih tidur di sebelah... rasanya kayak di hotel bintang 5.
"Ran, bangun. Telat," bisiknya sambil nyubit hidungku.
Aku melek. "Jam berapa?"
"Jam 6. Aku shift pagi di coffee shop. Kamu shift siang di toko buku kan?"
Aku angguk. Kami buru-buru. Sikat gigi gantian. Sarapan roti + kopi sachet.
Sebelum berangkat dia selalu bilang hal yang sama.
"Hati-hati ya. Pulang aku jemput."
Gaji Arfan 2,2 juta. Gajiku 1,8 juta.
Buat kontrakan 800rb, makan, transport... pas-pasan.
Tapi anehnya, gak pernah ngerasa kekurangan.
Minggu pertama di Bandung berat.
Arfan ditanya terus sama bosnya. "Kamu dulu kerja apa?"
Dia jawab, "Admin." Bohong. Aku tau dia malu.
Aku juga. Tiap ada customer nanya "Mbak lulusan mana?" aku jawab "D3."
Padahal dulu aku pernah daftar S1.
Malamnya kami duduk di lantai. Ngitungin uang.
"Sisa 300rb sampai tanggal 20," kataku.
Arfan narik aku ke pelukannya. "Gapapa. Bulan depan kita nabung lebih banyak ya. Buat masa depan kita."
"Masa depan apa?"
"Masa depan kita. Rumah kecil. Ada kamu. Ada aku. Udah."
Aku nyender di dadanya. Denger detak jantungnya. Tenang.
2 minggu berlalu.
Suatu hari ada customer di coffee shop tempat Arfan kerja. Bapak-bapak pake jas.
Pas bayar dia liat name tag Arfan.
"Arfan? Arfan Wijaya? Anaknya Pak Wijaya dari Cahaya Nusantara?"
Arfan kaku. "Bukan pak. Salah orang."
Tapi bapak itu udah foto. Besoknya foto itu viral di grup WA alumni.
"Anak direktur Cahaya Nusantara jadi barista."
Malam itu HP Arfan bunyi terus. Nomor papa. Nomor mama. Nomor Alina.
Dia diem. Terus matiin HP.
"Ran," katanya pelan. "Aku minta maaf."
"Untuk apa?"
"Karena nyeret kamu ke hidup yang kayak gini."
Aku pegang wajahnya. "Arfan. Denger ya. Aku milih ini. Milih kamu. Bukan milih gedungnya."
Dia peluk aku erat. "Makasih."