3 bulan setelah kami "balik" ke Jakarta.
Hidup berubah 180 derajat.
Tapi bukan karena uang.
Arfan beneran mulai dari bawah. Jadi staff marketing.
Aku juga. Jadi staff admin di divisi yang sama.
Gaji UMR. Naik motor bareng. Makan siang 25rb berdua.
Pak Wijaya cuma bilang, "Biar kalian tau. Uang gampang dicari. Orang yang tulus susah."
Dan dia bener.
Pagi ini aku bangun jam 5.30. Ada acara keluarga besar.
Arfan udah mandi duluan. Kemeja putih, celana hitam. Simpel.
"Deg-degan gak?" tanyanya sambil dasiin aku.
"Dikit," jawabku jujur. "Takut salah tingkah sama tante-tante."
Dia ketawa. "Tenang. Ada aku. Kalau ada yang nanya aneh-aneh, lempar ke aku aja."
Kami naik motor ke rumah besar di Menteng.
Sepanjang jalan dia genggam tanganku.
Di rumah, udah rame. Ada 20 orang. Tante, om, sepupu.
Pas kami masuk, semua diem.
"Ini Rania," kata Arfan lantang. "Pacar saya."
Bu Wijaya langsung nyamperin. Peluk aku. "Cantik. Pantesan anak mama milih kamu."
Aku kaget. Direstui?
Sepanjang acara aku disuruh cerita. Dari awal ketemu di lift, sampai ke Bandung.
Tante-tante pada nangis. "Romantis banget sih."
Alina juga datang. Tapi dia senyum. "Selamat ya. Arfan bahagia sama kamu."
Aku lega. Gak ada drama.
Malamnya di mobil, Arfan diem aja.
"Kenapa?" tanyaku.
"Gak. Cuma mikir," katanya. "Kamu udah lolos ujian keluarga. Tinggal ujian terakhir."
"Ujian apa?"
Dia gak jawab. Cuma senyum.
2 minggu kemudian.
Project besar datang lagi. Client dari Jepang.
Arfan dan aku disuruh handle bareng. Lembur tiap hari.