3 bulan berlalu cepet banget.
Persiapan nikah ribet. Fitting baju, pilih gedung, urus catering.
Tapi yang paling ribet: Arfan.
Dia maunya semua "simple".
"Ran, gak usah mewah-mewah. Yang penting kita sah."
"Tapi ini sekali seumur hidup mas," kataku.
"Ya udah. Simple tapi berkesan."
Akhirnya kami pilih gedung kecil di Bogor. 200 tamu. Taman + outdoor.
Tanggalnya: 17 Desember. Hari pertama kami ketemu di lift.
H-3. Aku fitting baju terakhir.
Gaun putih. Simple. A line. Ada renda di lengan.
Pas keluar dari fitting room, Arfan yang nungguin langsung berdiri.
Dia diem. 5 detik.
"Kenapa?" tanyaku gugup.
Dia jalan ke arahku. Pegang tanganku. "Cantik banget."
"Baru tau?" godaku.
"Baru sadar. Kalau perempuan yang mau aku nikahin besok... secantik ini."
Aku pipinya merah. "Udah ah. Malu."
Malam H-1. Aku gak bisa tidur.
Video call sama mama. "Besok anak mama nikah ya."
"Nangis gak mah?"
"Nangis. Tapi nangis bahagia."
Jam 2 pagi, ada WA dari Arfan.
`Arfan: Gak bisa tidur juga?`
`Aku: Iya. Gugup.`
`Arfan: Tenang. Besok kita sah. Terus kita gak akan pisah lagi.`
`Aku: Janji ya?`
`Arfan: Janji. Tidur ya. Besok harus cantik.`
Aku senyum. Tidur.
---
Hari H.
Jam 5 pagi aku udah di makeup.
MUA nya bilang, "Mbak, jangan nangis ya. Nanti luntur."
Jam 9. Aku pake gaun. Kerudung putih. Cincin lamaran masih di jari.
Pintu kebuka. Mama masuk. Nangis.
"Nak... udah gede aja."