Pagi pertama sebagai istri.
Aku kebangun duluan. Jam 6.
Arfan masih tidur. Posisinya miring, tangannya masih meluk aku.
Aku liatin dia. Lama.
Garis rahangnya. Bulu matanya. Bibirnya.
"Ngeliatin apa?" dia kebangun. Suaranya serak.
"Ngeliatin suami," jawabku sambil nyubit pipinya.
Dia ketawa. "Udah sah loh. Boleh disentuh 24 jam."
Aku langsung ngumpet di selimut. "Ishhh"
Dia narik selimutnya. "Bangun. Kita mau ke Bandung kan?"
"Iya. Ke rumah kita."
2 jam kemudian kami di jalan. Naik mobil.
Bukan Alphard. Tapi Honda Brio second yang dia beli 3 bulan lalu.
"Buat kenang-kenangan," katanya.
4 jam perjalanan. Kami nyetel lagu. Nyanyi bareng. Ketawa.
Sampai di Bandung jam 1 siang.
Kontrakan 3x4 meter itu masih ada.
Pemiliknya kaget liat kami. "Lho, Mas Arfan? Mbak Rania?"
"Iya pak. Numpang nostalgia sehari," kata Arfan sambil nyodorin uang.
Di dalam masih sama. Kasur tipis. Kipas angin ngiiing. Meja kayu.
Tapi sekarang ada foto kami berdua ditempel di tembok pake solasi.
"Inget gak?" Arfan nunjuk foto itu. Foto kami makan martabak di lantai.
"Iya. Waktu gaji kamu naik," aku duduk di lantai. "Dulu sempit banget ya."
"Enggak," dia duduk di sebelahku. "Dulu ini luas. Karena isinya cuma kita berdua."
Dia peluk aku dari belakang. "Makasih ya udah mau berjuang di sini."
"Aku juga makasih. Udah diajak berjuang."
Kami masak mie di kompor kecil. Sama kayak dulu.
Makan di lantai. Pake piring plastik.
"Masih enak," kataku.
"Karena makannya sama kamu," dia nyuapin aku.
Sorenya kami jalan ke taman tempat kami biasa duduk.
Beli kopi 2. Gak pake gula.
"Dulu kita duduk di sini sambil ngitung uang 300rb," kata Arfan.