Cahaya senja bersamamu

Fauzani
Chapter #9

Chapter#9 : kabar baik

4 bulan setelah nikah.


Hidup kami udah punya ritme sendiri. 

Bangun jam 6. Arfan masak. Aku siapin bekal. 

Berangkat kerja bareng. Pulang masak bareng. Tidur pelukan.


Tapi 2 minggu ini... ada yang beda.


Aku mual. Terus. 

Pagi, siang, malem. Bau kopi aja langsung muntah.


"Ran, kamu sakit?" tanya Arfan khawatir.


"Gak tau. Mungkin kecapekan," jawabku sambil nutupin mulut.


Dia langsung googling. "Gejala kehamilan."


Aku ketawa. "Halus banget kamu."


Tapi di dalam hati... ada rasa aneh.


Jumat malam. Aku di kamar mandi 30 menit. 

Arfan ngetok. "Ran? Kamu kenapa?"


"Sebentar..."


Aku keluar. Bawa 2 batang test pack. 

Tanganku gemetar.


Arfan langsung berdiri. "Itu apa?"


Aku diem. Nyodorin.


Dia liat. 2 garis. Merah. Jelas.


Ruangan diem 5 detik.


Terus Arfan teriak. "ALLAHUAKBAR!!!"


Dia langsung angkat aku. Muter-muter. 

"RAN! KITA MAU PUNYA ANAK!"


Aku ketawa sambil nangis. "Lepasin! Pusing!"


Dia turunin. Terus peluk aku erat. "Makasih ya. Makasih udah mau kasih aku rumah."


Malam itu kami gak tidur. 

Duduk di lantai. Ngitung nama bayi.


"Kalau cowok namanya Arka. Kalau cewek namanya Aruna," kata Arfan.


"Arka Wijaya. Aruna Wijaya. Bagus," aku nyender di dadanya.


Besoknya kami ke dokter. USG pertama.


Di layar ada titik kecil. Jantungnya: duk duk duk.


Arfan genggam tanganku erat. Matanya berkaca. 

"Denger gak? Itu anak kita."


Aku nangis. Dokternya senyum. "8 minggu. Sehat."


Pulang dari dokter, langsung ke rumah Pak Wijaya.


"Pa! Ma!" Arfan teriak dari pintu.


Lihat selengkapnya