Cahaya senja bersamamu

Fauzani
Chapter #10

Chapter#10 : selamat datang aruna

H-7 dari HPL.


Perutku udah gede banget. Jalan aja waddel-waddel. 

Arfan tiap 5 menit nanya, "Sakit gak? Mau apa? Haus?"


"Udah mas. Aku baik-baik aja," kataku sambil ketawa.


Jam 2 pagi, tanggal 23 Maret.


"Arfan..." aku ngegoyang dia. "Air ketubanku pecah."


Dia langsung melek. Panik. "OKE OKE! TENANG!"


5 menit kemudian kami udah di mobil. Dia nyetir sambil genggam tanganku. 

"Sayang ya. Kuat ya. Papa di sini."


Sampai RS jam 2.30. Langsung masuk ruang bersalin.


Sakitnya... ya ampun. 

Arfan pegang tangan ku erat. Keringatnya bercucuran padahal yang lahiran aku.


"Tarik napas. Buang. Bagus," kata bidannya.


2 jam. 3 jam. 


"Terakhir ya bu. Sekali lagi. Kuat!"


Aku teriak. Arfan ikut teriak nemenin. 


Dan jam 5.17 pagi...


"WAEEEK WWWAAAK"


Suara tangis bayi. 


"BAYINYA PEREMPUAN BU! SEHAT! 3,2 KG!" 


Aku nangis. Arfan nangis. 


Dia langsung cium keningku. "Hebat. Kamu hebat banget."


Terus dia liat anaknya. Digendong suster. 


Mukanya merah. Rambut lebat. Matanya merem. 


"Aruna..." bisik Arfan. Suaranya pecah. "Hai Aruna. Papa di sini."


Suster naruh Aruna di dadaku. Hangat. Kecil. 

Aku peluk. "Hai nak... selamat datang."


Arfan duduk di sebelah. Megang jari kecil Aruna. 

"Janji papa ya. Papa akan jaga kalian berdua."


---


3 hari di RS. Tamu silih berganti.


Pak Wijaya datang. Gendong Aruna. "Mirip neneknya." 

Bu Wijaya bawa 1 koper baju bayi. "Ini semua buat Aruna."


Dira datang bawa kado. "Tante Dira ini ya."


Mama datang dari kampung. Nangis liat cucu. "Akhirnya."

Lihat selengkapnya