Jam 5.45 pagi. Langit Medan masih gelap.
Tapi di rumah kecil warna krem di Jalan Setia Budi, lampu dapur udah nyala.
"PAAPAAA!!!"
Teriakan itu memecah keheningan.
Arfan langsung reflek matiin kompor. Air panas yang tadinya mau dia tuang ke cangkir tumpah sedikit. "Aduh."
"Pelan-pelan nak!" katanya sambil nengok ke belakang.
Di ambang pintu dapur berdiri seorang anak perempuan umur 5 tahun. Rambutnya dikuncir dua, satu miring ke kanan, satu miring ke kiri. Baju tidurnya gambar kelinci. Di tangannya dia genggam boneka beruang yang udah butek.
Itu Aruna.
Anak semata wayang Arfan dan Ran. Hasil dari cinta yang dulu bermula dari seteguk kopi pahit di lift.
"Aruna mau bantu papa," katanya dengan suara cempreng khas anak TK. Matanya masih setengah merem tapi semangatnya udah level 100.
Arfan jongkok. Dia usap kepala Aruna. Rambutnya lebat, sama kayak mamanya. "Bantu apa? Bukannya masih ngantuk?"
"Gak ngantuk. Aruna mau bikin kopi mama." Aruna nunjuk ke mesin kopi. "Kayak tiap pagi."
Arfan ketawa kecil. Lima tahun lalu dia gak pernah kebayang hidupnya akan jadi kayak gini. Dari direktur di gedung 20 lantai, resign, jadi barista, terus sekarang punya perusahaan sendiri namanya "Cahaya Keluarga Corp". Dan yang paling penting: punya rumah yang tiap pagi diributin sama anaknya.
"Boleh. Tapi kamu pegang gelasnya aja ya. Yang nyeduh papa." Arfan ngambil 2 cangkir. Satu cangkir putih polos buat dia. Satu cangkir warna pink ada gambar matahari buat Ran.
"Kopi papa pahit," kata Aruna sambil manjat kursi. "Kopi mama gak pake gula."
"Iya. Karena mama suka yang pahit... tapi manis orangnya." Arfan nyeduh. Aroma kopi langsung memenuhi dapur.
Aruna duduk di kursi, kaki digoyang-goyang. "Papa, kenapa mama suka kopi gak pake gula?"
Arfan berhenti sebentar. Dia inget 6 tahun lalu. Di halte. Hujan. Dia nawarin payung ke cewek yang basah kuyup.
"Karena..." Arfan mikir. "Karena mama itu orangnya kuat nak. Kayak kopi. Pahit di awal, tapi bikin anget di hati."
Aruna manggut-manggut padahal gak paham. "Oh."
Udah jadi. 2 cangkir. Arfan tiup dulu punya Ran biar gak terlalu panas.
"Nah. Sekarang tugas penting." Arfan nyodorin cangkir pink ke Aruna. "Kamu anterin ke kamar. Pelan-pelan ya. Jangan tumpah."
"Misi diterima!" Aruna langsung turun dari kursi. Jalan jinjit-jinjit. Lidahnya keluar saking fokusnya.
Mereka jalan bareng ke kamar utama.
Ran masih tidur. Selimutnya ditarik sampai dagu. Wajahnya lebih dewasa dari 5 tahun lalu. Ada garis halus di sudut matanya. Tapi senyumnya masih sama. Senyum yang dulu bikin Arfan jatuh di lift.
Aruna naruh cangkir di meja nakas pelan-pelan. "Mamaaa..." bisiknya. "Bangun."
Ran merem. Terus senyum. "Hmm... udah jam berapa?"
"Jam 6 kurang 10," jawab Aruna bangga. "Aruna sama papa udah bikin kopi. Gak pake gula."
Ran buka mata. Pertama yang dia liat: anaknya. Kedua: kopi. Ketiga: Arfan yang berdiri di pintu sambil nyender, megang cangkirnya sendiri.
Air matanya langsung ngalir.
"Kok mama nangis?" Aruna panik. Dia naik ke kasur. "Sakit?"
Ran langsung peluk Aruna. Erat. "Gak sayang. Mama cuma... terharu."
"Terharu kenapa?"