Cahaya Senja

Prasetya
Chapter #1

BAB 1 Jalan Menuju Puncak

CAHAYA SENJA

BAB 1

Jalan Menuju Puncak

Damar Jati mengambil tawaran itu. Pada penghujung 1998, tidak lama setelah Presiden Soeharto mundur dan pemerintahan transisi mulai membenahi berbagai lini birokrasi yang lama berkarat, ia menerima posisi baru sebagai Kepala Bidang di dinas provinsi sebuah lompatan yang membawanya keluar dari kota tempat ia membangun keluarga dan kariernya selama lebih dari satu dekade, menuju ibu kota provinsi yang jauh lebih besar dan lebih rumit dinamikanya.

Kepindahan itu bukan keputusan yang ringan bagi keluarga kecilnya. Bayu, yang saat itu berusia hampir empat tahun, harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sementara Tasya harus melepaskan sebagian keterlibatannya dalam bisnis keluarga yang selama ini ia kelola bersama ayahnya, meski tetap menjaga komunikasi dan sesekali pulang untuk mengurus beberapa urusan penting.

"Kamu yakin ini jalan yang benar, Mar?" tanya Tasya malam sebelum kepindahan mereka, ketika mereka berdua duduk di ruang tamu rumah yang akan mereka tinggalkan, dikelilingi kardus-kardus berisi barang-barang yang sudah dikemas.

"Aku tidak sepenuhnya yakin, Tasya," jawab Damar jujur. "Tapi aku rasa, kalau aku tidak coba sekarang, aku akan terus bertanya-tanya seumur hidupku, apakah aku bisa berbuat lebih banyak kalau aku berani ambil tanggung jawab yang lebih besar."

---

Dunia Provinsi

Ibu kota provinsi menyambut Damar dengan dinamika yang jauh berbeda dari kota kecil tempat ia memulai kariernya. Di sini, keputusan-keputusan yang diambil tidak lagi hanya memengaruhi satu kota atau kabupaten, melainkan jutaan orang yang tersebar di berbagai wilayah, dengan kepentingan dan tantangan yang jauh lebih beragam.

Era reformasi membawa perubahan besar dalam struktur pemerintahan—otonomi daerah yang baru diberlakukan memberi kewenangan yang jauh lebih besar kepada pemerintah daerah, sekaligus membuka celah-celah baru bagi praktik korupsi yang, alih-alih berkurang, dalam beberapa hal justru menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih terdesentralisasi dan lebih sulit diawasi.

Damar mendapati dirinya harus belajar ulang banyak hal bukan lagi soal menolak amplop-amplop kecil dari pengusaha lokal, melainkan menavigasi jaringan kepentingan yang jauh lebih rumit: politisi yang baru terpilih lewat pemilihan langsung yang masih seumur jagung, kepala daerah yang harus membalas budi kepada tim suksesnya, dan berbagai kelompok kepentingan yang mencoba memanfaatkan euforia demokrasi baru untuk keuntungan pribadi mereka.

Atasannya di provinsi, seorang Sekretaris Daerah bernama **Bapak Kusnandar**, adalah sosok yang jauh berbeda dari Pak Har dulu lebih formal, lebih berhati-hati dalam setiap ucapannya, dengan pengalaman panjang menavigasi politik birokrasi yang membuatnya menjadi salah satu pejabat karier paling senior di provinsi itu.

"Kamu punya reputasi bagus dari kabupaten, Damar," kata Pak Kusnandar dalam pertemuan pertama mereka. "Tapi provinsi ini permainan yang berbeda. Di sini, kamu tidak cuma berurusan dengan satu bupati atau wali kota. Kamu akan berurusan dengan gubernur, dengan DPRD provinsi, dengan kepentingan-kepentingan yang jauh lebih besar. Saya harap reputasimu tetap bertahan di tengah tekanan yang jauh lebih besar dari yang pernah kamu hadapi."

---

Belajar Bertahan di Ketinggian Baru

Tahun-tahun pertama di provinsi dipenuhi dengan proses pembelajaran yang tidak mudah bagi Damar. Ia mulai memahami bahwa semakin tinggi posisi seseorang dalam birokrasi, semakin sedikit orang yang berani mengoreksinya secara langsung, dan semakin besar pula godaan untuk mulai memercayai bahwa penilaiannya sendiri selalu benar—sebuah bahaya yang persis diperingatkan Mbah Sastro bertahun-tahun lalu tentang lupa diri di tengah kekuasaan.

Lihat selengkapnya