Cahaya yang Tertunda

Ririn Nuraeni
Chapter #31

Chapter 31 - Kabar baik di Tengah penantian

Petugas rumah sakit itu menatap Teh Tia dan Ibu dengan tenang. Wajahnya serius, namun ada kelembutan dalam suaranya.

“Alhamdulillah, Bu… masa observasi Pak Riyan sudah selesai. Kondisinya stabil, dan sebentar lagi beliau akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Jadi keluarga bisa segera menengok setelah pasien dipindahkan.”

Sekejap mata Teh Tia berbinar. Nafasnya yang sejak semalam terasa berat kini mengalir lebih lega. Ia menoleh ke arah Ibu, menahan air mata yang hendak jatuh.

“Alhamdulillah, Bu… Aa Riyan stabil,” ucapnya dengan suara bergetar.

Ibu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Ya Allah… terima kasih…” lirihnya penuh rasa syukur.

Petugas itu tersenyum kecil melihat reaksi mereka. “Untuk sementara, Ibu bisa menunggu di ruang tunggu lantai dua. Nanti setelah pasien benar-benar siap ditempatkan di ruang rawat, perawat akan memanggil keluarga.”

“Iya, Pak. Terima kasih banyak,” jawab Teh Tia cepat, penuh hormat.

Setelah petugas itu pergi, Teh Tia langsung meraih tangan Ibu, menggenggam erat. “Bu, Alhamdulillah a Riyan masih dikasih kesempatan…”

Ibu mengangguk, air matanya terus mengalir. “Iya, Tia. Iya… Alhamdulillah. Doa kita didengar.”

Siang itu suasana kontrakan terasa tenang. Televisi di ruang tengah menayangkan acara kartun, dan Ovi serta Diva duduk bersila di lantai sambil sesekali tertawa kecil mengikuti alur cerita di layar.

Ayla duduk tak jauh dari mereka, di kursi plastik dekat jendela, sambil menggulir ponselnya. Tiba-tiba HP-nya bergetar, layar menampilkan notifikasi chat dari Teh Tia. Dengan cepat Ayla membuka pesan itu.

Teh Tia:

( Alhamdulillah, ay… ka Riyan kondisinya sudah stabil. Sebentar lagi mau dipindahkan ke ruang rawat inap.)

Mata Ayla langsung berbinar, bibirnya bergetar menahan haru. “Alhamdulillah Ya Allah… makasih,” ucapnya pelan.

Diva yang mendengar lirihan bibinya menoleh. “Kenapa, Bi? Ada apa?” tanyanya penasaran.

Ayla berdiri, berjalan ke arah Bapak yang sedang duduk di kursi sambil membaca koran. Suaranya penuh semangat bercampur syukur.

“Pak, Alhamdulillah… barusan Teh Tia chat. Ka Riyan udah stabil. Sebentar lagi dipindahin ke ruang rawat inap.”

Bapak tertegun, korannya diletakkan di pangkuan. Matanya basah menahan haru. “Alhamdulillah… ya Allah, terima kasih…” ucapnya lirih.

Ovi langsung menoleh dari depan TV. “Ayah udah baikan, Bi?” tanyanya cepat.

“Iya, vi. Ayah sekarang udah lebih stabil,” jawab Ayla sambil tersenyum lega.

Diva ikut bersuara, “Terus kita kapan bisa nengok Ayah, Bi?”

Bapak tersenyum menenangkan, lalu menatap kedua cucunya. “Sabar dulu ya, Sayang. Nanti kalian pasti diajak nengok Ayah. Kakek juga belum sempat nengok, jadi nanti kita bareng-bareng ya. ”

Diva mendekat, duduk di samping kakeknya “Aku kangen Ayah kek.” katanya lirih.

Bapak mengelus kepala cucunya. “Ayah juga pasti kangen kalian. Makanya kita terus doain, biar Ayah cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah.”

Ayla menatap mereka bertiga dengan hati yang hangat. Siang itu, di ruang sederhana kontrakan dengan televisi yang masih menyala, kabar baik itu jadi hadiah terindah bagi keluarga kecil mereka.

Ayla kembali duduk di kursi dekat jendela. Hatinya masih hangat oleh kabar baik barusan. Ia menarik napas pelan, lalu kembali menatap layar ponselnya yang kini kembali bergetar.

Nama Ka Damar muncul di layar.

Ka Damar:

(Ayla, kamu ke mana aja? Kok chat kakak nggak dibales dari tadi?)

Ayla terdiam sesaat. Ada rasa bersalah menyelinap di dadanya. Jemarinya lalu bergerak cepat membalas pesan itu.

Ayla:

(Maaf ka… aku lagi di Jakarta. Ngelongok kakak aku. Lagi sakit, kena serangan jantung, semalem udah operasi pasang ring.)

Tak lama, balasan itu masuk.

Ka Damar:

(Innalillahi… sekarang gimana keadaan kakak kamu, Ay?)

Ayla menelan ludah, matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini karena rasa syukur. Ia mengetik dengan hati yang lebih ringan.

Ayla:

(Alhamdulillah ka, sekarang kondisinya udah stabil. Semalem operasinya juga lancar.)

Beberapa detik kemudian, pesan Ka Damar kembali muncul.

Ka Damar:

(Alhamdulillah kalau gitu, Ay. Cepet sembuh ya buat kakak kamu.)

Senyum kecil terukir di wajah Ayla. Ia merasa diperhatikan, ditemani, meski hanya lewat layar kecil di tangannya.

Ayla:

Lihat selengkapnya