Ponsel di tangan Ka Taopik masih menempel di telinganya. Ia melangkah sedikit menjauh dari ambang pintu, wajahnya mendadak tegang. Ayla yang berdiri tak jauh darinya langsung menangkap perubahan itu. Jantungnya ikut berdegup tak karuan.
Bapak mendekat, raut wajahnya penuh tanya.
“Kenapa, Pik?” tanyanya pelan.
Ka Taopik mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Bapak menunggu. Suaranya terdengar rendah saat berbicara dengan Teh Tia di seberang sana.
“Iya, Teh… gimana sekarang?”
“Hah… drop lagi?”
“Iya… iya, aku ngerti.”
Rahang Ka Taopik mengeras. Beberapa detik ia hanya diam, mendengarkan dengan saksama. Lalu ia mengangguk pelan.
“Iya, Teh. Aku langsung ke rumah sakit. Jaga diri ya… sabar.”
Telepon itu pun ditutup.
Suasana kontrakan mendadak hening. Ayla menatap Ka Taopik dengan dada yang terasa sesak. Bapak berdiri kaku di tempatnya.
“Kenapa, Pik?” ulang Bapak, suaranya mulai bergetar.
Ka Taopik menatap Bapak, lalu Ayla. “Ka Riyan… kondisinya tiba-tiba drop lagi, Pak.”
Ayla refleks menutup mulutnya. “Drop?” bisiknya.
“Iya,” lanjut Ka Taopik. “Barusan Teh Tia nelepon. Ka Riyan harus dipindahin lagi ke ruang ICU.”
Bapak langsung terduduk di kursi. Kedua tangannya gemetar.
“Ya Allah…” lirihnya.
Ayla menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. “Tapi tadi… tadi Teh Tia bilang kondisinya udah stabil, Ka.”
Ka Taopik mengangguk. “Iya, Ay. Kakang juga awalnya dikasih tau gitu. Tapi barusan Teh Tia nelpon lagi. Katanya tekanan darah Ka Riyan turun mendadak, irama jantungnya nggak stabil.”
Ia menarik napas dalam. “Dokter bilang, setelah operasi jantung memang bisa kejadian kayak gini. Tubuh Ka Riyan masih adaptasi sama ring yang dipasang, ditambah efek obat dan kelelahan organ. Makanya sekarang harus dirawat ketat di ICU.”
Bapak mengusap wajahnya kasar. “Astaghfirullah… Riyan…”
Ka Taopik segera melangkah mendekat. “Pak, Sekarang kita langsung ke rumah sakit aja ya, Pak.”
Bapak menoleh cepat, matanya merah. “Iya, Pik… Bapak ikut. Bapak mau lihat Riyan.”
Ka Taopik lalu menoleh ke Ayla. Nada suaranya melunak, namun tetap tegas. “Ay, kamu di sini aja ya. Tolong jagain Ovi sama Diva. Kakang sama Bapak ke rumah sakit.”
Ayla terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya, Ka. Hati-hati.”
Namun belum sempat Ka Taopik melangkah keluar, Ovi sudah berdiri lebih dulu.
“Aku mau ikut!” katanya cepat.
“Iya, aku juga mau ke rumah sakit! Aku mau ketemu Ayah!” Diva ikut bersuara, suaranya bergetar.
Ka Taopik berjongkok di hadapan mereka berdua. Wajahnya lembut, tangannya mengusap kepala Ovi dan Diva bergantian.
“Sayang,” ucapnya pelan, “sekarang Ayah lagi dirawat di ICU. Anak-anak belum boleh masuk.”
“Tapi aku kangen Ayah, Om…” suara Diva mulai serak.
Ka Taopik tersenyum tipis, meski matanya basah. “Ayah juga pasti kangen kalian. Justru karena itu, kalian harus di sini, doain Ayah yang baik-baik. Doa kalian kuat banget.”
Ovi menunduk, menggigit bibirnya. “Beneran Ayah bakal sembuh?”
“Insya Allah,” jawab Ka Taopik mantap. “Ayah kalian orang kuat. Sekarang Om sama Kakek yang ke sana, ya. Nanti Om kabarin lagi.”
Perlahan, Ovi dan Diva mengangguk. Ayla memeluk keduanya erat.
Ka Taopik berdiri, mengenakan helmnya. “Pak, ayo.”
Bapak mengangguk, lalu menatap Ayla dan cucu-cucunya sejenak sebelum melangkah keluar.
Di luar, langit sore Jakarta kian menggelap. Motor Ka Taopik melaju membawa Bapak, kecemasan, dan doa-doa yang kembali dipanjatkan.
Sementara di kontrakan kecil itu, Ayla memeluk Ovi dan Diva lebih erat, berharap malam nanti membawa kabar yang lebih baik dari rumah sakit.
Langit di atas kontrakan perlahan menggelap. Sisa cahaya senja memudar, berganti malam yang turun pelan. Tak lama kemudian, azan magrib berkumandang, menggema dari surau kecil di ujung gang. Suaranya menenangkan, seolah memeluk hati yang sejak tadi dipenuhi cemas.
Ayla mengusap kepala Ovi dan Diva.
“Udah magrib,” ucapnya lembut. “Yuk, kita sholat magrib berjemaah.”
“Iya, Bi,” jawab Ovi.
“Aku juga mau,” sahut Diva pelan.
Mereka pun bergantian mengambil wudhu. Ovi lebih dulu, lalu Diva, dan terakhir Ayla. Setelah itu, sajadah digelar di ruang tengah kontrakan yang sederhana. Ayla berdiri di depan sebagai imam, Ovi dan Diva rapat di belakangnya.
Sholat magrib mereka tunaikan dengan khusyuk. Ayla berusaha menenangkan hatinya, menyerahkan semua rasa takut dan harap pada setiap bacaan yang ia lafalkan.
Usai salam, ketiganya tetap duduk. Tangan mereka terangkat, kepala menunduk.
“Ya Allah…” doa Ayla mengalir lirih. “Engkau Maha Penyembuh. Kami mohon, sembuhkan lah ka Riyan.Angkat sakitnya, kuatkan jantungnya, panjangkan umurnya…”
Ovi ikut berdoa dengan suara polos.
“Ya Allah, sembuhin Ayah aku…”
Diva terisak kecil.
“Tolong Ayah ya Allah… aku kangen…”
Doa itu mengalir apa adanya, penuh kejujuran dan harap. Setelah beberapa saat, Ayla mengakhiri doa dengan lirih, lalu mengusap wajahnya. Ovi dan Diva pun ikut mengusap wajah mereka.
Ayla memeluk kedua keponakannya erat.
“InsyaAllah, doa kita didenger,” ucapnya menenangkan.
Beberapa detik setelah mereka benar-benar selesai berdoa, ponsel Ayla berdering. Nama Teh Bella muncul di layar.
Ayla menarik napas sebentar, lalu mengangkat telepon.
> (“Assalamu’alaikum, Teh.”)
> (“Wa’alaikumussalam,” suara Teh Bella terdengar di seberang. “Ayla, teteh tau Ka Epul kerja di Jakarta dari Ka Taopik.”)