Ponsel itu masih bergetar di tangan Ayla. Nama Ka Epul terpampang jelas di layar, membuat dadanya terasa sesak sekaligus berdebar. Ia menelan ludah, lalu mengangkat panggilan itu dengan tangan sedikit gemetar.
> (“Assalamu’alaikum,” ) ucap Ayla pelan.
> (“Wa’alaikumsalam,” jawab suara di seberang sana. Suara yang tak asing lagi. “Ay… ini Ka Epul. Gimana kabar keluarga di rumah? Pada sehat? Maaf… Kakak baru nelpon.”?)
Ayla menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia duduk lebih tegak, menurunkan volume suaranya agar tak membangunkan yang lain.
> (“Alhamdulillah, Kang,” jawabnya. “Kalau Bapak lagi sakit katarak, tapi alhamdulillah udah diobatin. Ibu sehat. Sekarang aku, Ibu, sama Bapak lagi di Jakarta, ngejenguk Ka Riyan.”)
> (“Ka Riyan?” ) suara Ka Epul terdengar terkejut.
> (“Iya,” lanjut Ayla lirih. “Ka Riyan sakit jantung. Semalem baru selesai operasi pasang ring. Sekarang kondisinya lagi kritis, dirawat di ICU.”)
> (“Ya Allah…”) Ka Epul menghela napas berat.
> (“Semoga Allah kasih kesembuhan buat Ka Riyan .”)
Ayla mengangguk kecil, meski lawan bicaranya tak bisa melihat. Lalu, nada suaranya berubah sedikit lebih serius. Pertanyaan yang sejak tadi mengganjal akhirnya keluar.
>(“Kakang ke mana aja?” ucap Ayla pelan tapi tegas.
“Nomor Kakang udah lama nggak aktif. Teh Bella juga sampai pulang ke kampung dua hari yang lalu nyariin Kakang.”)
Di seberang sana, Ka Epul terdiam cukup lama.
> (“Emang bener ya, Kang,” lanjut Ayla hati-hati, “Kakang udah tiga bulan nggak ngasih nafkah ke Teh Bella?”)
Hening. Beberapa detik terasa begitu panjang.
> (“Iya, Ay…” jawab Ka Epul akhirnya, suaranya rendah. “Kakang minta maaf. Sebenarnya keluarga Kakang lagi ada masalah. Gaji Kakang kecil, ekonomi nggak kecukupan. Teh Bella marah-marah terus… Kakang jadi nggak kuat. Kakang cuma pengen nenangin diri dulu.”)
Ayla memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak, tapi suaranya tetap dijaga lembut.
> (“Oh… gitu ya, Kang,” ucapnya pelan. “Ayla ngerti kalau Kakang lagi capek. Tapi Kakang jangan sampai lupa tanggung jawab.”)
Ka Epul diam.
> (“Teh Bella bilang,” lanjut Ayla dengan nada sopan tapi tegas, “sekarang lagi butuh biaya buat sekolah anak-anak, Kang.”)
> (“Iya, Ay…” suara Ka Epul terdengar menyesal. Kakang tau. Kakang salah.”)
> (“Ayla cuma ngingetin,” kata Ayla lembut. “Bukan buat nyalahin. Kakang boleh capek, boleh punya masalah, tapi keluarga tetap tanggung jawab Kakang.”)
> (“Iya,” jawab Ka Epul lirih. “Makasih udah ngingetin Kakang , Ay.”)
Ayla menarik napas pelan, lalu bertanya lagi,
> (“Sekarang Kakang kerja di mana?”)
> (“Kakang di Jakarta,” jawab Ka Epul. “Kerja proyek rumah. Jadi tukang bangunan.”)
Ayla terdiam sejenak, mencerna jawaban itu.
> (“Yaudah, Kang,” ucapnya akhirnya. “Semoga Kakang dimudahin rezekinya. Tapi tolong… jangan jauhin keluarga lagi, kasih tau teh Bella.")
> (“Iya, Ay. Kakang janji bakal tanggung jawab.”)
Percakapan mereka kembali sunyi. Tidak ada kata-kata manis, tidak juga janji berlebihan hanya kejujuran yang akhirnya terucap.
Setelah panggilan berakhir, Ayla menurunkan ponselnya perlahan. Hatinya terasa berat, tapi juga lega. Setidaknya malam ini, satu pertanyaan terjawab meski jawaban itu tak sepenuhnya menenangkan.
Malam di rumah sakit terasa semakin dingin. Lampu-lampu lorong ICU menyala temaram, memantulkan bayangan langkah perawat yang sesekali melintas dengan wajah serius. Di deretan kursi tunggu, Ibu duduk sambil memeluk tas kecilnya, matanya sembap karena kurang tidur. Bapak duduk di sampingnya, punggung sedikit membungkuk, tasbih tak lepas dari genggaman tangan kanannya. Ka Taopik berdiri tak jauh dari pintu ICU, sesekali mondar-mandir, lalu berhenti membaca papan informasi dengan pandangan kosong.
Sejak tadi, mereka hampir tak banyak bicara. Hanya doa-doa lirih yang terus mengalir, di sela rasa cemas yang tak kunjung reda.
Tak lama kemudian, Teh Tia kembali dari ujung lorong. Di tangannya tergantung dua kantong plastik besar. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap sigap. Ia memang hanya keluar sebentar untuk membeli makan malam.
Ia menghampiri mereka, lalu duduk sambil mengeluarkan empat bungkus nasi Padang dan empat botol air mineral.
“Ibu, Bapak, Taopik… ayo makan dulu. Ini teteh beliin nasi Padang,” ucap Teh Tia lembut.