Detik itu terasa memanjang.
Klakson masih meraung, jarak terasa begitu dekat, dan tubuh Ka Taopik refleks menegang. Tapi Allah masih menjaga. Dengan sisa kesadaran dan refleks yang cepat, ia menarik rem depan dan belakang bersamaan, setang motor diputar sedikit ke kiri. Ban berdecit, motor oleng sesaat, lalu berhenti beberapa senti dari kendaraan di depannya.
Jantungnya berdegup kencang. Napasnya tersengal.
“Astaghfirullah…” lirihnya, nyaris berbisik.
Pengendara di depan sempat memaki singkat sebelum melaju pergi. Ka Taopik tak membalas. Ia hanya memejamkan mata sejenak, mengusap wajahnya dengan tangan gemetar. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Alhamdulillah…” ucapnya lagi, kali ini lebih dalam.
Ia sadar. Kurang tidur, pikiran bercabang ke mana-mana, dan terburu-buru hampir saja merenggut segalanya. Ia menarik napas panjang, menegakkan badan, lalu menyalakan motor kembali.
Kali ini, ia melaju lebih pelan.
Tak ada lagi gas yang ditarik berlebihan. Setiap meter jalan dilewati dengan hati-hati. Pikirannya kini hanya satu: sampai ke kontrakan dengan selamat, bertemu istri dan anaknya.
Suasana kontrakan pagi itu mulai hidup.
Aira duduk di lantai beralaskan tikar tipis, memainkan HP ibunya. Batuknya sudah jauh berkurang, tapi sesekali masih terdengar pelan. Diva duduk di sampingnya sambil membuka buku gambar, sementara Ovi tiduran tengkurap, asyik memainkan ponselnya sendiri.
Teh Neng duduk di kursi plastik, memperhatikan mereka satu per satu dengan mata yang lembut.
Ia lalu menoleh ke Diva dan Ovi.
“Eh… sekolah masih libur ya?” tanyanya sambil mengernyit ringan. “Kok nggak pada sekolah sih?”
Ovi langsung mendongak, wajahnya polos.
“Tante lupa ya?” katanya santai. “Ini kan tanggal merah.”
Teh Neng terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil.
“Oh iya, iya…” katanya sambil menepuk paha. “Tante lupa.”
Diva ikut tersenyum kecil.
Ovi lalu melirik ke Aira. “Terus Aira aja tuh, kan nggak sekolah?” tanyanya penasaran.
Teh Neng menoleh ke Aira yang sedang fokus bermain game di hp.
“Kalau Aira masih izin sakit,” jawabnya lembut. “Kondisinya kan belum stabil, masih batuk.”
“Ohhh…” Ovi mengangguk mengerti, lalu kembali ke mainannya.
Di kamar mandi kecil di belakang, suara air terdengar mengalir. Ayla sedang mencuci piring, lengan bajunya digulung sampai siku. Uap air tipis memenuhi ruangan sempit itu. Meski tubuhnya masih lelah, gerakannya tetap cekatan. Sesekali ia batuk kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya tanpa mengeluh.
Tiba-tiba
Suara motor terdengar dari luar kontrakan. Mesin dimatikan. Bunyi standar diturunkan terdengar jelas.
Teh Neng refleks berdiri.
“Itu siapa ya?” gumamnya.
Ia melangkah keluar. Begitu pintu dibuka, sosok yang berdiri di depan kontrakan membuat napasnya lega seketika.
“Aa…” ucapnya pelan.
Ka Taopik berdiri di sana, helm masih di tangan, wajahnya tampak lelah tapi utuh. Matanya langsung tertuju ke arah Teh Neng, lalu ke dalam rumah, seolah memastikan semuanya baik-baik saja.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Teh Neng cepat. Ada rasa syukur yang tak terucap di sana.
Di balik pintu, Aira yang mendengar suara ayahnya langsung menoleh.
“Ayah?” panggilnya kecil.
Ka Taopik tersenyum, melangkah masuk dengan hati yang akhirnya bisa sedikit tenang. Setelah pagi yang nyaris merenggut segalanya, Allah masih memberinya kesempatan untuk pulang kepada keluarga, kepada rumah kecil yang penuh sederhana, dan kepada hidup yang harus ia jaga lebih hati-hati mulai sekarang.
Ka Taopik melangkah mendekat ke istrinya. Suaranya dibuat lembut, tapi ada nada tergesa yang tak bisa disembunyikan.
“Mah, kita pulang sekarang ya,” katanya pelan. “Soalnya Aa harus langsung berangkat kerja. Waktunya mepet.”
Teh Neng mengangguk tanpa ragu. “Iya, a”
Ia langsung menoleh ke Aira. “Aira, sini sayang. Kita pulang sama Ayah ya.”
Aira berdiri pelan, lalu mendekat ke ibunya “Pulang sekarang, Mah?” tanyanya kecil.
“Iya,” jawab Teh Neng sambil tersenyum. “Biar Aira bisa istirahat.”
Saat itu Ayla keluar dari arah belakang. Tangannya masih sedikit basah, rambutnya digelung sederhana. Setelah memastikan piring-piring sudah rapi, ia langsung menghampiri Ka Taopik.
“Ka…” ucap Ayla pelan. “Gimana kondisi Ka Riyan sekarang?”
Belum sempat Ka Taopik menjawab, Ovi ikut menyela. Ia berdiri dari lantai, menatap Ka Taopik dengan wajah polos tapi penuh cemas.
“Iya, Om. Ayah sekarang gimana kondisinya?” tanya Ovi.
Ka Taopik menunduk sedikit agar sejajar dengan mereka. “Masih di ruang ICU, Ay,” jawabnya jujur. “Kakang belum dipindahin ke ruang rawat. Kita do’ain aja ya, semoga Ka Riyan cepat stabil kondisinya.”
Mendengar itu, wajah Ayla langsung meredup. Dadanya terasa sesak. Ia mengangguk pelan.
“Iya, Kang… aamiin,” ucapnya lirih.
Ovi menunduk, sementara Diva yang sejak tadi diam ikut mendekat ke Ayla. Ekspresi keduanya berubah sendu, seperti ikut menanggung beban yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Suasana kontrakan mendadak hening.
Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Ka Taopik. Ia merogoh saku celananya, membuka layar, lalu membaca pesan yang masuk dari Teh Tia.
Teh Tia:
(Pik, alhamdulillah Ka Riyan udah stabil kondisinya. Tapi masih di ruang ICU, belum bisa dipindahin ke ruang rawat biasa.)
Mata Ka Taopik sedikit membesar. Wajah lelahnya perlahan melunak. Ia langsung mengetik balasan.
Ka Taopik:
(Alhamdulillah kalau udah stabil, Teh. Semoga Ka Riyan cepat sembuh lagi ya. Aamiin.)
Ia menghela napas panjang setelah mengirim pesan itu, lalu menoleh ke Ayla, Teh Neng, dan anak-anak.
“Alhamdulillah,” katanya. “Barusan Teh Tia ngabarin. Kondisi Ka Riyan udah stabil.”
Mata Ayla langsung berkaca-kaca. “Alhamdulillah…” ucapnya dengan suara bergetar.
Ovi mengangkat wajahnya. “Bener, Om?”
“Iya,” jawab Ka Taopik sambil tersenyum kecil.
Diva ikut tersenyum, meski masih terlihat haru. “Semoga ayah cepat sembuh,” katanya pelan.