Bapak sigap menangkap tubuh ibu yang mulai limbung. Tangannya memegang bahu dan punggung istrinya agar tidak jatuh. Teh Tia ikut mendekat, memegangi lengan ibu dengan hati-hati.
“Ibu kenapa?” tanya Teh Tia cemas.
Ibu memejamkan mata, napasnya sedikit terengah. “Nggak tahu, Teh… tiba-tiba kepala ibu pusing banget.”
Teh Tia cepat meraih botol air minum dari tasnya. Tutupnya dibuka, lalu ia mendekatkan botol itu ke bibir ibu.
“Minum dulu ya, Bu. Pelan-pelan.”
Ibu menurut, meneguk beberapa kali. Tangannya masih sedikit gemetar.
“Bu,” ujar Teh Tia lagi, suaranya lembut tapi tegas, “mau sekalian berobat nggak? Mumpung kita lagi di rumah sakit.”
Ibu langsung menggeleng pelan. “Gausah, Teh… ibu nggak apa-apa. Paling cuma kecapean.”
Bapak mengernyit khawatir. “Kalau gitu ibu minum obat dari apotek aja ya. Biar bapak beliin.”
“Iya, Bu,” sahut Teh Tia cepat. “Tia beliin ya.”
Lalu Teh Tia menoleh ke bapak. “Pak, titip ibu dulu ya. Biar Tia aja yang ke apotek beli obat sakit kepala buat ibu.”
Bapak mengangguk penuh terima kasih. “Iya, Teh. Makasih banyak ya.”
“Iya, Pak,” jawab Teh Tia sambil tersenyum tipis.
Tanpa menunggu lama, Teh Tia langsung melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit menuju apotek, meninggalkan ibu dan bapak di bangku tunggu dengan kecemasan yang masih menggantung.
Suasana berpindah ke kontrakan.
Ayla masih duduk bersandar di dinding, ponsel di tangannya terbuka pada aplikasi Shopee. Layar itu seolah menatapnya balik, menampilkan status pesanan yang akan tiba besok.
Ia menghela napas panjang.
“Aduh… gimana ini pesenan Ica sama Teh Rina…” gumamnya pelan.
Jarinya menggulir layar, memastikan sekali lagi bahwa ia tidak salah baca. Tanggalnya tetap sama.
Besok.
Dadanya terasa sedikit sesak.
“Aku baru mulai usaha ini… masa nggak bisa dijalanin dengan baik sih?” batinnya.
“Mana mereka pelanggan pertamaku…”
Ayla menunduk, menatap layar ponsel dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bukan karena uang semata, tapi karena rasa takut mengecewakan. Ia tahu betul betapa sulitnya membangun kepercayaan, apalagi sebagai penjual kecil yang baru merintis.
Di sekelilingnya, Ovi dan Diva masih sibuk dengan buku-buku mereka, sesekali terdengar suara Ovi menjelaskan soal. Dunia mereka berjalan normal, sementara di dalam dada Ayla, gelisah berputar tanpa henti.
Ia menggenggam ponsel lebih erat.
“Ya Allah… tolong aku. Jangan sampai aku bikin orang lain kecewa,” doanya dalam hati.
Di antara rumah sakit yang penuh kecemasan dan kontrakan kecil yang penuh kegelisahan, hidup terus berjalan masing-masing dengan ujiannya sendiri.
Langkah Teh Tia terdengar tergesa di lorong rumah sakit. Di tangannya ada plastik kecil berisi obat-obatan dari apotek. Begitu melihat bapak dan ibu masih duduk di bangku tunggu, ia segera menghampiri.
“Bu, ini obatnya,” ujar Teh Tia sambil menyerahkan kantong kecil itu. “Tapi ibu makan dulu ya. Tia beliin roti juga.”
Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan sebungkus roti. Ibu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“ Makasih banyak ya, Teh. Maaf ibu jadi ngerepotin.”
Teh Tia tersenyum lembut. “Sama sekali nggak repot kok, Bu.”
Ibu pun menerima roti itu. Dengan tangan yang masih sedikit lemah, ia membuka bungkusnya lalu menggigit pelan. Bapak memperhatikannya dengan penuh khawatir, tak berkedip seolah takut terjadi sesuatu.
Setelah roti itu habis, Teh Tia menyerahkan obat dan botol air.
“Nah, sekarang diminum ya, Bu.”
Ibu mengangguk, lalu menelan obat itu perlahan dengan beberapa teguk air. Wajahnya masih pucat, tapi napasnya mulai sedikit lebih teratur.
Beberapa menit berlalu dalam hening. Hanya suara langkah orang-orang dan pengumuman dari pengeras suara yang sesekali terdengar.
Bapak akhirnya memecah keheningan. Ia menoleh ke Teh Tia dengan wajah penuh harap.
“Teh… bapak boleh minta tolong? Bapak pengin lihat Riyan sebentar ke dalam.”
Teh Tia langsung mengangguk. “Bentar ya, Pak. Tia izin dulu ke perawat.”
“Iya, Teh,” jawab bapak pelan.
Teh Tia pun berdiri dan melangkah menuju meja perawat, meninggalkan bapak yang kembali menggenggam tangan ibu erat-erat. Di matanya, tersimpan kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan antara khawatir pada kondisi istrinya dan rindu yang menyesak pada anaknya yang sedang berjuang di balik pintu ruang ICU
Lorong rumah sakit itu kembali terasa panjang dan sunyi, seakan ikut menunggu kabar yang akan segera datang.
Teh Tia kembali dari meja perawat dengan seorang perawat perempuan berseragam putih. Wajah perawat itu ramah, tapi sikapnya tetap profesional.
“Pak,” kata perawat itu dengan suara lembut, “sekarang kondisi pasien sudah sedikit lebih stabil. Bapak boleh masuk sebentar untuk menjenguk, tapi hanya satu orang, ya.”
Bapak langsung berdiri. “Iya, Bu… terima kasih.”
“Tapi sebelumnya Bapak harus pakai baju khusus ICU dulu,” lanjut perawat itu sambil menunjuk ke arah rak kecil berisi baju pelindung berwarna hijau.
“Iya, nggak apa-apa,” jawab bapak tanpa ragu.
Perawat pun mengarahkan bapak ke ruang kecil di samping lorong. Ia membantu bapak mengenakan baju hijau itu, penutup kepala, dan masker. Wajah bapak tampak tegang, tapi di matanya ada harap yang besar.
Sementara itu, ibu dan Teh Tia kembali duduk di bangku tunggu.
“Bu, ibu istirahat ya,” ujar Teh Tia pelan. “Nanti kalau bapak sudah keluar, kita gantian.”
Ibu mengangguk. “Iya, Teh… semoga Riyan baik-baik aja.”
Teh Tia menggenggam tangan ibu, mencoba menguatkannya. Keduanya sama-sama menatap pintu ruang ICU yang tertutup, menunggu dengan doa dan cemas yang tak terucap.
Langit di luar jendela kontrakan mulai berubah warna. Cahaya matahari tidak lagi terik, berganti menjadi semburat hangat menjelang senja. Ayla masih duduk di tempat yang sama, ponselnya di tangan.
Pikirannya masih tertuju pada satu hal:
paket pesanan Ica dan Bu Rina.
“Besok… besok… gimana kalau telat?” gumamnya pelan.
Tiba-tiba lamunannya buyar ketika layar ponselnya menyala. Sebuah panggilan masuk.